MENJADI GURU YANG BAIK

Senin, 18 Juli 2016, Juli 18, 2016 WIB Last Updated 2021-08-10T23:14:02Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini
MENJADI GURU YANG BAIK

OLEH : Fikri Farikhin,M.Pd.I

PEMBUKAAN BUKU SEDERHANA INI
Hidup manusia memang unik. Masing-masing orang memiliki khazanah hidup yang dipengaruhi dan dibentuk oleh banyak faktor. Ada faktor orang tua, teman dekat, keluarga, lingkungan, buku, atau guru. Besar kecilnya faktor-faktor tersebut memang tidak sama pada setiap orang. Akan tetapi, satu hal yang jelas, karakteristik dan jalan hidup manusia merupakan jalinan yang saling berkelindan dari beragam faktor tersebut. Hal inilah, yang menjadikan setiap orang memiliki khazananh dan pengalaman hidup yang tidak sama.
Kalau kita mau menyimak dan merefleksikan pengalaman perjalanan hidup kita, maka kita akan menemukan ada bahyak guru yang, sedikit atau banyak, telah menorehkan banyak kenangan, pengalaman, dan juga –mungkin- perubahan dalam hidup kita. Tentu saja tidak semua guru memiliki peranan semacam itu. Hanya guru-guru tertentu saja yang jumlahnya tidak banyak.
Mengapa hanya sedikit guru yang meninggalkan kenangan dan memengaruhi terhadap jalan hidup kita? Tentu tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini, sebab setiap orang memiliki alasan sendiri-sendiri. Akan tetapi, justru hal inilah yang menjadi tema utama buku ini. Buku akan mengeksplorasi bagaimana seorang guru mampu mengubah jalan hidup para siswanya. Guru semacm inilah yang disebut sebagai “Inspiring Teacher”
Terminologi “Inspiring Teacher” sendiri memang belum banyak dikenal. Istilah ini diperkenalkan secara luas oleh Dr. Rhenald Khasali di pertengahan tahun 2007 dalam salah satu tulisannya di Harian Kompas. “Inspiring Teacher”, tentu tidak lahir begitu saja. Banyak guru yang tidak menyadari bahwa dirinya telah memberikan inspirasi yang begitu bermakna dalam kehidupan para siswanya. Sebaliknya, sebagian besar guru kita belum menjadiguru yang inspiratif. Mereka sebenarnya mampu dan bisa menjadi sosok yang inspiratif, hanya mungkin saja kesadarannya belum menggerakkan dirinya untuk memancarkan energi dan cahaya perubahan bagai para siswanya. Kehadiran buku ini diharapakan dapat memantik spirit para guru untuk menjadi sososk yang inspiratif, sehingga mampu mengubah kehidupan para siswanya menuju kehidupan yang bermakna dan lebih berkualitas (Ngainun Najib: 2009)
Buku ini sebenarnya hanya kutipan dari tokoh-tokoh terkenal dan juga kutipan dari orang-orang sekitar, yang telah mengispirasi penulis. Dan akhirnya, penulis tergerak untuk menjadikan ini menjadi sebuah buku kecil yang sekarang ada dihadapan pembaca. Buku ini adalah buku pertama yang masih sangat jauh dari kata sempurna. Insyaallah untuk edisi selanjutnya akan penulis jelaskan terkait kutipan kata-kata inspirasi dari tokoh-tokoh tersebut.
Terakhir, semoga buku kecil ini dapat memberikan manfaat untuk penulis khususnya, dan pada pembaca sekalian umumnya. Dan semoga dapat menjadi amal yang diterima disisi Allah. Amiiin.

“TERSENYUMLAH”
(Fikri( Farikhin)

Para guru yang budiman, atau calon guru yang ingin nantinya ingin menjadi guru yang baik, Saya yakin seyakin yakinnya, pasti kita semua sadar bahwa murid-murid yang pergi ke sekolah adalah untuk mendapatkan sesuatu yang baru dalam hidupnya dan akhirnya mereka bisa mengarungi bahtera hidup yang sangat luas ini dengan baik.Dari rumah mereka, dari kost mereka (buat mereka yang tinggal di kost) dan dari kamar mereka atau wilayah mereka (bagi mereka yang tinggal di pesantren) dengan tujuan menjadikan hati mereka lebih indah, namun yang di dapat adalah sebaliknya. Di sekolah mereka bukannya mendapatkan sesuatu yang baru sama sekali, malah mendapatkan cacian, cemoohan, hukuman dari para gurunya.
Murid itu lelah, mereka harus dijejali berbagai materi dari pagi hingga siang hari, bahkan ada yang hingga sore hari. Efek dari pembelajaran yang relatif sangat lama tersebut adalah lelah, stress dan lain-lain.
Disisi lain, guru sebagai pentransfer ilmu, terkadang atau bahkanacapkali lupa pada kondisi murid-murid. Guru hanya berfikir, pokoknya semua materi ini harus diserap oleh mereka.Sebenarnya, sadarkah mereka yang menjadi guru, apakah sebenarnya tugas menjadi guru.
Saya mau bertanya dulu pada anda, apakah dengan menjadikan mereka paham semua materi dan mereka bisa mengerjakan tugas dari anda, lantas anda menjadi guru yang hebat?Apakah benar itulah tugas seorang guru?

Menurut saya, tugas menjadi seorang pendidik atau dengan istilah Guru itu adalah dengan tujuan menjadikan para peserta didik atau murid itu marasa enjoy (menikmati) suasana belajar di sekolah, senang dengan kegiatan yang diajarkan oleh gurunya disekolah, dan akhirnya mereka rindu untuk bertemu dengan gurunya. Saya kira itu cukup. Kita tahu bahwa sekarang banyak para siswa yang malas untuk pergi kesekolah, sekolah menjadi momok buat mereka. Dari rumah, mereka sudah bisa memprediksikan bahwa nanti disana akan bertemu dengan guru-guru yang akan menghukumnya, menghinanya, mengatakan ini dan itu sehingga harga diri murid tersebut direndahkan, dan lain-lain.
Ingat, murid pergi kesekolah itu ingin mencari kesenangan, bukan mencari kesedihan. Oleh karena itu senyumlah pada murid-murid anda bagaimanapun keadaannya. Kendati anda mempunyai beban yang sangat berat dirumah. Jangan membawa kesedihan itu kesekolah.
Semoga kita semua bisa menjadi guru yang diidolakan.aminn.

“JADILAH TELADAN BUAT MURID”
(Fikri Farikhin)

Di era kekinian, banyak guru dan mengaku sebagai guru, dan bangga dikatakan sebagai guru, namun kelakuannya, hampir mirip seperti orang yang tidak pernah mengenyam bangku pendidikan. Anda tidak perlu bertanya, ah masak ia, atau, anda dapat informasi ini dari mana? Dll, yang jelas, jawabannya adalah dari beberapa tempat yang saya temui. Buat apa saya mengada-ada, toh apa juga untungnya buat saya. Ya kan. Yang ingin saya jelaskan disini adalah, jangan sampai anda seperti mereka. Jadilah guru yang benar-benar guru. Bukan guru abal-abal / guru yang gak berkualitas.
Imam Al-Ghazali, dalam kitabnya “bidayatul hidayah”, mengatakan :
Apabila engkau menjadi seorang yang berilmu, atau guru, engkau harus memperhatikan sopan santun dibawah ini:
1.       Bertanggung jawab.
2.       Sabar.
3.       Duduk tenang penuh wibawa
4.       Tidak sombong terhadap semua orang, kecuali kepada orang yang dzalim dengan tujuan untuk menghentikan kedzalimannya.
5.       Mengutamakan bersikap tawadlu’ di majlis-majlis pertemuan.
6.       Tidak suka bergurau atau bercanda.
7.       Ramah terhadap para pelajar (murid).
8.       Teliti dan setia mengawasi anak yang nakal.
9.       Setia membimbing anak yang bebal.
10.  Tidak gampang marah kepada murid yang bebal atau lambat pemikirannya.
11.  Tidak malu berkata : saya tidak tahu, ketika ditanyai persoalan yang memang belum ditekuninya.
12.  Memperhatikan murid yang bertanya dan berusaha menjawabnya dengan baik.
13.  Menerima alasan yang diajukan kepadanya.
14.  Tunduk kepada kebenaran.
15.  Melarang murid yang mempelajari ilmu yang membahayakan.
16.  Memperingatkan murid mempelajari ilmu agama tetapi untuk kepentingan selain allah.
17.  Memperingatkan murid agar tidak sibuk mempelajari ilmu fardlu kifayah sebelum selesai mempelajari ilmu fardlu ‘ain.
18.  Memperbaiki ketaqwaannya kepada allah dzahir dan batin.
19.  Mempraktikkan makna taqwa dalam kehidupan sehari-harinya sebelum memerintahkan kepada murid agar para murid meniru perbuatannya dan mengambil manfaat ucapan-ucapannya.
Dari semua yang telah dituliskan oleh Imam Al-Ghazali, kiranya cukup untuk pegangan para guru agar benar-benar dia layak disebut guru. Bukan hanya guru abal-abal.
Semoga kita semua dapat mengamalkannya dan dapat menjadi guru teladan. Aminnnn.

KARENA SAYA MAU MENDOAKAN MURID-MURID SAYA
(Mr Kalend O.)

Mr Kalend O, adalah pendiri sekaligus direktur BEC, basic english course, pare kediri. Suatu hari pernah beliau cerita ketika saya awal memasuki program mastering system di BEC. Beliau bercerita begini:
“Dulu ada beberapa guru yang datang ke BEC, lalu bertanya tentang BEC, tentang  tahun berdirinya BEC, hingga materi yang diajarkan di BEC. Lalu ada salah satu guru yang bertanya, “ aneh ya, kok bisa ya, BEC itu materinya hanya seperti ini, tapi kenapa para lulusan BEC ini bisa menjadi siswa-siswi yang pandai dan memang kepandaiannya diakui dimana-mana?”
“lalu saya jawab, karena saya mau mendoakan murid saya”.
Dari sini bisa kita ambil sebuah mutiara hikmah, bahwasannya kita sebagai seorang guru sudah seharusnya mau mendoakan murid kita. Memang kita tiap hari harus mengajarkan ilmu dan memahamkan sebanyak ilmu yang kita punya. Namun kita juga harus ingat bahwa ilmu itu bukan milik kita. Semua ilmu itu milik Allah. Jika Allah sudah tidak mau memberikan ilmunya pada murid kita, apakah mungkin kita dengan susah payah mengajarkan ilmu pada meraka dan akhirnya mereka paham. Tentu jawabannya adalah tidak. Dan meski kita ngajarnya biasa saja. Namun jika Allah telah membukakan ilmu kepada murid-murid kita, apakah mungkin murid-murid kita menjadi paham? Jawabannya adalah sangatlah mungkin murid kita menjadi paham. Sebab Allah telah membukakan ilmunya pada murid kita.
Oleh kerena itu marilah kita selalu mendoakan murid-murid kita agar mereka mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan barakah. Aminn.

“JANGLAH MEMBAWA MASALAH PRIBADIMU DI KELAS”
(Fikri Farikhin)

Kita semua pasti punya masalah, baik kecil maupun besar. Dari tingkat RT hingga tingkat Presiden sekalipun, tak ada orang yang tak punya masalah. Suatu hari guru saya, murobbi ruhina KH Ach. Muzakki Syah, pengasuh pondok pesantren Al-Qodiri Jember, pernah dawuh pada salah satu santrinya. Ketika itu sang santri matur ke Kiai Muzakki bahwa sang santri tersebut tidak kuat diberi banyak tugas. Kata sang santri, dia sudah punya banyak masalah, tidak kuat jika diberi tugas lagi, lalu Kiai Muzakki dawuh, “JIKA KAMU TIDAK MAU DAPAT MASALAH, MATI SAJA”.
Kalimat yang didawuhkan Kiai tersebut sangat simple (sederhana) namun sarat dengan makna yang tersirat didalamnya.  Memang betul kalau kita mau sadar, bahwa di dunia ini tidak mungkin orang itu tidak punya masalah. Oleh karena itu jika ada orang mempunyai masalah lalu orang tersebut lari dari masalah, hal itu tidak menyelesaikan masalah, tapi menambah masalah. Bahkan dibawa matipun bermasalah. Seperti ada orang gagal mencintai seorang gadis dambaan hati belahan jantung, lalu dia bunuh diri, dengan cara lompat dair gedung tingkat lima. Apakah hal itu menjadikan masalahnya selesai, apakah dengan mati itu semua bisa diseleaikan, tidak, sekali-kali tidak, hal itu malah menambah masalah, sebab orang mati dengan cara bunuh diri itu akan ditempatkan dineraka jahannam, na’udzubillahi min dzaalik. Semoga kita terhindar dari yang demikian.
Nah....
Anda yang sudah menjadi guru, ataupun yang akan menjadi guru, pastilah sama. Juga mempunya masalah dalam hidup ini, pesan penulis, mohon jangan dibawa masalah itu ke sekolahan tempat anda mengajar. Karena hal itu akan berpengaruh negative pada proses belajar mengajar. Seorang guru yang seharusnya senyum saat mengajar, enjoy, menyenangkan ketika mengajar, tapi karena ada masalah di rumah, sehingga ketika mengajar mukanya suram seperti habis dikencingin tokek, hehehehe (just kidding).
Intinya janganlah membawa masalah tersebut kedalam kelas. Diibartkan buah nangka, murid-murid itu gak ikut makan buah nangkanya tapi terkena getahnya. Murid-murid gak tau akar permasalahannya, malah mendapatkan efek yang negative dari gurunya yaitu dengan guru tersebut membawa masalah tersebut disekolahnya.
Penulis punya pengalaman yang hal ini jangan dicontoh. Dulu ketika penulis mengambil kuliah Pascasarjana, ada salah satu dosen, yang sudah bergelar Prof. Dr, beliau hanya mengajar kelas kami tiga kali selama satu semester. Karena ketika itu bertepatan dengan pemilihan Ketua Rektor yang baru, dan dosen yang mengajar di kelas kami ini adalah salah satu calon Rektor. Dan sayang sekali dosen kami ini tidak terpilih dengan perbandingan satu poin saja. Akhirnya beliau gagal menjadi Rektor, dan efeknya negativenya adalah kepada para mahasiswa, kami hanya diajar tiga kali, dan hal itu pun dengan suasana yang kurang enjoy. Hal yang seperti ini mohon tidak terjadi pada kita semua. Semoga kita selamat dari hal yang seperti ini. Aminn.

“MARAH ITU KADANG DIPERLUKAN”
(Dr. Desy wulandari, M.Si, dosen ekonomi unej)

Ya, Dr. Desy Wulandari, M.Si, adalah salah satu dosen penulis ketika menempuh kuliah Pascasarjana. Selalu semangat dalam mengajar para mahasiswa dan tidak pernah marah. Selalu tersenyum pada mahasiswanya. Karena ketika itu memang banyak rekan-rekan kami yang di Pascasarjana dari segi usia lebih tua daripada Dr. Desy ini.
Dari mata kuliah yang beliau ampu, ada satu kenangan yang masih selalu penulis ingat hingga detik ini. Beliau mengatakan, “MARAH ITU KADANG DIPERLUKAN.”  Kata beliau, memang kita sebagai guru tidak baik marah-marah kepada murid kita, namun jika kita sebagai guru selalu tersenyum juga salah. Kita harus bisa melihat kondisi, intinya jangan marah terus dan jangan senyum terus, nanti dikira orang gila, kata beliau dan diiringi canda tawa dari rekan-kami.
Beliau juga mengatakan, TIDAK ADA BENTUK METODE MENGAJAR YANG PALING BAIK. SEMUA METODE ITU SELALU PUNYA KELEBIHAN, DAN JUGA PUNYA KEKURANGAN, YANG BAIK ADALAH DENGAN CARA MELIHAT KONDISI TERSEBUT. Jadi kita lihat suasana, jika memang suasana tersebut mengharuskan kita marah, ya jangan senyum, dan juga sebaliknya jika suasana tersebut mengharuskan kita untuk senyum ya jagnan jangan marah.
Semoga kita bisa mengamalkan pesan dari Dr.Desy Wulandari ini. Aminn.

“GURU HEBAT ITU MURIDNYA LEBIH PINTAR”
(suksestotal.com)
The test of a good teacher is not how many questions he can ask his pupils that they will answer rreadily, but how many questions he inspires them to ask him which he finds it hard to answer.
Indikasi bahwa seseorang bisa disebut guru (pendidik) yang hebat bukanlah pada kemampuannya mengajarkan murid untuk pintar menjawab semua jenis pertanyaan, tetapi pada kemampuannya menginspirasi murid agar mengajukan pertanyaan yang dia sendirinya kesulitan untuk menjawabnya.
(Dengan kata lain, bila guru mengajar agar murid bisa sama pintarnya dengan dia, itu biasa saja. Guru yang bagus adalah yang bisa mendidik muridnya agar jauh lebih pintar dan lebih kritis daripada dirinya sendiri.)
(a lice wellington rollins (1910-1997)  )

“JADILAH GURU YANG BISA MELIHAT KONDISI, SEBAB ADA PEPATAH YANG MENGATAKAN, LAIN LADANG LAIN BELALANG.”
(Fikri Farikhin)
Ini kisah nyata penulis ketika masih sekolah dibangku SMP. Ketika sekolah di SMP penulis ikut ngaji di sebuah lembaga Madrasah diniah di kota tulungagung jawa timur. Di madrasah inilah penulis mendapatkan banyak kenangan dan hinga kini kenangan itu tak hilang. Bahkan Insyaallah sampai akhir hayat ini penulis tak akan lupa. Banyak nasihat-nasihat yang beliau berikan kepada penulis. Namun di sini penulis hanya ingin berbagi dengan para pembaca sekalian tentang seorang guru yang bisa melihat kondisi pada murid-muridnya.
Pada waktu itu kami sadar, bahwa dibandingkan dengan guru-guru / ustad-ustad yang lain, ustad kami ini tidak lebih pandai dari semua ustad yang ada disitu. Namun kenapa hal itu menjadikan para murid sukses? Maksud penulis dengan “kata sukses” para murid-murid ustad ini hingga kini sering membicarakan kebaikannya. Bahkan beberapa bulan yang lalu, penulis dengan teman teman satu angkatan ketika belajar pada beliau, update status “AKU KANGEN DENGAN USTAD HANAFI”.
Memang beliau kurang pandai, tapi yang benar-benar masih melekat pada kami adalah cara beliau mengajar, beliau sangat sabar. Bahkan penulis masih ingat, dulu ketika penulis diajar materi kitab Imrity,penulis tidak paham-paham hingga ustad kami ini mengulangya tiga kali, pada penulis. Dan hal itu pun tidak menjadikan penulis paham. Lalu ustad kami ini bilang, ya sudah Fik, gak apa, yang penting sudah berusaha, besok kita belajar lagi, insyaallah besok di beri paham oleh Allah.
Nah...., ini berbeda dengan kondisi sekarang, tidak sedikit guru yang memarahi murid-muridnya karena muridnya tidak paham. Bahkan ada murid yang dihukum, dipukul dan lain lain, karena tidak paham dengan ilmu yang telah diajarkan olehnya. Kalau penulis mengibaratkan, hal itu seperti anak kecil baru lahir, yang hanya bisa brangkang dalam istilah jawanya, tapi orangtuanya teriak-teriak dan memarahi anak itu dengan ucapan “ayo-ayo cepat, lari-lari....” Kan lucu, anak kecil memang belum bisa jalan malah disuruh lari.
Ada sebuah film india yang bagus, yang berjudul Taree Zameen, yang dibintangi oleh Amir Khan,ini temanya tentang pendidikan di sekolah dasar. Certitanya tentang seoranganak yang bernaa ishaan Nandkishore Awasthi, ishaan udah kelas 3 SD, tapi belum bisa tulis dan baca seperti teman-temannya yang lain. Dia susah membedakan antara huruf “b” sama “d”, “P” sama “R”, “e” sama “a”, dan huruf lain yang kelihatannya mirip. Lalu waktu disuruh baca, dia bilang, kalau tulisannya menari, jadi dia gak bisa baca. Papanya ishaan ini menganggap kalau anaknya bandel, gak bisa diatur, gak mau belajar, dan lain-lain. Akhirnya Ihsaan ini di pindahin ke boarding school, sekolah yang ada asramanya. Tujuannya adalah biar bisa lebih disiplin, nah waktu Ishaan sudah diantar ke sekoahh, terus oratunya pulangcerita makin menarik, muncullah Aamir Khan, perannya sebagai Ram Shankar Nikumbh yang jadi guru kesenian. Menggantikan kesenian sebelumnya. Nah di hari pertam dia masuk, murid-murid dsuruh gambar apa saja sesuka hati, ada yang menggambar rumah, gunung, tokoh superhero, dll, tapi Ishaan ini gak gambar sama sekali, padahal dia jago sekali menggambar di ssekoah yang dulu, , mister Niumbh ini akhirnya mencari tahu kenapa kok Ishaan ini sering diam, melamun, tidak mau bicara, dan seperti orang stress. Akhirnya ketahuan kalu Ishaan ini mengidap kelaianan, namanya dyslexia. Dan ternyata mister Nikumbh ini dulunya juga ngidap kelanian ini waktu kecil. Setelah ini cerita ini makin seru,pak nikumbh mulai ngajari Ishaan dengan cara yang beda, diajarin nulis baca, sampai dibuatin lomba menggambar. Tujuannya biar Ishaan mau menggambar lagi. Selanjutnya lihat saja sendiri filmnya. Hehehe.
Nahh, itulah contoh guru yang bisa melihat kondisi muridnya. Tidak hanya marah-marah, tanpa peduli apa yang terjadi pada kondisi murid.
Semoga kita bisa menjadi guru yang melihat kondisi murid-murid kita. Aminnn.


“AKU HARUS MENJADIKAN SUASANA YANG INDAH PADA SEKOLAH, SEKOLAH BUKANLAH TEMPAT YANG ISINYA HANYALAH SEKUMPULAN PAKSAAN DAN PERINTAH DARI SEORANG GURU, TAPI ADALAH LEBIH DITITIKBERATKAN PADA SEBUAH KENYAMANAN HATI”
(Fikri Farikhin, terinspirasi dari film gto (great teacher onizuka)

Memang ini terlihat lucu, tapi memang inilah kenyataannya. Penulis sangat banyak mendapatkan pencerahan tentang keilmuan itu dari melihat banyak film. Banyak sekali film yang telah memotivasi dan menginspirasi penulis. Namun dalam buku yang sederhana ini penulis mengambil inspirasi dari film Jepang, GREAT TEACHER ONIZUKA (GTO). Dalam film ini digambarkan seorang guru yang bernama Onizuka ingin menjadikan suasana sekolah itu berbeda. Karena memang kita lihat dimana-mana banyak murid yang merasa pusing melihat kondisi sekolah. Pertama, dari rumah mereka berfikir, nanti di sekolah mereka diberi tugas yang menumpuk, dimarahi oleh gurunya, di permalukan didepan teman-temannya. Dan lain-lain. dan ternyata benar, setelah berangkat ke sekolah mereka mendapatkan perilaku seperti yang difikirkan mereka sebelum berangkat ke sekolah. Tapi maaf, mungkin dalam tulisan saya ini ada yang janggal, dan sebagian pembaca merasa tidak terima. Ah masak ia sih. Kayak bukan gue banget deh. Dulu gue ke sekolah semangat sekali. Gurunya menyenangkan, sampai-sampai aku sangat rindu sekolah ketika liburan. Bahkan gue sampai telpon guru gue kalo waktu liburan panjang. Karena gue gak kuat menahan rindu untuk bertemu.
Nah, kalo seperti itu keadaanmu, bersyukurlah dengan keadaanmu yang seperti itu. Tapi kita tidak bisa mengingkari bahwa disekitar kita banyak murid-murid yang bermasalah. Mereka frustasi dengan kondisi mereka. Bahkan ditunjang dengan broken home mereka. Orangtua mereka cerai, bertengkar dan lain sebagainya. Lalu mereka pergi ke sekolah, dan ternyata di sekolah mereka harus menemui guru-guru yang tidak bisa mengobati hatinya dan malah menjadikan hatinya gak tenang. Akhirnya mereka minum pil koplo, minum-minuman keras, dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, dalam film ini seorang guru ONIZUKA, bersikeras membuat suasana sekolah itu indah, sehingga nantinya murid-murid bisa bicara dalam hatinya bahwa AKU RINDU SEKOLAH.
Mungkin terlihat sangat simple (sederhana), masak muridnya cuman dibuat suka pergi kesekolah, lalu bagaimana dengan mereka yang hanya suka dan rindu pergi ke sekolah tapi gak mau belajar dengan baik di sekolah? Jawabannya adalah , jika murid hatinya sudah senang, maka bisa dipastikan dia akan enjoy dengan segala sesuatu yang ada di sekolah, baik bermainnya, materinya, bertemu dengan gurunya dan lain sebagainya.
Oleh karena itu adalah tugas semua guru untuk selalu mengadakan inovasi tiada henti dalam kaitannya menjadikan murid merasa kerasan tinggal di sekolah. Jadikanlah sekolah dalam hatinya murid “SEKOLAHKU LAKSANA SURGA BAGIKU”. Jadikanlah murid menangis ketika sudah tamat sekolah di tempat tersebut. Jangan malah bangga karena telah meninggalkan tempat tersebut. Jika keadaannya demikian, maka anda adalah guru yang gagal. Semoga kita bisa dijauhkan dari perkara demikian. Aminnn.
“SISWA TIDAK PEDULI BETAPA PINTARNYA SEORANG GURU, YANG MEREKA PEDULIKAN ADALAH APAKAH GURU TERSEBUT PEDULI TERHADAP DIRINYA.”
(suksestotal.com)
Banyak guru yang pandai, tapi murid-murid tidak senang sama sekali. Banyak guru-guru yang luar bisa, faham materi meski ditanya dari segi manapun. Tapi kenapa banyak murid mereka yang gak suka. Sebab mereka tidak pernah peduli dengan, kondisi murid. Ingat ya para guru, murid itu bukan patung, bukan robot, mereka itu punya hati, mereka ingin diajak bercengkerama, diajak berbicara bersama, mereka ingin curhat masalah hidupnya dan lain-lain. penulis dulu punya seorang ustad ketika penulis mengaji kitab Fathul Qorib. Beliau ini sangat pandai, bahkan beliau ini hafal Al-Qur’an, ditanya tentang isi kitab Fathul Qorib dari segi manapun sangat mudah bagi beliau untuk menjawabnya. Namun kenapa hampir semua murid tidak sreg diajar dengan beliau. Karena beliau itu tidak pernah mengajak murid-murid untuk berinteraksi, tak ada raut muka senyuman diwaktu mengajar. Masuk kelas, langsung maknani kitab, menjelaskan, setelah itu membuka sesi tanya jawab sebentar, lalu mengabsen , dan setelah itu pulang. Ah....., gak gue banget pokoknya, kata saya saat itu.
Tapi ada lagi, saya punya ustad , orangnya biasa saja, gak ganteng ganteng amat, gak kaya, gak terlalu pandai, bahkan teman-teman saya pun tahu kalo ustad kami ini tidak pandai, dan juga di lembaga yang saya buat belajar ngaji ini, ustad yang satu ini paling tak pandai daripada ustad-ustad yang lain, tapi anehnya mereka semua suka dengan ustad kami ini. Jawabannya kenapa? Karena ustad kami ini sangat peduli kepada murid-muridnya. Misalnya  beliau bertanya: gimana , faham gak anak-anak? Ngantuk gak? Kalo ngantuk kita santai dulu, kenapa sampean kok diam aja, apa ada masalah, tulisannya sampean jangan seperti itu, gini lo biar bagus. Dan lain-lain. pokokny ustad yang satu ini sangat peduli dengan kondisi murid-muridnya. Nah ustad yang begini inilah yang sangat gue banget. Semoga kita semua dapat menjadi guru yang seperti ini. Aminnn.
“DALAM MENGAJAR KITA HARUS INGAT TUJUAN KITA, TUJUAN UTAMA KITA DALAM MENGAJAR ADALAH MENTRANSFER ILMU KEPADA PESERTA DIDIK”
(ZainulChunaifi,S.Ag, kepala sekolah MINUSumberbergempol Tulungagung, yang terinspirasi dari Prof.Dr.H. Suharsimi Arikunto)
Ini adalah pengalaman penulis beberapa tahun yang lalu, ketika penulis pulang ke kampung halaman, Kota Tulungagung Jawa Timur. Dirumah penulis jalan-jalan dan akhirnya secara tidak sengaja penulis bisa berbincang-bincang dengan seorang kepala sekolah alumni Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Setelah berbincang bincang sukup lama, ada kata-kata yang susah penulis lupakan, bahkan hal ini menjadi motivasi buat penulis sendiri maupun penulis buat motivasi buat teman-teman penulis ketika mengajar. Kata kata tersebut sangat sederhana, namun mengena. Beliau mengatakan, saya mendapat inspirasi ini dari bukunya Prof. Dr. H. Suharsimi Arikunto, dalam buku tersebut Prof. Suharsimi mengatakan, dalam mengajar kita harus ingat tujuan.
Dari pernyataan tersebut akhirnya penulis dapat motivasi yang luar biasa ketika mengajar, yaitu kita sebagai seorang guru, wajib hukumnya menguasai materi. Akan tak ada gunanya sama sekali sebuah metode yang sangat luar biasa jika tak diimbangi dengan penguasaan materi oleh seorang guru. Jadi mulai sekarang, jika kita ingin menjadi guru yang baik, tidak ada alasan lagi buat kita untuk tidak menguasai materi. Kalau dianalogikan, gurunya aja gak paham materinya, apalagi muridnya. Gitu kan? Semoga kita semua bisa menjadi guru yang baik, yang bisa menguasai materi dengan baik. Aminnn.
“KETIKA KITA MENGAJAR, KITA HARUS INGAT TENTANG HAKEKAT BELAJAR, HAKEKAT BELAJAR SECARA UMUM ADALAH PERUBAHAN TINGKAH LAKU”
(Drs. Moh. Holil, M.Pd, dosen sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qodiri Jember)
Ini adalah pengalaman penulis ketika kuliah S1 semester lima. Penulis mendapat kata-kata ini dari Dosen yang sangat kami idolakan. Bahkan hingga kini jika ketemu dengan kawan lama masa kuliah dulu, sering kawan-kawan mengatakan, enak ya di ajar pak Holil. Itulah yang terucap dari kawan-kawan kami. Namun dalam tulisan ini penulis hanya ingin menjelaskan pengalaman penulis tentang tulisan di atas.
Kata-kata dari dosen kami ini muncul karena ketika itu kami malas belajar di kelas, dan ketepatan ketika semester lima, penulis sudah di percaya untuk mengajar di sekolah tingkat SMP. Penulis mempunyai masalah dalam mengajar. Setiap hari ketika pulang mengajar penulis selalu sedih, selalu kepikiran kepada murid-murid. Karena mereka susah sekali untuk difahamkan. Lalu penulis mencoba bertanya kepada dosen kami ini, lalu beliau memberikan jawaban, “BELAJAR ITU ADALAH PERUBAHAN TINGKAH LAKU.”,  jadi, yang penting mereka ada perubahan ke tingkah laku yang positif, meskipun sedikit, itu berarti kamu sudah sukses. Kalau perubahan ke tingkah laku yang buruk, berarti kamu gagal, bahkan lebih daripada itu.
Jadi, kita sebagai guru, tidak perlu risau, tidak perlu bersedih, tidak perlu terlalu berfikir terlalu dalam, asal dalam diri murid ada perubahan tingkah laku yang positif dari sebelumnya, berarti hal itu sudah cukup bagi guru dalam mengajar. Ambil aja istilah, SEDIKIT-SEDIKIT LAMA-LAMA JADI GUNUNG.hehehe. semoga kita semua bisa menjadi guru yang luar biasa. aminn
“DALAM MENGAJAR, KITA TIDAK DIPERBOLEHKAN MENAMPAKKAN RAUT MUKA MARAH DAN KECEWA TERHADAP PARA MURID KITA, DALAM KONDISI APAPUN, YANG ADA HANYALAH MOTIVASI DAN MOTIVASI KEPADA MEREKA”
(Fikri Farikhin, terinspirasi dari Muhammad Rofiq Hidayat, S.Pd.I, guru Bahasa Arab SMA 5 Jember dan Kiai Jamzuli, pengasuh pesantren Darun Najah)

“MENJADI GURU ITU PERLU PENGORBANAN JIKA MENGINGINKAN SISWA-SISWINYA SUKSES”

(Fikri Farikhin)
“MENJADI GURU JANGAN DINIATKAN UNTUK AJANG MENCARI UANG, TAPI JADIKANLAH UANG ITU HANYALAH SEBAGAI EFEK MORAL DARI KITA MENGAJAR”
(Fikri Farikhin, terinspirasi dari Ahmad Rifa’i Rif’an, penulis buku best seller hidup sekali, berarti, lalu mati)
“KETIKA KITA MENGAJAR, JANGANLAH DINIATI UNTUK MENCARI UANG, YAKINLAH, DENGAN KITA MENGAJAR, MESKI TAK DIBAYAR, KITA AKAN DIGANTI OLEH ALLAH. ALLAH TIDAK BUTA, ALLAH MELIHAT KITA. ALLAH TIDAK AKAN MENGECEWAKAN KITA. LIHAT ITU, SAYA TIDAK PERNAH DAPAT SERTIFIKASI, TAPI SAYA PUNYA MOBIL BAGUS”
(Drs. Abdul Muiz Thabrani, MM. Dosen IAIN jember)
“KITA SEBAGAI GURU HARUS BANYAK MEMBACA, MEMBACA APASAJA, LEBIH-LEBIH YANG BERHUBUNGAN DENGAN APA YANG KITA AJARKAN”
(Fikri Farikhin, terinspirasi dari Idris Mahmudi, S.Kep, M.Pd.I, Dosen Fikes Unmuh Jember)
“KITA SEBAGAI GURU, TUGAS KITA BUKAN MEMAKSA, TAPI MEMBERIKAN JALAN KEMUDAHAN DALAM MENCAPAI APA YANG MEREKA INGINKAN”
(Fikri Farikhin)


“KITA HARUS MENGHINDARI TUJUH (7) KESALAHAN YANG SERING DILAKUKAN OLEH SEORANG GURU”
(E. Mulyasa, M.Pd, pakar pendidikan)
Memaksa hak peserta didik merupakan kesalahan yang sering dilakukan guru, sebagai akibat dari kebiasaan guru berbisnis dalam pembelajaran, sehingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan.  Guru boleh saja memiliki pekerjaan sampingan, memperoleh penghasilan tambahan, itu sudah menjadi haknya, tetapi tindakkan memaksa bahkan mewajibkan peserta didik untuk membeli buku tertentu sangat fatal serta kurang bisa digugu dan ditiru. Sebatas menawarkan boleh saja, tetapi kalau memaksa kasihan bagi orangtua yang tidak mampu.
Kondisi semacam ini sering kali membuat frustasi peserta didik, bahkan di garut pernah pernah ada peserta didik bunuh diri hanya karena dipaksa untuk membeli alat pelajaran tertentu oleh gurunya. . Karena peserta didik tersebut tidak memiliki uang atau tidak mampu dia nekat bunuh diri.ini contoh akibat fatal dari guru yang suka berbisnis disekolah dengan memaksa peserta didiknya untuk membeli. Hindarilah, ingat sebagai guru akan diminta pertanggungjawaban di akhirat. Di dunia gaji tidak seberapa, jangan kotori keuntungan akhirat dengan menodai profesi.niatkan menjadi guru sebagai ibadah. Jadikan pekerjaan guru sebagai ladang amal yang akan dipanen hasilnya kelak diakhirat. Percayalah, dan tanyakan pada hati nurani.jangan mengambil keuntungan sesaat, tetapi menyesatkan.sadarlah wahai guru, agar namamu selalu sejuk dalam sanubariku.demikianlah penjelasan E. Mulyasa mengenai 7 kesalahan yang sering dilakukan guru dalam pembelajaran.
1.  Mengambil jalan pintas dalam pembelajaran
Perlu kita ketahui bersama bahwa banyak guru yang merasa bahwa dirinya pintar dan dapat mengajar dengan baik, sehingga mereka terkadang suka mengambil jalan pintas dalam pembelajaran, baik dalam perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi. Mestinya guru harus menyadari bahwa mengajar memiliki sifat yang sangat kompleks karena melibatkan aspek pedagogis, dalam hal ini bahwa mengajar di sekolah berlangsung dalam suatu lingkungan pendidikan, karena itu guru harus mendampingi peserta didik menuju kesuksesan belajar atau kedewasaan, aspek psikologis,  dalam hal ini peserta didik yang belajar pada umumnya memiliki taraf perkembangan yang berbeda satu dengan yang lainnya sehingga menuntut materi dan metode yang berbeda pula, begitupun dengan kondisi peserta didik, kompetensi dan tujuan yang harus mereka capai juga berbeda. Kemudian aspek didaktis,  bahwa pada pengaturan belajar peserta didik oleh para guru menuntut prosedur didaktis, dalam hal ini guru harus menentukan secara tepat jenis belajar yang paling berperan dalam proses pembelajaran tertentu, dengan demikian guru memiliki pengetahuan yang cukup luas mengenai jenis belajar yang ada pada peserta didik.
Maka, agar tidak tergiur untuk mengambil jalan pintas dalam pembelajaran , guru hendaknya memandang pembelajaran sebagai suatu system yang jika salah satu komponennya terganggu maka akan menganggu seluruh system tersebut. Contohnya, guru harus selalu membuat dan melihat persiapan setiap mau melakukan kegiatan pembelajaran serta merevisi sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan perkembangan zaman.harus selalu diingat, mengajar tanpa persiapan merupakan jalan pintas, dan tindakan yang berbahaya yang dapat merugikan perkembangan peserta didik dan mengancam kenyamanan guru.

2.  Menunggu peserta didik berperilaku negatif
Dalam pembelajaran di kelas, guru berhadapan dengan peserta didik yang semuanya ingin diperhatikan. Peserta didik akan berkembang secara optimal perhatian guru yang positif, sebaliknya perhatian yang negative akan menghambat perkembangan peserta didik. Sehingga tak sedikit guru yang mengabaikan perkembangan kepribadian peserta didik.biasanya guru baru memberikan perhatian kepada peserta didik ketika ribut, mengantuk dan tidak memperhatikan pelajaran, sehingga menunggu peserta didik berperilaku buruk.karena terkadang anak didik tidak diperhatikan dan untuk mendapat perhatian seringkali mereka bertingkah nakal.   Maka dalam menyelesaikan masalah yang seperti ini, hendaknya seorang guru senantiasa memberi perhatian dan penghargaan kepada peserta didik yang berperilaku positif. Namun disisi lain guru harus memperhatikan perilaku peserta didik yang negatif, dan mengeliminasi perilaku tersebut agar tidak terulang kembali. Dalam hal ini kita memberikan pujian kepada mereka karena tidak melakukan perilaku yang negative.sekali lagi jangan menunggu peserta didik berperilaku negative.

3.  Menggunakan destructive disipline
Guru sering kali memberikan pekerjaan rumah kepada peserta didiknya namun jarang mengembalikannya dengan memberikan koreksi, komentar, kritik dan saran atau umpan balik terhadap apa yang dikerjakannya untuk kemajuan peserta didik. Tindakan tersebut merupakan upaya pembelajaran dan penegakan disiplin yang destruktif atau destructive discipline yang sangat merugikan peserta didik. Agar tidak melakukan kesalahan-kesalahan dalam menegakkan disiplin, beberapa hal yang mutlak diperhatikan adalah:
·     Disiplinkan peserta didik ketika anda dalam keadaan tenang.
·     Gunakan disiplin secara tepat waktu dan tepat sasaran.
·     Hindari menghina dan mengejek peserta didik.
·     Pilihlah hukuman yang bisa dilaksanakan secara tepat.
·     Gunakan disiplin sebagai alat pembelajaran.
Untuk kepentingan tersebut, guru harus mengarahkan apa yang baik, serta menjadi contoh, sabar dan penuh perhatian.

4.  Mengabaikan perbedaan peserta didik
Setiap peserta didik memiliki perbedaan individual yang sangat mendasar yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran, emosi yang bervariasi, kekuatan, kelemahan, latar belakang sosial ekonomi, minat, lingkungan dan keluarga yang berbeda-beda. Maka di sinilah sebab terjadinya  dimana guru mengabaikan perbedan peserta didik dan guru seharusnya dapat mengidentifikasi karakteristik umum atau perbedaan individual peserta didik ketika memulai pembelajaran, karena pada umumnya perilaku tersebut relatif normal akan tetapi guru dihadapkan pada sejumlah peserta didik, guru seringkali kesulitan untuk mengetahui mana perilaku normal dan wajar serta mana perilaku yang indisiplin dan perlu menapat penanganan khusus.

5.  Merasa paling pandai
Kesalahan yang dilakukan guru juga adalah merasa paling pandai, karena pada umumnya peserta didik di sekolah usianya relatif lebih muda, sehingga guru merasa bahwa peserta didik tersebut lebih bodoh dari dirinya. Namun pada saat ini guru mestinya sadar bahwa perkembangan teknologi sudah semakin pesat sehingga siswa dapat belajar sendiri sehingga terkadang apa yang mereka ketahui lebih banyak daripada gurunya. Dengan demikian, guru harus demokratis untuk bersedia belajar kembali, bahkan belajar dari peserta didik sekalipun. Dalam hal ini,  guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat yang senantiasa menyesuaikan ilmu pengetahuan yang dimilikinya dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat, karena jika tidak, maka akan ketinggalan kereta, bahkan akan disebut ortodoks,

6.  Tidak  adil (diskriminatif)
Pembelajaran yang baik dan efektif adalah yang mampu memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik secara adil dan merata (tidak diskriminatif), sehingga mereka dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Namun dalam prakteknya banyak guru yang tidak adil sehingga merugikan perkembangan peserta didik, dan ini merupakan kesalahan yang sering dilakukan oleh guru terutama dalam penilaian. Dalam memberikan penilaian guru harus melakukannya secara adil dimana ini merupakan cermin dari perilaku peserta didik yang merupakan wujud penghargaan sesuai dengan usahanya selama proses pembelajaran. Karena semestinya sebagai guru, dia harus mampu menghilangkan hal-hal yang dapat merugikan perkembangan peserta didik.

7.  Memaksa hak peserta didik
Memaksa hak peserta didik merupakan kesalahan yang dilakukan oleh guru sebagai akibat dari kebiasaan guru berbisnis dalam pembelajaran, sehingga menghalalkan segala cara untuk mencapai keuntungan. Guru boleh saja memiliki pekerjaan sampingan, tetapi tindakan memaksa bahkan mewajibkan peserta didik untuk membeli buku sangat fatal serta sangat fatal, dan sebaiknya tidak ditiru. Kondisi semacam ini sering kali membuat frustasi peserta didik, oleh karena itu sebagai seorang guru yang bijak, niatkan menjadi guru itu sebagai ibadah, jadikan pekerjaan guru sebagai ladang amal yang akan dipanen hasilnya kelak di akhirat. Percayalah, dan tanyakanlah pada hati nurani janganlah mengambil keuntungan sesaat tapi menyesatkan.

Sedangkan menurut  Dr. Wina sanjaya ( 2005 : 70 ) menyebutkan ada 4 kekeliruan dalam proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru yaitu :
1.     Ketika mengajar, guru tidak berusaha mencari informasi, apakah materi yang diajarkannya sudah dipahami oleh siswa atau belum.
2.     Dalam proses belajar mengajar guru tidak berusaha mengajak berpikir kepada siswa. Komunikasi bisa terjadi satu arah, yaitu dari guru ke siswa. Guru menganggap bahwa bagi siswa menguasai materi pelajaran lebih penting dibandingkan dengan mengembangkan kemampuan berpikir.
3.     Guru tidak berusaha mencari umpan balik mengapa siswa tidak mau mendengarkan penjelasannya.
4.     Guru menganggap bahwa ia adalah orang yang paling mampu dan menguasai pelajaran dibandingkan dengan siswa. Siswa dianggap sebagai " tong kosong " yang harus diisi dengan sesuatu yang dianggapnya sangat penting.
“KITA SEBAGAI GURU HARUS BISA TEPAT WAKTU, JANGAN HANYA MENYURUH MEREKA, TAPI BERIKANLAH TELADAN TERLEBIH DAHULU”
(Fikri Farikhin, terinspirasi dari Dr.Aminullah Elhady, Rektor Universitas Muhammadiah  jember)


“MENJADI GURU HARUS SANGGUP UNTUK MEMAAFKAN SEMUA KESALAHAN MURID, JANGAN MENUNGGU MURID MEMINTA MAAF, TAPI MAAFKANLAH SEMUA KESALAHAN MEREKA, MESKI MEREKA TAK MEMINTA MAAF”
(Fikri Farikhin)

JIKA KITA PUNYA MURID BODOH DAN NAKAL, JANGANLAH TERBEBANI DENGAN HAL ITU, SEBAB, CURIGALAH PADA TUHAN BAHWA TUHAN TELAH MENDATANGKAN ENGKAU SEBAGAI OBAT BAGI MEREKA
(Fikri Farikhin, terinspirasi dari Ahmad Rifai Rif’an)

“HIDUP BUKAN HANYA UNTUK UANG, JIKA TUJUAN HIDUP KITA HANYALAH UNTUK UANG, SELAMANYA KITA TIDAK AKAN PERNAH SUKSES”
(Fikri Farikhin, terinspirasi dari acaraTVHitam Putih)

“DENGAN MENJADI GURU, ENGKAU DAPAT MERUBAH KEBURUKANMU DIMASA LALU, AGAR KEBURUKANMU TERHAPUSKAN”
(Fikri Farikhin)

“HIDUP TIDAK HANYA UNTUK BEKERJA, TAPI JUGA UNTUK BERIBADAH”
(Fikri Farikhin, dari orang tua penulis sendiri)

“DARI HATI AKAN SAMPAI KE HATI”
(Dr. Suhadi Winoto, M.Pd, Dosen PASCASARJANA IAINjember)

ORANG YANG BISA MEMBUAT SEMUA HAL YANG SULIT MENJADI MUDAH DIPAHAMI, YANG RUMIT MENJADI MUDAH DIMENGERTI, ATAU ATAU YANG SUKAR MENJADI MUDAH DILAKUKAN, ITULAH PENDIDIK YANG SEJATI.
(Emerson)

“GURU YANG BIASA-BIASA SAJA MEMBERI TAHU. GURU YANG BAIK MENJELASKAN.GURU YANG BAGUS MENUNJUKKAN BAGAIMANA CARANYA. TETAPI GURU YANG LUAR BIASA MENGINSPIRASI MURID-MURIDNYA”
(William a. Ward)

JIKA CARA MENGAJAR DAN APA YANG KITA AJARKAN KEPADA MURID-MURID KITA HARI INI SAMA SAJA DENGAN YANG KEMARIN, MAKA KITA MERAMPAS MASA DEPAN ANAK DIDIK KITA TERSEBUT.
ARTINYA, ILMU PENGETAHUAN DAN KEMAMPUAN HIDUP BERKEMBANG TERUS. JIKA FAKTA INI TIDAK KITA PAHAMI DAN LALU AJARKAN PADA MURID KITA, MAKA KITA TIDAK MEMPERSIAPKAN MEREKA DENGAN BAIK UNTUK MENGHADAPI TANTANGAN MASA DEPAN YANG JELAS BERBEDA DARI MASA SEKARANG.
(John Dewey)

MENJADI PENDIDIK, (ATAU GURU, BAIK FORMAL ATAU NON-FORMAL) ADALAH SATU-SATUNYA PROFESI YANG MENCIPTAKAN SEGALA MACAM JENIS PROFESI LAINNYA.
(suksestotal.com)

BILA SEORANG ANAK TIDAK BISA BELAJAR DARI CARA KITA MENGAJARKAN SESUATU KEPADANYA, MUNGKIN KITALAH YANG HARUS MENGUBAH CARA MENGAJAR KITA AGAR SESUAI DENGAN CARA BELAJAR MEREKA.
(ignacio 'nacho' estrada)

HIDUP ITU MELAYANI
HIDUP ITU NIKMAT BILA DIRIMU SIBUK MELAYANI,
MELAYANI ORANGTUAMU
MELAYANI PASANGAN HIDUPMU
MELAYANI ANAK-ANAKMU
MELAYANI SAUDARA-SAUDARAMU
MELAYANI PELANGGANMU
MELAYANI KARYAWANMU
MELAYANI PEMIMPINMU
MELAYANI MITRA BISNISMU
MELAYANI MURIDMU
MELAYANI GURUMU
TETAPI KAU TAK BOLEH SIBUK MELAYANI:
MANTANMU .....
PENCELA .....
SETAN .....
PELAKU MAKSIAT .....
HAWA NAFSUMU ......
EGOMU .....
SIAPAKAH YANG BANYAK KAU LAYANI SAAT INI?
(JAMIL AZZAINI : A TRIBUTE)

KRITERIA GURU YANG BAIK MENURUT AJARAN ISLAM

Seorang guru adalah seorang pendidik. Pendidik ialah “orang yang memikul tanggung jawab untuk membimbing”.(ramayulis,1982:42) pendidik tidak sama dengan pengajar, sebab pengajar itu hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran kepada murid. Prestasi yang tertinggi yang dapat dicapai oleh seorang pengajar apabila ia berhasil membuat pelajar memahami dan menguasai materi pengajaran yang diajarkan kepadanya. Tetapi seorang pendidik bukan hanya bertanggung jawab menyampaikan materi pengajaran kepada murid saja tetapi juga membentuk kepribadian seorang anak didik bernilai tinggi. (ramayulis, 1998:36)
Untuk menjadi seorang pendidik yang baik, Imam Al-Ghazali menetapkan beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh seorang guru.Tulisan berikut ini merupakan kutipan yang diambil oleh penulis dari buku abuddin nata (2000:95-99) ketika menjelaskan kriteria guru yang baik dari kitab ihya ulumuddin yang merupakan karya monumental Abu Hamid Bin Muhammad Bin muhammadAl-Ghazali.Sengaja kutipan di bawah ini diberi sedikit komentar untuk lebih memperjelas maksud yang hendak disampaikan.
Al-ghazali berpendapat bahwa guru yang dapat diserahi tugas mendidik adalah guru yang selain cerdas dan sempurna akalnya, juga guru yang baik akhlaknya dan kuat fisiknya. Dengan kesempurnaan akal ia dapat memiliki berbagai ilmu pengetahuan secara mendalam, dan dengan akhlaknya yang baik ia dapat menjadi contoh  dan teladan bagi para muridnya, dan dengan kuat fisiknya ia dapat melaksanakan tugas mengajar, mendidik dan mengarahkan anak-anak muridnya.
Selain sifat-sifat umum yang harus dimiliki guru sebagaimana disebutkan di atas, seorang guru juga harus memiliki sifat-sifat khusus atau tugas-tugas tertentu sebagai berikut :
Pertama, jika praktek mengajar merupakan keahlian dan profesi dari seorang guru, maka sifat terpenting yang harus dimilikinya adalah rasa kasih sayang. Sifat ini dinilai penting karena akan dapat menimbulkan rasa percaya diri dan rasa tenteram pada diri murid terhadap gurunya. Hal ini pada gilirannya dapat menciptakan situasi yang mendorong murid untuk menguasai ilmu yang diajarkan oleh seorang guru.
Kedua, karena mengajarkan ilmu merupakan kewajiban agama bagi setiap orang alim (berilmu), maka seorang guru tidak boleh menuntut upah atas jerih payahnya mengajarnya itu.seorang guru harus meniru rasulullah saw.yang mengajar ilmu hanya karena Allah, sehingga dengan mengajar itu ia dapat bertaqarrub kepada allah. Demikian pula seorang guru tidak dibenarkan minta dikasihani oleh muridnya, melainkan sebaliknya ia harus berterima kasih kepada muridnya atau memberi imbalan kepada muridnya apabila ia berhasil membina mental dan jiwa. Murid telah memberi peluang kepada guru untuk dekat pada Allah swt.namun hal ini bisa terjadi jika antara guru dan murid berada dalam satu tempat, ilmu yang diajarkan terbatas pada ilmu-ilmu yang sederhana, tanpa memerlukan tempat khusus, sarana dan lain sebagainya. Namun jika guru yang mengajar harus datang dari tempat yang jauh, segala sarana yang mendukung pengajaran harus diberi dengan dana yang besar, serta faktor-faktor lainnya harus diupayakan dengan dana yang tidak sedikit, maka akan sulit dilakukan kegiatan pengajaran apabila gurunya tidak diberikan imbalan kesejahteraan yang memadai.
Ketiga, seorang guru yang baik hendaknya berfungsi juga sebagai pengarah dan penyuluh yang jujur dan benar di hadapan murid-muridnya.ia tidak boleh membiarkan muridnya mempelajari pelajaran yang lebih tinggi sebelum menguasai pelajaran yang sebelumnya. Ia juga tidak boleh membiarkan waktu berlalu tanpa peringatan kepada muridnya bahwa tujuan pengajaran itu adalah mendekatkan diri kepada allah swt,.dan bukan untuk mengejar pangkat, status dan hal-hal yang bersifat keduniaan.seorang guru tidak boleh tenggelam dalam persaingan, perselisihan dan pertengkaran dengan sesama guru lainnya.
Keempat, dalam kegiatan mengajar seorang guru hendaknya menggunakan cara yang simpatik, halus dan tidak menggunakan kekerasan, cacian, makian dan sebagainya. Dalam hubungan ini seorang guru hendaknya jangan mengekspose atau menyebarluaskan kesalahan muridnya di depan umum, karena cara itu dapat menyebabkan anak murid yang memiliki jiwa yang keras, menentang, membangkang dan memusuhi gurunya. Dan jika keadaan ini terjadi dapat menimbulkan situasi yang tidak mendukung bagi terlaksananya pengajaran yang baik.
Kelima, seorang guru yang baik juga harus tampil sebagai teladan atau panutan yang baik di hadapan murid-muridnya. Dalam hubungan ini seorang guru harus bersikap toleran dan mau menghargai keahlian orang lain. Seorang guru hendaknya tidak mencela ilmu-ilmu yang bukan keahliannnya atau spesialisasinya.Kebiasaan seorang guru yang mencela guru ilmu fiqih dan guru ilmu fiqih mencela guru hadis dan tafsir, adalah guru yang tidak baik. (Al-Ghazali, t.th:50)
Keenam, seorang guru yang baik juga harus memiliki prinsip mengakui adanya perbedaan potensi yang dimiliki murid secara individual dan memperlakukannya sesuai dengan tingkat perbedaan yang dimiliki muridnya itu. Dalam hubungan ini, Al-Ghazali menasehatkan agar guru membatasi diri dalam mengajar sesuai dengan batas kemampuan pemahaman muridnya, dan ia sepantasnya tidak memberikan pelajaran yang tidak dapat dijangkau oleh akal muridnya, karena hal itu dapat menimbulkan rasa antipati atau merusak akal muridnya. (Al-Ghazali, t.th:51)
Ketujuh, seorang guru yang baik menurut Al-Ghazali adalah guru yang di samping memahami perbedaan tingkat kemampuan dan kecerdasan muridnya, juga memahami bakat, tabiat dan kejiwaanmuridnya sesuai dengan tingkat perbedaan usianya.Kepada murid yang kemampuannya kurang, hendaknya seorang guru jangan mengajarkan hal-hal yang rumit sekalipun guru itu menguasainya.jika hal ini tidak dilakukan oleh guru, maka dapat menimbulkan rasa kurang senang kepada guru, gelisah dan ragu-ragu.
Kedelapan, seorang guru yang baik adalah guru yang berpegang teguh kepada prinsip yang diucapkannya, serta berupaya untuk merealisasikannya sedemikian rupa.Dalam hubungan ini Al-Ghazali mengingatkan agar seorang guru jangan sekali-kali melakukan perbuatan yang bertentangan dengan prinsip yang dikemukakannya. Sebaliknya jika hal itu dilakukan akan menyebabkan seorang guru kehilangan wibawanya. Ia akan menjadi sasaran penghinaan dan ejekan yang pada gilirannya akan menyebabkan ia kehilangan kemampuan dalam mengatur murid-muridnya. Ia tidak akan mampu lagi mengarahkan atau memberi petunjuk kepada murid-muridnya.

Cerpen “GURU” karya putu wijaya
Semoga bisa menjadi inspirasi

@@@@@
Anak saya bercita-cita menjadi guru.tentu saja saya dan istri saya jadi shok. Kami berdua tahu, macam apa masa depan seorang guru. Karena itu, sebelum terlalu jauh, kami cepat-cepat ngajak dia ngomong.
"kami dengar selentingan, kamu mau jadi guru, taksu?Betul?!"taksu mengangguk.
"betul pak." kami kaget.
"gila, masak kamu mau jadi g-u-r-u?"
"ya."
Saya dan istri saya pandang-pandangan.itu malapetaka. Kami sama sekali tidak percaya apa yang kami dengar. Apalagi ketika kami tatap tajam-tajam, mata taksu nampak tenang tak bersalah.ia pasti sama sekali tidak menyadari apa yang barusan diucapkannya. Jelas ia tidak mengetahui permasalahannya.
Kami bertambah khawatir, karena taksu tidak takut bahwa kami tidak setuju.istri saya menarik nafas dalam-dalam karena kecewa, lalu begitu saja pergi.saya mulai bicara blak-blakan.
"taksu, dengar baik-baik.bapak hanya bicara satu kali saja. Setelah itu terserah kamu! Menjadi guru itu bukan cita-cita.itu spanduk di jalan kumuh di desa. Kita hidup di kota. Dan ini era milenium ketiga yang diwarnai oleh globalisasi, alias persaingan bebas.di masa sekarang ini tidak ada orang yang mau jadi guru. Semua guru itu dilnya jadi guru karena terpaksa, karena mereka gagal meraih yang lain. Mereka jadi guru asal tidak nganggur saja.ngerti? Setiap kali kalau ada kesempatan, mereka akan loncat ngambil yang lebih menguntungkan. Ngapain jadi guru, mau mati berdiri? Kamu kan bukan orang yang gagal, kenapa kamu jadi putus asa begitu?!"
"tapi saya mau jadi guru."
"kenapa?Apa nggak ada pekerjaan lain? Kamu tahu, hidup guru itu seperti apa? Guru itu hanya sepeda tua. Ditawar-tawarkan sebagai besi rongsokan pun tidak ada yang mau beli.hidupnya kejepit.tugas seabrek-abrek, tetapi duit nol besar.lihat mana ada guru yang naik jaguar.rumahnya saja rata-rata kontrakan dalam gang kumuh.di desa juga guru hidupnya bukan dari mengajar tapi dari tani.karena profesi guru itu gersang, boro-boro sebagai cita-cita, buat ongkos jalan saja kurang.cita-cita itu harus tinggi, taksu.masak jadi guru?Itu cita-cita sepele banget, itu namanya menghina orang tua.masak kamu tidak tahu?Mana ada guru yang punya rumah bertingkat.tidak ada guru yang punya deposito dollar. Guru itu tidak punya masa depan. Dunianya suram. Kita tidur, dia masih saja utak-atik menyiapkan bahan pelajaran atau memeriksa PR. Kenapa kamu bodoh sekali mau masuk neraka, padahal kamu masih muda, otak kamu encer, dan biaya untuk sekolah sudah kami siapkan. Coba pikir lagi dengan tenang dengan otak dingin!"
"sudah saya pikir masak-masak."saya terkejut.
"pikirkan sekali lagi!Bapak kasih waktu satu bulan!"
Taksu menggeleng. "dikasih waktu satu tahun pun hasilnya sama, pak. Saya ingin jadi guru."
"tidak!Kamu pikir saja dulu satu bulan lagi!"
Kami tinggalkan taksu dengan hati panas.istri saya ngomel sepanjang perjalanan.yang dijadikan bulan-bulanan, saya.menurut dia, sayalah yang sudah salah didik, sehingga taksu jadi cupet pikirannya.
"kau yang terlalu memanjakan dia, makanya dia seenak perutnya saja sekarang.masak mau jadi guru.itu kan bunuh diri!"
Saya diam saja.istri saya memang aneh.apa saja yang tidak disukainya, semua dianggapnya hasil perbuatan saya.Nasib suami memang rata-rata begitu.di luar bisa galak melebihi macan, berhadapan dengan istri, hancur.
Bukan hanya satu bulan, tetapi dua bulan kemudian, kami berdua datang lagi mengunjungi taksu di tempat kosnya.sekali ini kami tidak muncul dengan tangan kosong.istri saya membawa krupuk kulit ikan kegemaran taksu. Saya sendiri membawa sebuah lap top baru yang paling canggih, sebagai kejutan.
Taksu senang sekali.tapi kami sendiri kembali sangat terpukul. Ketika kami tanyakan bagaimana hasil perenungannya selama dua bulan, taksu memberi jawaban yang sama.
"saya sudah bilang saya ingin jadi guru, kok ditanya lagi, pak," katanya sama sekali tanpa rasa berdosa.
Sekarang saya naik darah.istri saya jangan dikata lagi.langsung kencang mukanya.ia tak bisa lagi mengekang marahnya.Taksu disemprotnya habis.
"taksu!Kamumau jadi guru pasti karena kamu terpengaruh oleh puji-pujian orang-orang pada guru itu ya?!" damprat istri saya."mentang-mentang mereka bilang, guru pahlawan, guru itu berbakti kepada nusa dan bangsa. Ahh! Itu bohong semua! Itu bahasa pemerintah! Apa kamu pikir betul guru itu yang sudah menyebabkan orang jadi pinter? Apa kamu tidak baca di koran, banyak guru-guru yang brengsek dan bejat sekarang? Ah?"
Taksu tidak menjawab.
"negara sengaja memuji-muji guru setinggi langit tetapi lihat sendiri, negara tidak pernah memberi gaji yang setimpal, karena mereka yakin, banyak orang seperti kamu, sudah puas karena dipuji.mereka tahu kelemahan orang-orang seperti kamu, taksu. Dipuji sedikit saja sudah mau banting tulang, kerja rodi tidak peduli tidak dibayar. Kamu tertipu taksu! Puji-pujian itu dibuat supaya orang-orang yang lemah hati seperti kamu, masih tetap mau jadi guru. Padahal anak-anak pejabat itu sendiri berlomba-lomba dikirim keluar negeri biar sekolah setinggi langit, supaya nanti bisa mewarisi jabatan bapaknya! Masak begitu saja kamu tidak nyahok?"

Taksu tetap tidak menjawab.
"kamu kan bukan jenis orang yang suka dipuji kan? Kamu sendiri bilang apa gunanya puji-pujian, yang penting adalah sesuatu yang konkret. Yang konkret itu adalah duit, taksu.jangan kamu takut dituduh materialistis.siapa bilang meterialistik itu jelek. Itu kan kata mereka yang tidak punya duit. Karena tidak mampu cari duit mereka lalu memaki-maki duit.mana mungkin kamu bisa hidup tanpa duit?Yangbener saja.kita hidup perlu materi. Guru itu pekerjaan yang anti pada materi, buat apa kamu menghabiskan hidup kamu untuk sesuatu yang tidak berguna? Paham?"
Taksu mengangguk.
"paham.tapi apa salahnya jadi guru?"
Istri saya melotot tak percaya apa yang didengarnya. Akhirnya dia menyembur.
"lap top-nya bawa pulang saja dulu, pak. Biar taksu mikir lagi!Kasihdia waktu tiga bulan, supaya bisa lebih mendalam dalam memutuskan sesuatu.ingat, ini soal hidup matimu sendiri, taksu!"
Sebenarnya saya mau ikut bicara, tapi istri saya menarik saya pergi.saya tidak mungkin membantah.di jalan istri saya berbisik.
"sudah waktunya membuat shock therapy pada taksu, sebelum ia kejeblos terlalu dalam.ia memang memerlukan perhatian. Karena itu dia berusaha melakukan sesuatu yang menyebabkan kita terpaksa memperhatikannya. Dasar anak zaman sekarang, akal bulus! Yang dia kepingin bukan lap top tapi mobil! Bapak harus kerja keras beliin dia mobil, supaya mau mengikuti apa nasehat kita!"
Saya tidak setuju, saya punya pendapat lain. Tapi apa artinya bantahan seorang suami. Kalau adik istri saya atau kakaknya, atau bapak-ibunya yang membantah, mungkin akan diturutinya. Tapi kalau dari saya, jangan harap.apa saja yang saya usulkan mesti dicurigainya ada pamrih kepentingan keluarga saya.Istri memang selalu mengukur suami, dari perasaannya sendiri.
Tiga bulan kami tidak mengunjungi taksu.tapi taksu juga tidak menghubungi kami.saya jadi cemas.ternyata anak memang tidak merindukan orang tua, orang tua yang selalu minta diperhatikan anak.
Akhirnya, tanpa diketahui oleh istri saya, saya datang lagi.sekali ini saya datang dengan kunci mobil.saya tarik deposito saya di bank dan mengambil kredit sebuah mobil.mungkin taksu ingin punya mobil mewah, tapi saya hanya kuat beli murah. Tapi sejelek-jeleknya kan mobil, dengan bonus janji, kalau memang dia mau mengubah cita-citanya, jangankan mobil mewah, segalanya akan saya serahkan, nanti.
"bagaimana taksu," kata saya sambil menunjukkan kunci mobil itu. "ini hadiah untuk kamu.tetapi kamu juga harus memberi hadiah buat bapak."
Taksu melihat kunci itu dengan dingin.
"hadiah apa, pak?"
Saya tersenyum.
"tiga bulan bapak rasa sudah cukup lama buat kamu untuk memutuskan.jadi, singkat kata saja, mau jadi apa kamu sebenarnya?"
Taksu memandang saya.
"jadi guru.kan sudah saya bilang berkali-kali?"
Kunci mobil yang sudah ada di tangannya saya rebut kembali.

"mobil ini tidak pantas dipakai seorang guru. Kunci ini boleh kamu ambil sekarang juga, kalau kamu berjanji bahwa kamu tidak akan mau jadi guru, sebab itu memalukan orang tua kamu. Kamu ini investasi untuk masa depan kami, taksu, mengerti? Kamu kami sekolahkan supaya kamu meraih gelar, punya jabatan, dihormati orang, supaya kami juga ikut terhormat.supaya kamu berguna kepada bangsa dan punya duit untuk merawat kami orang tuamu kalau kami sudah jompo nanti.bercita-citalah yang bener. Mbok mau jadi presiden begitu! Masak guru! Gila! Kalau kamu jadi guru, paling banter setelah menikah kamu akan kembali menempel di rumah orang tuamu dan menyusu sehingga semua warisan habis ludes. Itu namanya kerdil pikiran. Tidak! Aku tidak mau anakku terpuruk seperti itu!"
Lalu saya letakkan kembali kunci itu di depan hidungnya. Taksu berpikir. Kemudian saya bersorak gegap gembira di dalam hati, karena ia memungut kunci itu lagi.
"terima kasih, pak. Bapak sudah memperhatikan saya.dengan sesungguh-sungguhnya, saya hormat atas perhatian bapak."
Sembari berkata itu, taksu menarik tangan saya, lalu di atas telapak tangan saya ditaruhnya kembali kunci mobil itu.
"saya ingin jadi guru.maaf."
Kalau tidak menahan diri, pasti waktu itu juga taksu saya tampar.kebandelannya itu amat menjengkelkan.pesawat penerimanya sudah rusak.untunglah iman saya cukup baik.saya tekan perasaan saya.kunci kontak itu saya genggam dan masukkan ke kantung celana.
"baik. Kalau memang begitu, uang sekolah dan uang makan kamu mulai bulan depan kami stop. Kamu hidup saja sendirian.supaya kamu bisa merasakan sendiri langsung bagaimana penderitaan hidup ini.tidak semudah yang kamu baca dalam teori dan slogan. Mudah-mudahan penderitaan itu akan membimbing kamu ke jalan yang benar. Tiga bulan lagi bapak akan datang. Waktu itu pikiranmu sudah pasti akan berubah! Bangkit memang baru terjadi sesudah sempat hancur! Tapi tak apa."
Tanpa banyak basa-basi lagi, saya pergi.saya benar-benar naik pitam.saya kira taksu pasti sudah dicocok hidungnya oleh seseorang.tidak ada orang yang bisa melakukan itu, kecuali mina, pacarnya.anak guru itulah yang saya anggap sudah kurang ajar menjerumuskan anak saya supaya terkiblat pikirannya untuk menjadi guru. Sialan!
Tepat tiga bulan kemudian saya datang lagi.sekali ini saya membawa kunci mobil mewah. Tapi terlebih dulu saya mengajukan pertanyaan yang sama.
"coba jawab untuk yang terakhir kalinya, mau jadi apa kamu sebenarnya?"
"mau jadi guru."
Saya tak mampu melanjutkan.tinju saya melayang ke atas meja.gelas di atas meja meloncat.kopi yang ada di dalamnya muncrat ke muka saya.
"tetapi kenapa?Kenapa?Apa informasi kami tidak cukup buat membuka mata dan pikiran kamu yang sudah dicekoki oleh perempuan anak guru kere itu? Kenapa kamu mau jadi guru, taksu?!!!"
"karena saya ingin jadi guru."
"tidak!Kamu tidak boleh jadi guru!"
"saya mau jadi guru."
"aku bunuh kau, kalau kau masih saja tetap mau jadi guru."
Taksu menatap saya.


"apa?"
"kalau kamu tetap saja mau jadi guru, aku bunuh kau sekarang juga!!" teriak saya kalap.taksu balas memandang saya tajam.
"bapak tidak akan bisa membunuh saya."
"tidak?Kenapa tidak?"
"sebab guru tidak bisa dibunuh.jasadnya mungkin saja bisa busuk lalu lenyap. Tapi apa yang diajarkannya tetap tertinggal abadi. Bahkan bertumbuh, berkembang dan memberi inspirasi kepada generasi di masa yanag akan datang. Guru tidak bisa mati, pak."
Saya tercengang.
"o… jadi narkoba itu yang sudah menyebabkan kamu mau jadi guru?"
"ya!Itu sebabnya saya ingin jadi guru, sebab saya tidak mau mati."
Saya bengong.saya belum pernah dijawab tegas oleh anak saya.saya jadi gugup.
"bangsat!" kata saya kelepasan."siapa yang sudah mengotori pikiran kamu dengan semboyan keblinger itu?Siapa yang sudah mengindoktrinasi kamu, taksu?"
Taksu memandang kepada saya tajam.
"siapa taksu?!"
Taksu menunjuk.
"bapak sendiri, kan?"
Saya terkejut.
"itu kan 28 tahun yang lalu! Sekarang sudah lain taksu! Kamu jangan ngacau! Kamu tidak bisa hidup dengan nasehat yang bapak berikan 30 tahun yang lalu! Waktu itu kamu malas.kamu tidak mau sekolah, kamu hanya mau main-main, kamu bahkan bandel dan kurang ajar pada guru-guru kamu yang datang ke sekolah naik ojek. Kamu tidak sadar meskipun sepatunya butut dan mukanya layu kurang gizi, tapi itulah orang-orang yang akan menyelamatkan hidup kamu. Itulah gudang ilmu yang harus kamu tempel sampai kamu siap.sebelum kamu siap, kamu harus menghormati mereka, sebab dengan menghormati mereka, baru ilmu itu bisa melekat. Tanpa ada ilmu kamu tidak akan bisa bersaing di zaman global ini. Tahu?"
Satu jam saya memberi taksu kuliah. Saya telanjangi semua persepsinya tentang hidup. Dengan tidak malu-malu lagi, saya seret nama pacarnya si mina yang mentang-mentang cantik itu, mau menyeret anak saya ke masa depan yang gelap.
"tidak betul cinta itu buta!" bentak saya kalap."kalau cinta bener buta apa gunanya ada bikini," lanjut saya mengutip iklan yang saya sering papas di jalan."kalau kamu menjadi buta, itu namanya bukan cinta tetapi racun.kamu sudah terkecoh, taksu.meskipun keluarga pacarmu itu guru, tidak berarti kamu harus mengidolakan guru sebagai profesi kamu. Buat apa? Justru kamu harus menyelamatkan keluarga guru itu dengan tidak perlu menjadi guru, sebab mereka tidak perlu hidup hancur berantakan gara-gara bangga menjadi guru.apa artinya kebanggaan kalau hidup di dalam kenyataan lebih menghargai dasi, mobil, duit, dan pangkat? Punya duit, pangkat dan harta benda itu bukan dosa, mengapa harus dilihat sebagai dosa.sebab itu semuanya hanya alat untuk bisa hidup lebih beradab.kita bukan menyembahnya, tidak pernah ada ajaran yang menyuruh kamu menyembah materi.kita hanya memanfaatkan materi itu untuk menambah hidup kita lebih manusiawi.apa manusia tidak boleh berbahagia? Apa kalau menderita sebagai guru, baru manusia itu menjadi beradab? Itu salah kaprah! Ganti kepala kamu taksu, sekarang juga! Ini!"


Saya gebrakkan kunci mobil bmw itu di depan matanya dengan sangat marah.
"ini satu milyar tahu?!"
Sebelum dia sempat menjawab atau mengambil, kunci itu saya ambil kembali sambil siap-siap hendak pergi.
"pulang sekarang dan minta maaf kepada ibu kamu, sebab kamu baru saja menghina kami!Tinggalkan perempuan itu. Nanti kalau kamu sudah sukses kamu akan dapat 7 kali perempuan yang lebih cantik dari si mina dengan sangat gampang! Tidak perlu sampai menukar nalar kamu!"
Tanpa menunggu jawaban, lalu saya pulang. Saya ceritakan pada istri saya apa yang sudah saya lakukan. Saya kira saya akan dapat pujian. Tetapi ternyata istri saya bengong.ia tak percaya dengan apa yang saya ceritakan. Dan ketika kesadarannya turun kembali, matanya melotot dan saya dibentak habis-habisan.
"bapak terlalu!Jangan perlakukan anakmu seperti itu!" teriak istri saya kalap.
Saya bingung.
"ayo kembali! Serahkan kunci mobil itu pada taksu! Kalau memang mau ngasih anak mobil, kasih saja jangan pakai syarat segala, itu namanya dagang! Masak sama anak dagang. Dasar mata duitan!"
Saya tambah bingung.
"ayo cepet, nanti anak kamu kabur!"
Saya masih ingin membantah.tapi mendengar kata kabur, hati saya rontok.taksu itu anak satu-satunya.sebelas tahun kami menunggunya dengan cemas.kami berobat ke sana-kemari, sampai berkali-kali melakukan enseminasi buatan dan akhirnya sempat dua kali mengikuti program bayi tabung.semuanya gagal.waktu kami pasrah tetapi tidak menyerah, akhirnya istri saya mengandung dan lahirlah taksu. Anak yang sangat mahal, bagaimana mungkin saya akan biarkan dia kabur?
"ayo cepat!" teriak sitri saya kalap.
Dengan panik saya kembali menjumpai taksu.tetapi sudah terlambat. Anak itu seperti sudah tahu saja, bahwa ibunya akan menyuruh saya kembali. Rumah kost itu sudah kosong. Dia pergi membawa semua barang-barangnya, yang tinggal hanya secarik kertas kecil dan pesan kecil:
"maaf, tolong relakan saya menjadi seorang guru."
Tangan saya gemetar memegang kertas yang disobek dari buku hariannya itu.kertas yang nilainya mungkin hanya seperak itu, jauh lebih berarti dari kunci bmw yang harganya semilyar dan sudah mengosongkan deposito saya.saya duduk di dalam kamar itu, mencium bau taksu yang masih ketinggalan.pikiran saya kacau.apakah sudah takdir dari anak dan orang tua itu bentrok?Mau tak mau saya kembali memaki-maki mina yang sudah menyesatkan pikiran taksu.kembali saya memaki-maki guru yang sudah dikultusindividukan sebagai pekerjaan yang mulia, padahal dalam kenyataannya banyak sekali guru yang brengsek.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka.saya seperti dipagut aliran listrik.tetapi ketika menoleh, itu bukan taksu tetapi istri saya yang menyusul karena merasa cemas. Waktu ia mengetahui apa yang terjadi, dia langsung marah dan kemudian menangis. Akhirnya saya lagi yang menjadi sasaran.untuk pertama kalinya saya berontak. Kalau tidak, istri saya akan seterusnya menjadikan saya bal-balan. Saya jawab semua tuduhan istri saya.dia tercengang sebab untuk pertama kalinya saya membantah.akhirnya di bekas kamar anak kami itu, kami bertengkar keras.


Tetapi itu 10 tahun yang lalu.
Sekarang saya sudah tua.waktu telah memproses segalanya begitu rupa, sehingga semuanya di luar dugaan.sekarang taksu sudah menggantikan hidup saya memikul beban keluarga.ia menjadi salah seorang pengusaha besar yang mengimpor barang-barang mewah dan mengekspor barang-barang kerajinan serta ikan segar ke berbagai wilayah mancanegara.
"ia seorang guru bagi sekitar 10.000 orang pegawainya. Guru juga bagi anak-anak muda lain yang menjadi adik generasinya. Bahkan guru bagi bangsa dan negara, karena jasa-jasanya menularkan etos kerja," ucap promotor ketika taksu mendapat gelar doktor honoris causa dari sebuah pergurauan tinggi bergengsi.

Guru besar nyabu
Peristiwa tangkap tangan terhadap seorang guru besar yang sedang nyabu di sebuah kamar hotel (plus bersama seorang mahasiswi muda belia) sontak menjadi pemberitaan luas baik di media massa maupun media sosial. Prof Dr Musakkir yang masih aktif menjabat wakil rektor III (bidang kemahasiswaan) Universitas Hasanuddin (UNHAS) itu menjadi terkenal dari sebelumnya.
Masyarakat bertanya-tanya, mengapa seorang guru besar, sosok di mana setumpuk ilmu bersemayam di dalam kalbunya, sampai bisa melakukan perbuatan yang melanggar hukum?Perbuatanyang sudah pasti diketahui bertentangan dengan kearifannya sebagai seorang ilmuwan, bertentangan dengan kepatutan sosial, moralitas, agama, ekspektasi sosial, dan tentu hati nuraninya sendiri?
Masyarakat juga mengaitkan dengan kedudukannya dalam struktur sosial perguruan tinggi yang menjalankan fungsi memproduksi nilai-nilai luhur dan menyemaikannya kepada seluruh warga kampusnya agar berkarakter keilmuan dan sekaligus kesalehan. Ketika kampus justru memproduksi hal-hal yang sebaliknya, kesannya menjadi kontras alias ironis!
Dalam beberapa tahun terakhir ini, memang harus kita akui kampus-kampus perguruan tinggi suntuk hanya memproduksi simbol-simbol keilmuan, sampai lupa pada fungsi yang hakiki simbol-simbol itu. Separo energi insan kampus diforsir mengurusi hal-hal yang bersifat administratif dan formalistik untuk memenuhi standar baku yang ditetapkan direktorat pendidikan tinggi (dikti) maupun ban pt (badan akreditasi nasional).
Seseorang yang punya cita-cita menjadi ilmuwan, ketika masuk menjadi tenaga akademik di sebuah kampus, harus siap menghadapi kenyataan. Petinggi kampus tidak akan bertanya ide-ide keilmuan apa yang akan dikembangkan bila menjadi tenaga pengajar di perguruan tinggi? Pertanyaannya: siapkah saudara memenuhi kredit poin sekian angka kredit setiap semester? Sekian angka dari pengajar, sekian dari pengabdian masyarakat, sekian dari penelitian, dan sekian dari pengembangan ilmu.
Kalau tidak bisa memenuhi syarat administratif angka kredit yang sudah ditetapkan, tidak akan bisa mendapat jabatan akademik. Setelah mendapat jabatan akademik pun, terus dituntut mengumpulkan angka kredit sampai 800-an hingga mendapat gelar akademik tertinggi (guru besar dengan sebutan profesor).
Semangat untuk mengejar simbol-simbol (misalnya, sertifikat pengabdian masyarakat hingga sertifikat seminar) sering membebani ilmuwan.tak ayal, untuk memenuhi syarat-syarat itu, banyak dilakukan artifialisasi formalisme.maka, muncul sertifikat tembakan, jurnal-jurnalan, plagiarisme, dan sebagainya.
Karena itu, muncul ironi dalam realitas kehidupan kampus.individu-individu yang idealismenya tinggi menjadi malas mengurus dokumen-dokumen formal tersebut.kalaupun yang bersangkutan akhirnya menjadi guru besar, biasanya itu terjadi berkat orang-orang di sekitar yang mau menjadi relawan mengumpulkan karya-karyanya menjadi angka kredit.
Maka, banyak individu yang karyanya banyak menjadi acuan dan berpengaruh dalam pemikiran teoretis yang statusnya dalam struktur sosial kampus tak pernah naik. Ashadi Siregar sebagai contoh. Dosen ilmu komunikasi UGM yang karya karyanya tak terhitung jumlahnya dan disegani mahasiswanya tersebut sampai pensiun tak pernah menjadi guru besar.sementara itu, murid-muridnya yang kebetulan menjadi dosen di almamaternya sudah memakai toga kebesaran saat upacara wisuda.
Selebihnya juga banyak dijumpai individu yang sebelumnya tidak pernah published, namun tiba-tiba mendapat SK Presiden menjadi Profesor. Itulah realitas sosial yang berkembang di perguruan tinggi, cenderung menjadi habitus tempat mencetak simbol-simbol aristokrasi modern.nuansanya lebih kental mengejar kekuasaan akademik ketimbang membangun kearifan moral atau mengembangkan ilmu pengetahuan yang substantif.
Karena itu, meskipun kampus-kampus perguruan tinggi semakin mentereng dengan bangunan-bangunan fisik dan keindahan tamannya, semakin sulit kita temukan begawan-begawan yang mengajar kontemplasi keilmuan. Sulit rasanya kita berharap kampus PT dapat melahirkan sosok-sosok sekaliber karl marx, max weber, habermas, talcott parson, heideger, ciffort geerzt, william lidle, dan seterusnya.
Fungsi-fungsi struktur PT barangkali telah mengalami disfungsionalitas karena orientasi formalitas yang berlebihan.karena itu, di samping semakin menjauh dari keilmuan yang substansial, efeknya justru menjadikan beban kerja para ilmuwan tersebut semakin berat dan sering bertentangan dengan hati nurani.karena beban yang berat itu, acap kali penyakit stres dan depresi menjadi bagian dari realitas sosial PT.
Fenomena nyabu merupakan satu saja dari tindakan eskapisme (escape from stress).lainnya, tawuran mahasiswa, pergaulan bebas, jual beli nilai, hingga pelecehan seksual, tersimpan bagai dalam air laut yang tenang.Tinggal tunggu terekspos di media, peta problem PTakan semakin terkuak.Semoga kita semua selamat dari semua hal tersebut.

SUMBER PENUNJANG
4.     Http://www.google.com diakses tanggal 28 november 2014
5.     Http://josi.quora.com diakses tanggal 28 november 2014
6.     Http://smpmaarifbangodua.wordpress.com/2013/01/04/33/ diakses tanggal 28 november 2014
8.     “A Tribute” karya Jamil Azzaini
9.     “Tuhan, Maaf Kami Sedang Sibuk” karya Ahmad Ri’fai Rif’an
  “Ihya’ Ulumuddin” karya Imam Al-Ghazali






Komentar

Tampilkan

Terkini

Followers

+