PROPOSAL SKRIPSI

Jumat, 18 Desember 2015, Desember 18, 2015 WIB Last Updated 2021-08-10T23:14:26Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini



RELEVANSI NILAI  PEMBELAJARAN TA’LIMUL  MUTA’ALLIM TERHADAP PEMBELAJARAN  KONTEMPORER

Proposal




 

Oleh :

Moh. Shofiyullah
NIRM: 201140960001100717


ABSTRAK
      Moh.Shofiyullah ” Relevansi Nilai Pembelajaran  Ta’limul Muta’allim  Terhadap Pembelajaran  Kontemporer ”
Tesis Program Studi Pendidikan Islam, Program Pascasarjana STAI Al-          Qodiri Jember, 2015
Kata kunci : Pembelajaran Ta’limul Muta’allim ,  Pembelajaran Kontemporer.
      Saat ini pendidikan benar-benar mengalami revolusi, terutama dalam masalah metode pembelajaran. Hal demikian tidak lepas dari meningkatnya riset otak dan ragam penemuan yang didukung sepenuhnya oleh tekhnologi.
Penemuan demi penemuan tentang otak yang objektif  menciptakan penemuan tentang metode pembelajaran yang hingga sekarang terus berkerumun. Apa yang terjadi di Barat, diadopsi oleh negara kita, lantas diakomodasi oleh pendidikan pesantren.
Lantas ada yang diabaikan yaitu metode pembelajaran hasil kreasi orang pesantren itu sendiri yaitu kitab Ta’lim Al-Muta’allim. Seiring membaginya metode pembelajaran membuat penulis tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang apa kelemahan kitab Ta’lim Al-Muta’allim sekaligus kelebihannya serta apa kelebihan dan kelemahan metode pembelajaran kontemporer.
Adapun  tujuan utamanya adalah mencari garis relevansi antara metode pembelajaran dalam kitab Ta’lim Al-Muta’allimdengan metode pembelajaran kontemporer.
Dari deskripsi dalam latar belakang masalah di atas, maka fokus kajiannya adalah : 1)  Bagaimana tipologi pembelajaran dalam kitab Ta’lim Al-Muta’allim dan cara pengembangannya. 2) Bagaimana tipologi pembelajaran kontemporer dan cara pengembangannya. 3) Bagaimana relevansi pembelajaran dalam kitab Ta’lim Al-Muta’allim dalam pembelajaran kontemporer ?
Adapun tujuan penelitian terhadap kajian kitab Ta’lim Al-Muta’allim dan pembelajaran kontemporer ini adalah : 1) Untuk mendiskripsikan tipologi pembelajaran  dalam kitab Ta’lim Al-Muta’allim. 2) Untuk mendiskripsikantipologi pembelajaran kontemporer. 3) Untuk mendiskripsikantentang relevansi pembelajaran kitab Ta’lim Al-Muta’allim  terhadap pembelajaran masa sekarang.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah penelitian kualitatif, Karena penelitian yang digunakan sepenuhnya menekankan pada pengumpulan data pustaka maka penelitian ini disebut penelitian kepustakaan (Library Research) .
Dalam  penelitian ini ada dua jenis sumber data yaitu : 1) Sumber data primer, yaitu kitabTa’lim Al-Muta’allim dan 2)  Sumber data sekunder yaitu sumber data yang  berupa karya ilmiah, majalah, artikel, opini, makalah, maupun internet yang relevan dengan kajian ini.



A.  Latar  Belakang
       Pada saat sekarang pendidikan benar-benar mengalami revolusi, terutama dalam masalah metode pembelajaran. Hal demikian tidak lepas dari meningkatnya riset otak dan ragam penemuan yang didukung sepenuhnya oleh tekhnologi. Penemuan baru tentang kinerja otak secara tidak langsung mempengaruhi metode pembelajaran. Beragamnya metode pembelajaran berangkatnya dari beragamnya asumsi tentang cara kerja otak yang bisa langsung membedah kerja otak, orang hanya bisa berspekulasi tentang otak. Dulu, misalnya, orang Yunani menyamakan otot dengan otak. Semakin dilatih akan semakin kuat. Semakin keras latihannya akan semakin kuat pula daya ingatnya. Karena otot berkorelasi erat dengan usia, maka otak bernasib serupa. Begitu otak sering digunakan, maka energinya, juga semakin berkurang. Ketika umur manusia semakin lanjut, daya otaknya juga menurun.
Ada juga yang berspekulasi bahwa otak itu seperti orang membaca buku. Lembaran pertama akan terus diingat oleh otak sebelum pindah pada lembaran kedua. Lembaran keempat akan terlupa ketika otak membaca lembaran kelima. Begitu seterusnya. Dengan asumsi demikian, waktu terbaik untuk belajar adalah sebelum atau sesaat setelah tidur, karena di saat demikian otak masih blank. Jika sebelum tidur, apa yang dipelajari akan terus melekat karena setelah itu otak tidak menerima materi lain. Apabila belajar setelah tidur, otak dalam keadaan kosong.[1]
Dalampendidikan kontemporer, spekulasi demikian jelas-jelas salah. Otak bekerja dengan caranya sendiri. Dia tidak seperti otot yang akan lelah jika terus menerus bekerja. Kerja saraf otak tidak menghasilkan toksin, jadi terus menerus segar, lain dengan otot yang gampang lelah karena memproduksi toksin.
Otak juga tidak lupa hanya karena menerima materi tambahan. Dalam pendidikan, interkoneksi saraf otak disamakan dengan jumlah atom dalam semesta. Begitu banyak dan hebat sehinggga ribuan kali lebih hebat daripada kinerja komputer. Betapapun banyak materi yang diterima otak, ia tidak akan hilang ataupun lupa. Apa yang disebut lupa, hanyalah istilah untuk hal yang diingat dalam bawah sadar, yang suatu saat bisa digali untuk dimunculkan kembali[2].
Penemuan demi penemuan tentang otak yang objektif ini menciptakan penemuan tentang metode pembelajaran yang hingga sekarang terus berkerumun. Rata-rata produk impor dari Barat. Yang bukan dari Barat hanyalah reproduksi ulang atau meramu dari beragam penemuan yang ada untuk diasimilasikan dengan warna khas pendidikan setempat.
Pendidikan pesantren yang notabene unit dari pendidikan nasional juga terkena dan terimbas. Apa yang terjadi di Barat, diadopsi oleh negara kita, lantas diakomodasi oleh pendidikan pesantren.
Lantas ada yang diabaikan yaitu metode pembelajaran hasil kreasi orang pesantren itu sendiri yaitu kitab Ta’lim Al-Muta’allim. Dalam kitab karya al-Zarnuji ini, metode pembelajaran nyaris dikupas tuntas. Betapapun dikarang lebih dari 8 abad yang lalu, kitab panduan pembelajaran ini terus digunakan oleh pesantren hingga sekarang.
Para kiai sepakat bahwa kitab ini adalah panduan paling sohihuntuk pembelajaran di pesantren. Respon positif dunia pesantren juga diperlihatkan dari ragam cara untuk menggali, mengapresiasi hingga mentransislasi ke dalam bahasa daerah.
Kitab Ta’lim Al-Muta’allim  telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa oleh Bapak Kyai Hamman Nashiruddin, Grabag, Magelang. Di Magelang. Kitab ini juga disadur dalam gubahan nadham dan bahar rajaz menjadi 269 bait oleh Ahmad Zaini Solo. Terjemahan tersebut diterbitkan oleh Menara Kudus, sedangkan saduran yang berbentuk nadhamanditerbitkan oleh Maktabah Nadhamiyah Kubro Surabaya atas nama Matbh’ah Mustafal Babil Halabi Mesir dibawah tashih Ahmad Sa’ad Aliy, Ulama’ Al-Azhar dan Ketua Lajnah Tashih.[3]
Betapapun para kiai sepakat bahwa kitab Ta’lim Al-Muta'allim adalah panduan pembelajaran di pesantren yang sampai sekarang tetap dikaji, namun apresiasinya jauh berkurang. Bahkan dengan ragam penemuan metode pembelajaran- kitab Ta’lim Al-Muta’allimmulai diabaikan seiring semakin intensnya  pesantren mengadaptasikan diri dengan dunia modern dan mengakomodasikan pendidikan Barat yang dinilai lebih logis dan ilmiah.
Ada sebagian kalangan yang berpendapat bahwa kitab Ta’lim Al-Muta’allim kurang valid dan ilmiah sehinggga kurang layak dijadikan pedoman pembelajaran. Pendapat demikian ada benarnya mengingat 21 hadits yang ada dalam kitab tersebut, 20 diantaranya adalah dho’if. Sebagian uraiannya juga bertentangan dengan penemuan mutakhir. Misalnya tentang pemicu lupa. Dalam kitab Ta’lim Al-Muta’allim, lupa disebabkan oleh dahak dan tubuh berminyak akibat banyak makan dan minum. Dalam penemuan terakhir tidaklah demikian. Dahak atau tubuh berminyak sama sekali tidak berhubungan dengan lupa. Bahkan ini yang mengherankan, melihat salib bisa membuat lupa.[4]Hal tersebut adalah satu contoh dari sekian banyak contoh yang bagi sebagian kalangan diklaim sebagai kelemahan kitab Ta’lim Al-Muta’allim yang dikategorikan layak menjadi buku panduan pembelajaran.
Sebagian yang lain justru masih loyal kepada kitab Ta’lim Al-Muta’allim, masih sering kita dengar komentar sebagian orang yang ingin kembali menerapkan isi kitab Ta’lim Al-Muta’allim sepenuhnya ketika menyaksikan fenomena ketidakwajaran perilaku para pelajar. Prof. Abuddin Nata memuji kitab Ta’lim Al- Muta’allim karena nuansa akhlaknya yang begitu kental. Beliau merekomendasikan agar ia dipelajari kembali dan sangat memuji dunia pesantern yang masih konsisten mengkajinya.[5]
Apa yang dikatakan Prof. Abuddin Nata memang tidak berlebihan, pembahasan kitab Ta’lim Al-Muta’allim, betapapun menguraikan tata cara belajar senantiasa berpijak pada etika tasawuf. Bertebaran deskripsi tentang nilai sufistik, ajaran sprituil serta visi eskatologis yang tidak mengurangi arti penting prestasi keilmuan itu sendiri. Ada kesan tipe ideal dalam perspektif kitab Ta’lim Al-Muta’allim adalah pintar dan beradab.
Dialektika fenomenalogis antara layak dan tidak layaknya kitab Ta’lim Al-Muta’allim dijadikan pedoman pembelajaran, seiring membaginya metode pembelajaran mutakhir yang lebih ilmiah, membuat penulis tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang apa kelemahan kitab Ta’lim Al-Muta’allim sekaligus kelebihannya.
Untuk lebih lengkapnya penulis juga berusaha menelisik apa kelebihan dan kelemahan metode pembelajaran kontemporer. Betapapun disebut ilmiah, tentu ia masih punya kekurangan.
Tujuan utamanya adalah mencari garis relevansi antara metode pembelajaran dalam kitab Ta’lim Al-Muta’allim dengan metode pembelajaran kontemporer. Kelebihan kitab Ta’lim Al-Muta’allim bisa dipertahankan untuk kemudian melengkapi apa yang dirasa kurang dalam pembelajaran kontemporer. Sementara kelemahan kitab Ta’lim Al-Muta’allim perlu ditelusuri akar muasal dan dihakimi sesuai dengan konteksnya.
Oleh karena itu, diharapkan masih ada apresiasi terhadap karya klasik yang sangat berharga serta mencegah pengabaian warisan Islam yang dipicu oleh sikap latah terhadap boomingnya hal-hal baru yang lebih gebyar.
B.   Fokus Kajian
Dari deskripsi dalam latar belakang masalah di atas, maka fokus kajiannya sebagai berikut :
  1. Bagaimana tipologi pembelajaran dalam kitab Ta’lim Al-Muta’allim dan cara pengembangannya ?
  2. Bagaimana tipologi pembelajaran kontemporer dan cara pengembangannya?
  3. Bagaimana relevansi pembelajaran dalam kitab Ta’lim Al-Muta’allim dalam pembelajaran kontemporer ?

C.   Tujuan  Penelitian
Adapun tujuan penelitian terhadap kajian kitab Ta’lim Al-Muta’allim dan pembelajaran konteporer ini adalah :
  1. Untuk mendiskripsikan tipologi pembelajaran  dalam kitab Ta’lim Al-Muta’allim.
  2. Untuk mendiskripsikan tipologi pembelajaran kontemporer
  3. Untuk mendiskripsikan tentang relevansi pembelajaran kitab Ta’lim Al-Muta’allim  terhadap pembelajaran masa sekarang.

D.   Manfaat  Penelitian
Sedangkan manfaat dan hasil penelitian  ini diharapkan:
  1. Menjadi Referensi pembelajaran oleh berbagai pihak,baik oleh peserta didik untuk bersikap kritis, kreatif, dan inovatif, juga bagi para pendidik untuk dijadikan rujukan pengambilan kebijakan dalam proses pendidikan.
  2. Mentradisikan penelitian sebagai pengembangan keilmuan/profesionalitas dan memelihara  amal yang bermanfaat bagi penulis kitab Ta’lim Al-Muta’allim, serta menambah pengalaman bagi para pengkajinya.
  3. Dijadikan informasi tambahan dan memperkaya khazanah ilmu pengetahuan dalam dunia pendidikan.
  4. Bagi penulis, dan mahasiswa lainnya di harapkan menjadi bekal ilmu pengetahuan sehingga menjadi salah satu pedoman dalam memberikan bimbingan, pengarahan, dan mendidik.
  5. Sebagai masukan pemikiran yang konstruktif (membangun) bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam al-Qodiri (STAIQOD) Jember.
  6. Selain itu, Rumusan Penelitian ini disusun untuk memenuhi syarat  kelulusan program strata satu (S1) pada Program Studi Pendidikan Agama Islam  (STAI)  Al-Qodiri Jember

E.   Definisi Istilah
Untuk mempermudah dalam memahami isi dan sekaligus menggambarkan ruang lingkup pembahasan dalam skripsi ini, Penulis memandang perlu untuk memberikan batasan pengertian pada beberapa istilah penting dalam judul skripsi tersebut:

1.    Relevansi
Relevansi adalah sesuatu yang mempunyai hubungan atau keterkaitan  dengan sesuatu yang lain.[6]Dalam penelitian ini relevansi diartikan sebagai suatu keterkaitan dari suatu pembelajaran terhadap pembelajaran yang lain.
2.      Nilai Pembelajaran dalam Kitab Ta’lim Al-Muta’allim
Nilai mempunyai makna kadar mutu atau banyak sedikitnya isi. Menurut Prof. Dr. Muhammad Ali Mushafi, nilai adalah kumpulan dari ukuran-ukuran, orientasi dan teladan luhur, yang selaras dengan akidah yang diyakini seseorang dan tidak bertentangan dengan perilaku masyarakat, dimana ukuran-ukuran itu menjadi moral bagi seseorang.[7]
Proses pembelajaran adalah jalannya sebuah aktivitas yang tersistem dan terstruktur untuk mencapai tujuan tertentu.[8] Sedangkan menurut Dr. Oemar Hamalik, pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi (siswa, guru, dan lain-lain) material (buku-buku, papan tulis, dan lain-lain), fasilitas dan perlengkapan (ruangan kelas, perlengkapan audio visual dan komputer) dan prosedur (jadwal, praktik, ujian, dan sebagainya) yang saling mempengaruhi tujuan pembelajaran.[9]Suatu sistem pembelajaran memiliki tiga ciri utama, yaitu memiliki rencana khusus, saling ketergantungan antara unsur-unsurnya , dan tujuan hendak dicapai.
Dalam kamus bahasa Arab-Indonesia, ta’lim memiliki makna pengajaran sedangkan al-mutaallim memiliki makna terpelajar atau sarjana..[10]
Namun yang di maksud oleh penulis di sini adalah kitab Ta’lim Al-Muta’allimyang disusun oleh ulama pakar pendidikan Islam yang bernama Syekh Ibrahim bin Ismail Al-Zarnuji. Dalam kitab tersebut, Al Zarnuji memaparkan tentang  proses pembelajaran yang sarat dengan nilai-nilai etik dan estetik.
3.      Kontemporer
Kontemporer dalam kamus ilmiah populer bermakna, termasuk waktu ini (itu juga)/pada masa kini.[11]Ahmad  Maulana berpendapat bahwa kontemporer adalah Sezaman semasa, orang yang seangkatan, pada masa kini, dewasa ini.[12]
Jadi, dapat dipahami bahwa skripsi ini bertujuan untuk memaparkan keterkaitan antara pembelajaran yang terdapat dalam kitab Ta’lim Al-Muta’allimdengan pembelajaran yang digunakan di masa kini.
F,  MetodePenelitian
  1. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah penelitian kualitatif, yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa pengertian tertulis yang diamati. Karena penelitian yang digunakan sepenuhnya menekankan pada pengumpulan data pustaka maka penelitian ini disebut penelitian kepustakaan (Library Research) .

  1. Sumber Data
Dalam penelitian, yang dimaksud dengan sumber data adalah dari mana data-data itu diperoleh.[13] Dalam  penelitian ini ada dua jenis sumber data yaitu :
a.       Sumber data primer, yaitu kitabTa’lim Al-Muta’allim yang terdiri dari : (1) Terjemah Ta’lim Al-Muta’allim oleh Drs. Aly As’ad, terbitan Menara Kudus Yogyakarta, (2) Pedoman Pelajar dan Santri (Terjemah Ta’lim Al-Muta’allim) oleh Noor Aufa Shiddiq terbitan Al-Hidayah Surabaya (3) Pendidikan Islam di Indonesia karya Abdurrahman Assegaf. Sedangkan sumber data primer dari pembahasan pembelajaran kontemporer terdiri dari : (1) Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi karya Martinis Yamin, (2) Active Learning karya Hisyam Zaini(3) Pembelajaran Kontekstual karya Eli Rosalin.
b.      Sumber data sekunder yaitu sumber data yang  berupa karya ilmiah, majalah, artikel, opini, makalah, maupun internet yang relevan dengan kajian ini tentunya sebagai pendukung argumen yang akan dipaparkan oleh penulis.
3.   Teknik Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data, ditempuh langkah-langkah melalui riset kepustakaan, yaitu suatu riset kepustakaan atau penelitian murni yang menggunakan metode pengumpulan data dengan bentuk dokumentasi, yaitu mencari data mengenai hal-hal yang diteliti melalui sumber-sumber tertulis yang telah dipublikasikan dan berkaitan dengan nilai pembelajaran dalam kitab ta’li al-muta’allim dan pembelajaran kontemporer.
  1.  Analisis Data
Adapun metode yang digunakan dalam  menganalisis data  adalah :
a.    Metode Deskriptif
Sanapiah Ibnu Hajar mendefinisikan metode deskriptif adalah memberikan gambaran yang jelas dan akurat tentang material atau fenomena yang diselidiki.[14] Metode ini digunakan untuk mendeskripsikan dan sekaligus menganalisis pemikiran-pemikiran al-Zarnuji tentang nilai pembelajaran yang ada saat ini.
b.   Metode Content Analysis
Menurut Suharsimi Arikunto, metode content analysis (analisis data) adalah menganalisis isi buku yang nantinya akan menghasilkan suatu kesimpulan tentang kecenderungan isi buku dan lain sebagainya.[15]
c.    Metode Historis
Metode historis adalah prosedur-prosedur pemecahan masalah dengan menggunakandata atau informasi masa lalu, yang bernilai sebagai peninggalan. Dengan metode ini dapat diungkapkan kejadian atau keadaan sesuatu yang berlangsung di masa lalu, terlepas dari keadaan sesuatu itu pada masa sekarang. Dalam hal ini, akan diungkapkan pemikiran al-Zarnuji ditinjau dari segi sejarahnya sesuai dengan realita atau tidak.
d.    Metode Deduktif –Induktif
Dalam penelitianini, untuk menghasilkan ilmu pengetahuan ilmiah, peneliti menggunakan metode deduktif-induktif. Metode deduktif, ialah metode berfikir yang berangkat dari pengetahuan yang bersifat umum, untuk menilai suatu kejadian yang khusus[16]
Metode induktif, ialah metode berfikir yang bertolak pada data-data yang bersifat khusus terlebih dahulu, selanjutnya dipakai untuk memberikan kesimpulan yang bersifat umum.[17]
G.    Sistematika Pembahasan 
Mengawali kajian terhadap relevansi nilai pembelajaran dalam konsep pendidikan al-Zarnuji dalam kitabnya Ta’lim Al-Muta’allim Thariq At-Ta’allum yang biasa disebut Ta’lim Al-Muta’allim dengan pembelajaran kontemporer akan diungkapkan latar belakang masalah, fokus kajian, tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian, serta sistematika pembahasan. semuanya terdiri dalam Bab pertama.
Bab Kedua berisi  tentang penelitian  terdahulu dan kajian  teori yang mencakup teori pembelajaran dalam  kitab Ta’lim Al Muta’allim  dan pembelajaran kontemporer
Bab Ketiga menjelaskan tentang tipologi pembelajaran dalam kitab Ta’lim Al-Muta’allim meliputiriwayat hidup Al-Zarnuji berikut deskripsi karyanya, situasi keilmuan yang ikut mempengaruhi pandangan-pandangannya yang tertuang pada kitab Ta’lim Al-Muta’allim, pemikiran pendidikan Al-Zarnuji, dan aspek-aspek potesi diri yang terdapat dalam kitab Ta’lim Al-Muta’allim dan metode pengembangannya dan tipoloi pembelajaran kontemporer yang mencakup pembahasan tentang pembelajaran berbasis kompotensi, pembelajaran aktif serta pembelajaran kontekstual .
Bab Keempat, berisi tentang penerapan nilai pembelajaran dalam kitan Ta’lim Al-Muta’allim dalam pendidikan saat ini, yang meliputi kelebihan dan kelemahan kitab Ta’limAl-Muta’allim, juga kelebihan dan kelemahan pembelajaran kontemporer.
Bab Kelima, penutup sebagai akhir dari penelitian ini, yang berisi kesimpulan dan saran-saran.




[1] Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), h.65.
[2] Anita E. Woofolk dan Lorrance McCure-Nicolich, Mengembangkan Kepribadian dan Kecerdasan (Psikologi Pembelajaran I),  (Jakarta; Inisiasi Pers, 2004), h. 277.
[3]Al-Zarnuji, Bimbingan Bagi Penuntut Ilmu Pengetahuan, terj. Aliy As’ad (Kudus: Menara, 1978), h. I.
[4] Ibid, h. 82.
[5] Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan; Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2003), h. 104.
[6] Plus A. Partanto dan M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola, 2001), h. 666.
[7] Muhammad Ali Mushafi, Mendidik Anak agar Cerdas dan Berbakti, ter. Muhtadi Kadi dan Muhammad Misbah (Solo: Ziyad Visi Media, 2009), h.  96.
[8] Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), h. 11.
[9] Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 57.
[10] AW. Munawwir, Al-Munawwir:Kamus Arab-Indonesia Terlengkap (Surabaya: Pustaka Progresif, ,1997), h .966-967.
[11] Plus A. Partanto dan M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmiah Populer,,  h. 367
       [12]  Ahmad Maulana, kKamus  Ilmiah Popoler lengakap,(Yogyakarta: Absolut,2008), h. 243.
[13] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta,; Rineka Cipta, 2002) , h.  207.
[14] Ibnu hajar, Dasar-Dasar Metodologi Kualitatif dalam Pendidikan (Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1999), hal.5
[15] Sutrisno Hadi, Metodologi Riset, (Jogjakarta; Andi, 2004), hal. 47.
[16] Sutrisno Hadi, Metodologi Riset..., h. 47.
       [17]Ibid, h. 47.
Komentar

Tampilkan

Terkini

Followers

+