KEPEMIMPINAN KH ACH MUZAKKI SYAH

Sabtu, 16 Juli 2016, Juli 16, 2016 WIB Last Updated 2021-08-10T23:14:03Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini
KEPEMIMPINAN KH ACH. MUZAKKI SYAH
Penyunting: Fikri Farikhin,M.Pd.I
A.  Sejarah berdirinya Al-Qodiri
Pada tahun 1973, KH Ach. Muzakki Syah setelah Uzlah di gua Payudan Madura, ia kembali ke keluarganya di Gebang Poreng Kabupaten Jember Jawa Timur.
Selama hampir dua bulan KH Ach. Muzakki Syah mengamati perkembangan kondisi sosial-keagamaan masyarakat Gebang Poreng. Kondisi waktu itu masih sama dengan dua tahun sebelumnya, banyak pencurian, perampokan, judi dan berbagai bentuk tindakan asosial lainnya. Waktu itu, hanya ada sebuah surau kecil di pojok dusun yang mengajarkan agama sejati (agama eling) dibawah bimbingan bapak Astumi.
Realitas masyarakat yang memprihatinkan tersebut, mendorong KH Ach. Muzakki Syah mendirikan sebuah surau sederhana yang terbuat dari Gedek-Bambu yang dianyam untuk dinding. Sejak itu, ia mulai istiqamah memimpin sholat lima waktu berjamaah dengan keluarga dan tetangga dekatnya.
Di samping itu, KH Ach Muzakki Syah setiap malam setelah shalat Maghrib mengajar anak-anak membaca Al-Qur'an. Setiap selesai shalat Isya' dilanjutkan dengan membaca Dzikir Manaqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani. Kemudian setiap shalat Subuh mengkaji tafsir Surat Yasin.
Semakin hari, masyarakat yang berjamaah di surau tersebut bertambah, bahkan ada dua orang santri yang menetap di surau itu. Sebagai muadzzin yang kemudian dibuatkan pondok untuk menginap mereka.
Dalam pandangan KH Ach. Muzakki Syah, esensi dari sebuah surau atau masjid bukan bangunan fisiknya, melainkan efektifitas fungsinya sebagai pusat peribadatan dan dakwah Islam, pusat aktifitas agama, pusat pembinaan ummat, pusat pengokoh ukhuwah Islamiyyah, sarana perjuangan, pusat Syi'ar, ta'lim, ta'dzib, dan tarbiyah, pusat pertemuan serta pusat kegiatan sosial.
Menurut keterangan K.Ridlwan, sejak berdirinya surau itu, nuansa sosial-keagamaan di Gebang Poreng sedikit demi sedikit mulai mengalami kemajuan, gema adzan dan dzikir puji-pujian mulai terdengar di setiap waktu menjelang shalat lima waktu.
Sekitar tahun 1976, KH Ach. Muzakki Syah bertemu dengan Ustad Abdullah Jailani (meninggal tahun 2011), sahabat karibnya semasa di pesantren Al-Fattah Jember. Sejak pertemuannya dengan Ustad Abdullah Jailani yang pandai membaca kitab kuning itu, keinginannya untuk mendirikan Pondok Pesantren semakin mantap, kemudian Ustad Abdullah Jailani diajak tinggal bersamanya di Gebang Poreng untuk bersama-sama membangun dan membesarkan pesantren yang hendak dibangunnya.
Beberapa hari setelah Ustad Ustad Abdullah Jailani menyetujui ajakan KH Ach. Muzakki Syah, pada tanggal 19 Rabi'us Tsani 1397 H., betepatan dengan tanggal 16 Mei 1976 M, berdirilah sebuah bangunan pesantren di atas tanah seluas 5000 meter persegi, kemudian diberi nama pesantren Al-Qodiri.
Pemberian nama Al-Qodiri menurut Ustad Abdullah Jailani, berdasarkan pada beberapa hal; pertama didasarkan pada Asma Allah "Al-Qoodir" yang berarti dzat yang maha kuasa diatas segala-galanya. Penggunaan nama Al-Qoodir dimaksudkan agar Allah melimpahkan segala kuasa-Nya pada pesantren ini.
Kedua, nama Al-Qodiri disandarkan pada nama besar Syaikh Abdul Qodir Jailani. Dengan maksud agar lembaga yang dibangun mendapat barakah Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani.
Ketika KH Ach. Muzakki Syah masih dalam kandungan ibunya, KH Syaha, ayahnya selalu istiqomah dzikir manaqib Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani. Dan sejak duduk di bangku kelas dua sekolah dasar, KH Ach. Muzakky Syah sejak kecil, sudah mengamalkan dzikir manaqib Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani.
Ketiga, nama Al-Qodiri tersebut didasarkan pada petunjuk yang diterima setelah melakukan shalat istikharah. Menurut cerita H. nurul Yaqin, di tahun 1974, setelah selesai shalat ashar KH Ach. Muzakki Syah memangggil pusaka yang ikut berjamaaah di suraunya. Ia meminta pusakah untuk memijatnya. Ia meminta pusakah untuk memijatnya, ia mengatakan pasa pusakah “perhatikan ya, saya nanti akan mendirikan pesantren dengan ribuan santri putra dan putrid dari berbagai tempat, pesantren tersebut akan saya beri nama Al-Qodiri.”
Penggunaan nama Al-Qodiri selain berdasarkan deskripsi di atas, nama tersebut juga merujuk pada makna “lailatul Qodar”. Keyakinan ini tentunya merujuk pada suatu pemahaman yang digali dari makna Al-Qodar sesuai penjelasan dalam Al-Qur’an, yakni:
1.    Malam penetapan Allah atas perjalanan hidup manusia kedepan, hal tersebut didasarkan pada, QS. Al-Dukhaan: 3,4, dan 5:
Sesungguhnya Kami (Allah) Menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang member peringatan (3). Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah (4). (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya kami adalah yang mengutus rasul-rasul (5).
2.    Al-Qodar berarti malam kemuliaan, karena selain terpilih sebagai malam turunnya Al-Qur’an, pendapat ini merujuk pada firman Allah, dalam QS. Al-An’aam: 91:
Dan mereka tidak menghormati Allah degnan penghormatan yang semestinya, dikala mereka: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia.” Katakanlah: “Allah tidak menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak  kamu tidak mengetahuinya”. Katakanlah: “Allah lah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al-Qur’an kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.
3.    Al-Qodr bermakna “sempit”, maksudnya malam tersebut menjadi sempit, karena banyaknya para malaikat yang turun ke bumi sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Qodr: 4.
“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
Hal serupa dapat juga dilihat pada QS. Ar-Ra’d:26.
“Allah meluaskan rizki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (disbanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenagnan (yang sedikit).
Hingga saat ini, setiap bulan puasa di pesantren Al-Qodiri, KH Ach. Muzakki Syah mengajak seluruh santri (putra dan putri) untuk tidak tidur malam sebulan penuh untuk melakukan shalat malam dan I’tikaf agar memperoleh keistimewaan Lailatul Qodar dengan harapan mendapat barakah dan karamah yang “masaqih” sebagaimana yang dikatakan KH Syaha ketika KH Ach. Muzakki Syah masih anak-anak.
Kaitannya dalam hal ini, nama Al-Qodiri dimaksudkan:
a.    Agar Allah SWT melimpahkan karunia berkah bagi lembaga ini. Sehingga, sekian harapan dan keinginan para santri dan jamaah dapat diwujudkan dengtan mudah, termasuk kebutuhan hajat hidup mereka, yakni kebahagiaan dunia dan akhirat.
b.    Agar pesantren tersebut mendapatkan berkah dan ridho dari Allah SWT. Sehingga lembaga ini mampu menciptakan generasi yang meberikan manfaat besar bagai masyarakat, agama, bangsa dan Negara.
c.    Agar pesantren tersebut diberi kemuliaan, karunia dan rahmat. Sehingga institusi pesantren ini berdiri kokoh bak menara menjulang tinggi yang sulit dirobohkan atau dihancurkan oleh apapun. Serta pesantren ini diharapkan mampu melakukan transformasi sosial secara terus-menerus.
Sebagai orang yang meiliki kemampuan dalam mempridiksi trand masa depan, KH Ach. Muzakki Syah memilih pesantren sebagai titi9k toal k perjuannya. Keputusan ini, merupakan langkap taktis dan strategis, kerena pesantrren dalam sejarahnya terbukti telah memapu memberikan andil besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. KH Ach. Muzakki Syah meyakiini bahwa dunia pesantren meruapkan dunia yang mwewarisi nilai tradisi islam yang banyak dikembangankan para ulama terdahulu sampai akhirnya berkaembang dari masa kemasa. Oleh karena itu, tidak sulit bagi pesantren melakukan adjustment dan readjustment terhadap berbagai perubahan yang terjadi.
Di awal berdirinya, sekitar tahun 1976 pesantren Al-Qodiri telah mampu menampung santri sejumlah 9 orang, semuanya berasal dari desa Paleran kecamatan Puger Kabupaten Jember. Namun beberapa tahun kemudian, seiring dengan tingkat kepercayaan masyarakat yang semakin tertanam kuat terhadapa performa pesantren Al-Qodiri, akhirnya jumlah santri semakin bertambah.
Berdasarkan keterangan KH ma’ruf, pesantren Al-Qodiri mengalami perkembangan pesat pada tahun 1984, dengan jumlah santri yang begitu banyak, ditambah lagi semakin besarnya jumlah jamaah manqib Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani, serta semakin meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap KH Ach. Muzakki Syah. Kepercayaan masyarakat ini kemudian terealisir dalam bentuk undangan pengajiak akbar dengan menghadirkan beliau sebagai penceramah agama, hal ini berlaku hamper diberbagai daerah di Jawa Timur dan luar jawa timur.
Selanjutnya perkembangan ini mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, akhirnya pesantren Al-Qodiri mendapatkan tempat di hati masyarakat. Sehingga, santri di pesantren Al-Qodiri semakin meningkat. Pada tahun 1985 jumlah santri putra dan putrid sudah mencapai 900 orang. Ini bukan jumlah yang sedikit dibandingkan dengan pesantren-pesantren lain yang ada di Jember pada waktu itu. Seiring degnan meningkatnya jumlah santri, sara yang tersedia sudah tidak mampu untuk m3enampun para santri yang bedatangan dari bebvagai daerah. Maka, sejak tahun 1986 pesantren Al-Qodiri pindah ke lokasi yang lebih luasa yang memunkinkan untuk pengembangan pesantren.
Kepercayaan mayarakat terhadapa pesantren Al-Qodiri , karena adanya beberapa factor. Antara lain, faktor utamanya adalah kemahsyuran, ketokohan KH.Ach. Muzakky syah. Disini lain, karena alas an berikut :
Pertama, keberadaan pesantren al-qodiri yang memberikan manfaat besar bagi masyarakat sekitarnya. Sehingga masyarakat menggambarkan pesantren Al-qodiri laksana pohon yang baik, akarnya kokoh dan rantingnya menjulang ke langit, pohon itu selalu member buah setiap musim dengan idzin allah SWT.
Kedua, pesantren Al-Qodiri memiliki prinsip panca jiwa (Asalul khomsah) yakni berupa keiklasan, kesederhanaan, kemandirian,ukuwah islamiyah dan kebebasan. Semua ini, betul – betul di terapkan secara paten oleh santri dan masyarakat, sehingga menjadikan  pesantren ini terus menjadi oase dalamsetiap perubahan.
Ketiga, adanya relasi lintas sektoral antara kiai dengan santri, artinya relasi itu sekedar bersifat fisikal, tetapi juga batiniyah. Bagi santri, eksitensi KH. Ach. Muzakky syah bukan saja sebagai guru ta’lim, tetapi juga guru ta’dzib dan guru tarbiyah yang tidak sekedar menyampaikan ajaran – ajaran islam, namun juga menyalakan semangat keislaman dalam setiap jiwa santri dan bahkan mendampingi santri dalam mendekatkan diri kepada allah (taqarrub ilallah).
Seiring dengan perkembangan jamaah manaqib  lain yang berhubungan dekat dengan pesantren al-Qodiri, akhirnya  juga mendirikan lembaga pendidikan sosial keagamaan baik yang berupa pesantren, sekolah maupun surau dan diberi nama al-Qodiri.

Komentar

Tampilkan

Terkini

Followers

+