LAHIR KITA ANUGERAH

Sabtu, 11 Juli 2015, Juli 11, 2015 WIB Last Updated 2021-08-10T23:14:58Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini
Hanya ada satu kemungkinan di antara tiga ratus ribu miliar kemungkinan yang ada, bahwa manusia yang akhirnya hadir itu adalah anda. Dengan kata lain, tiga ratus ribu miliar “saudara kandung” anda tak lolos seleksi. Yang lolos hanya satu, yaitu anda. Begitulah sebuah fakta ilmiah yang diungkap oleh Dale Carnegie dari sebuah buku klasik, You and Heridity.
Lahir sebagai manusia yang unik. Tak ada satu pun manusia lain di seluruh dunia yang menyamai . Anda hanya satu-satunya yang ada di bumi. Sebuah mahakarya spesial. Masterpiece yang tiada duanya. Tak ada satu pun yang lahirnya, pengalaman hidupnya, serta matinya, sama persis dengan anda.
Tercipta sebagai makhluk yang harganya tak terhingga. Sangat istimewa. Bolehkah kedua mata anda dibeli satu miliar? Boleh kedua pendengaran anda ditukar dengan mobil termahal di dunia? Bolehkah kepala anda dibarter dengan rumah mewah?
Ya, harga anda bukan miliaran, bukan triliunan. Jauh lebih mahal dari mobil termahal. Jauh lebih istimewa dari ruah yang mweah. Harga anda tak ternilai.
Makhluk spesial tentu juga dihargai dengan tugas yang spesial. Makhluk terhormat harus diberi tugas kehormatan. Makhluk berharga harus diberi tanggung jawab berharga. Jika makhluk terhormat diberi tugas dan wewenang yang remeh, tentu hal itu menjadi pelecehan terhadapnya. Makhluk istimewa tapi di beri tugas yang biasa-biasa saja, tentu itu bentuk penghinaan. Orang besar harus diberi tugas besar.
Begitu pun manusia sebagai makhluk yang harganya tak ternilai, tugas yang diberikan oleh Tuhan juga tak terniali. Apa ugasnya? Yakni menjadi khalifah. Menjadi wakil Tuhan di muka bumi.
Sebuah tugas dan tanggung jawab yang sangat terhormat. Sebauh tugas yang memang sangat berat. Tapi inilah konsekuensi menjadi makhluk mulia. Tanda kemuliaaan bukan hany terjaabar dalam bentuk raga yang sempurna. Simbol kehormatan bukan hanya terlihat dari penciptaan akal yang memang istimewa, tapi juga terlihat dari tanggungjawab yang disertakan oleh Tuhan terhadapnya.
Berani menjadi manusia, harus berani mememgang tanggung jawab yang disertakan Tuhan atasnya. Bernai jadi manusia harus bernai mengemban tugas kehormatan yang diamanatkan oleh sang pendipta kepadanya.
Tapi lihatlah perilaku begitu banyak manusia. Mereka melecehkan dirinya degna tertunduk kepada makhluk yang diciptakan lebih rendah darinya. Mereka menjual martabat demi meraih pangkat. Mereka menukar harga dirinya demi meraih limpahan harta. Mereka mengorbandkan kemuliaannya dengan mengisi hidupnya dengan beragam aktivitas yang tak patas dilakukan oleh sesosok makhluk yang mulia.
Saya begitu terinspirasi degna pernyataan dari Emha Ainun Nadjib yang mengatakan bahwa sebenarnya diri kita lebih mahal ketimbang uang, maka jangan kejar uang. Jadikan uang yang mengejar kita. “Saya tidak pernah mencari uang,” kata Cak Nun, “Saya menulis, mungkin saya bikin puisi, mungkin kadang-kadang saya bermain musik, mungkin kadang-kadang saya melakukan apa paun yang diminta masyarakat. Tapi saya tidak akan pernah melakukan apa pun di dunia ini untuk mencari uang. Artinya, UANG HARUS HANYA MENJADI EFEK MORAL DARI SEBUAH PEKERJAAN.”
Jangan pernah meremehkan hasil karya Tuhan dengan pilihan-pilihan hidup kita yang kerdil. Jangan pernah melecehkan mahakarya Tuhan dengan aktivitas-aktivitas kita yan kecil.
Sebuah kedurhakaan yang tak tanggung-tanggung jika kita hanya mengisi hidup dengan beragam kegiatan yang tak layak dikerjaakan oleh sang mahakarya. Tentu sebuah kezaliman yang tak terkira jika kita menjadikan karya yang begitu isitmewa ini hanya numpang lewat dalam sejarah. Lahir, hidup, mati, tanpa meninggalkan warisan berharga. Tanpa menyumbangkan prestasi dan kontribusi yang memberi kemanfaatan bagi sekitarnya.
Mari beristighfar dan menyesali segala salah yang selama ini tak kunjung berhenti kita lakukan, “Tuhan, maaf, kau alirkan nikmat, kami balas dengan maksiat. Sehatnya mata malah dipakai nista. Sehat telinga dipakai dengan yang sia-sia. Bugarnya raga dipakai berbuat hina. Lisan yang bisa bicara dipakai ngomong tak bermakna. Kaki yang kuat dipakai jalan ke tempat yang sesat. Dikasih amanat malah khianat. Dikasih rezeki sombongnya tak henti-henti. Diberi kehormatan tapi angkuhnya bukan main. Tolong, ampuni kami. Jangan sampai kekufuran kami menjadikan-Mu murka dan mencabut segala nikmat dar diri kami. Jangan sampai kami baru sadar setelah seluruh anugerah terenggut dari diri kami. Mohon maaf, Tuhan. Hanya semenit kucoba tutup mata, tutup telinga, lemaskan kaki, bisukan lisan. Betapa tak enaknya. Tak terbayangkan jika nikmat mata, telinga, lisan, raga, Engkau renggut.”
Hidup terlalu singkat dipakai nyantai. Petuah “SANTAI KAYAK PANTAI, SLOW KAYAK PULAU”bukan kalimat para juara. Hidup adalah kompetisi. Ada yang sukses, ada yang gagal. Ada yang naik, ada yang turun. Ada yang mulia, ada yang hina. Kitab Suci pun mewasiatkan FASTABIQUL KHAIRAAT. Berlombalah dalam kebaikan. Saat kita jalan, di lain tempat, orang lain sedang berlari cepat menuju impiannya masing-masing. Segera bangunlah dari tidur panjang. Mumpung jantung masih berdetak, isilah dengan aktivitas produktif. Hidup sekali, berarti, lalu mati.
Adapted from: HIDUP SEKALI, BERARTI, LALU MATI, Ahmad Rifa’i Rif’an
Komentar

Tampilkan

Terkini

Followers

+