APAKAH INI JODOHKU?

Jumat, 02 September 2016, September 02, 2016 WIB Last Updated 2021-08-10T23:13:57Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini


APAKAH INI JODOHKU?

A novel, inspired by the true story.
Oleh: Fikri Farikhin,M.Pd.I 

Baru saja aku pulang dari nyambangi orang sakit di sekitar banyuwangi, dan sebelum pulang mampir makan di cafee gumitir. aku kesana bersama rombongan dengan para teman-teman guru. Suasana terasa tiada beda. Tapi yang menjadikan beda adalah suasana ketika mobil fortuner kami keluar dari gerbang yang bertuliskan selamat jalan dari dalam cafe gumitir tersebut. Semua teman-teman udah tidur kecuali aku yang duduk di belakang sendiri dan satu sopir yang tiada boleh lengah sekalipun. Lengah sekali nyawa kami pasti melayang semua.
Dengan suasana hening, diiringi alunan musih asli banyuwangi dengan penyanyi Demy. Suasana sungguh damai. Aku melihat ke luar jendela mobil, aku lihat ke arah kiriku, pepohonan pinus yang disinari oleh cahaya kuning matahari dari barat menandakan waktu sudah sore menjelang maghrib. Dengan suasana ini, muncullah kenangan demi kenangan dalam hidupku semasa aku tamat SMA. Ya, itulah kenanganku. Pada tahun 2004 silam. Masa-masa tamatan dari SMA. Lalu aku pergi ke kediri untuk belajar bahasa inggris. Lalu setelah delapan bulan kemudian aku menjadi guru tugas bahasa inggris di salah satu pesantren di ngawi jawa timur. Dan dari sinilah kisah ini bermula.
Di pesantren aku menjadi guru tugas untuk mengajar bahasa inggris selama satu bulan penuh. Dan dari sinilah kiai pesantren tersebut denganku. Juga para santri dan juga tetangga pondok. Lebih-lebih orang kepercayaannya kiai yang bernama ust Marsoyo. Hari demi hari aku mengajar di pesantren ini, dan akhirnya muncullah rasa cinta dari hati ke hati. Aku disini tak bisa memungkiri. Aku juga manusia. Aku juga punya rasa cinta. Inilah anugerah tuhan yang telah diberikan kepada manusia. Aku yakin tanpa rasa cinta tak mungkin ada kehidupan ini. Udah lama punah sejak dahulu kala. Siti maisarah. Inilah nama yang hingga kini tetap menggelayut di dalam dada. Ya inilah yang hingga tahun 2015 ini masih menyimpan misteri. Akan dia memang ditakdirkan menjadi pendampingku dunia akhirat. Atau ini adalah salah satu skenario tuhan untuk menguji seberapa tebal imanku. Jika memang ini adalah ujian dari tuhan. Semoga aku kuat dan lolos dalam ujian ini.
Ketika itu pada tahun 2005 akhir, aku ditugaskan dipesantren ini. Dan nama yang tadi adalah gadis pujaan hati yang masih menggelayut. Entah kenapa bisa terjadi. Sebab ketika itu dia masih kelas dua MTS. Apakah memang dia menarik, ataukah karena dia adalah “Ning”, seorang putri kiai. Entahlah. Tapi yang jelas ketika itu aku mempunyai rasa yang berbeda dibandingkan dengan gadis yang lain di pesantren tersebut. Dan ternyata cinta tak bertepuk sebelah tangan. Dia sering masuk kamarku meski hanya sekedar main-main. Dan hal itu tak ada yang berani melarang. Sebab ia adalah putri kiai pengasuh pesantren. Dan juga kiai dan bu nyai tak sedikitpun menaruh curiga apapun. Sebab kiai dan bu nyai mempunyai pandangan yang sangat positif terhadapku. Di mata kiai dan bu nyai, aku adalah laki-laki yanga baik, yang memahami dan mengamalkan norma-norma agama. Tak mungkin berbuat yang tak senonoh. Ia yang aku selalu puja-puja ini aku panggil dengan ning sarah. Nama yang hingga kini selalu terngiang-ngiang di diriku. Ah sudahlah aku hanya orang biasa. Aku tak mungkin mendapatkannya. Bagai pungguk merindukan bulan. Itulah pepatah lamannya.
Kiai sering mengajakku keluar pengajian ketika ada undangan. Dan tiap malam kiai selalu keluar. Sehingga hampir tiap malam aku selalu di ajak pengajian. Disana aku dipromosikan ke orang-orang bahwa di pesantrennya ada guru bahasa Inggris dari kediri. Yang katanya pula aku juga tak hanya pandai bahasa Inggris. Tapi juga pandai dalam hal agama. Memang yang dikatakan kiai tak salah. Sebab memang sebelum aku ke kediri untuk belajar bahasa inggris, aku telah belajar di pesantren terbesar di di kotaku selam enam tahun lamanya. Kiai juga tau bahwa aku telah hafal imrity dan juga alfiah. Suatu malam aku dipanggil kiai. Lalu kiai langsung berkata padaku “Mr, coba sampean hafalan Alfiah dari awal. Saya ingin tahu hafalannya sampean.” Tanpa banyak tanya, aku langsung hafalan alfiah hingga dapat dua ratus nadzom, dan ketika aku mau meneruskan, beliau bilang, cukup-cukup. Teryata sampean lancar benar ya. Beliau suatu ketika menyuruhku sebagai badal mengajar kitab. Aku ketika itu berfikir. Gawat. Ini memang diluar dugaan. Aku kesini untuk mengajar bahasa Inggris tapi kok malah suruh mengajar kitab. Namun aku tak bisa menolak permintaan beliau. Pada waktu itu kitab yang dikaji adalah ta’limul muta’allim. Kiai dawuh, “sampean coba terangkan masalah ilmu, sehingga santri-santri menjadi semangat belajar agama. Karena akhir-akhir ini banyak santri yang kurang semangat” kata beliau.
Masih ingat betul tentang pengajian singkat yang telah aku sampaikan ke santri-santri. Aku maju ke mimbar, aku membuka dengan suratul fatihah dan doa. Lalu aku sampaikan ke santri-santri,
“santri-santri yang berbahagia, malam ini saya tidak akan menambah materi dari kitab ini, namun akan saya ganti dengan sharing (berbagi) ilmu pada kalian semua.......” aku jelaskan macam-macam tentang motivasi belajar, lalu apa manfaatnya jika kita pandai dan lain-lain.
@@@@@@@
akhirnya satu bulan pun berlalu dengan cepatnya. Tak terasa udah satu bulan aku disini. Aku menatap ke barat ke tempat anak-anak santri putra main sepak bola. Aku merasa sangat cepat rasanya aku harus meninggalkan tempat ini. Ingin rasanya aku lebih lama lagi untuk tetap disini. Namun apa boleh buat, aku harus pulang karena harus laporang ke tampat aku kursus di kediri.
“Mas, kok diam sendiri? Apa boleh Sarah temani Mas? “
“Oh..., Ning Sarah, silahkan ning. Saya tambah senang kalo ning sarah menemani.”
“serius Mas”
“Ia Ning, masak sih saya bohong”
“emang kenapa mas kok sedih kayaknya?”
“apa karena mau meninggalkan pondok ini?”
“hmmmm...ia ning. Benar sekali ning, kayaknya baru kemarin saya bertemu dengan ning sarah, dan sekarang saya harus pulang ning.” Lalu ning sarah mendekatiku dan menatap mataku dengan tajam layaknya orang dewasa. Aneh sekali, dia masih kelas dua mts. Yang lebih aneh lagi, dia mendekatiku dan berkata padaku “Mas, semoga suatu saat kita bisa bertemu dengan suasana yang lebih menggembirakan lagi dan kita tak hanya sebatas teman tapi lebih dari itu”. Itulah ucapan yang aneh sekali. Aneh karena perkataan itu seperti perkataanya orang dewasa tentang cinta. Lalu apakah dia sudah paham apa itu cinta. Entahlah. Aku tak mau memikirkannya.
@@@@@
Tahun 2008
Ketika itu aku kuliah semester 4. Pada waktu itu aku masih sering berhubungan dengan orang kepercaannya kiai di pesanntren tersebut. Meski pada waktu itu aku sudah di jember, sudah dua tahun aku meninggalkan pesatren tersebut, tapi hubungan tak pernah putus. Dan pada suatu hari aku ditelpon oleh ust. Marsoyo, orang kepercaannya kiai.
“assalamu’alaikum. Halooo”
“wa’alaikumsalam. Pripun ust?”
“ada yang perlu saya sampaikan”
“apa ust?”
“pokoknya ada. Besok pagi bisa telpon? Akan ada yang ingin saya sampaikan”
“ia ust. Besok saya telpon panjenengan.”
“inggih, makasih. Kalo gitu. Wassalamu’alaikum”
@@@@@@
Dan ternyata isi dari telpon dari ust tersebuut adalah ingin menyampaikan salam dari kiai. Kiai memberikan sebuah tawaran yang menjadikan aku seraya tak percaya. Ternyata kiai akan mendohkan aku dengan ning sarah. Ning sarah pada waktu itu masih kelas satu aliyah. Beliau tidak memaksa untuk menikahkan sekarang. Kata beliau ,kapanpun siap. Bahkan beberapa tahun untuk menunggu pun siap. Asal ada kejelasan. Lalu pada waktu itu aku segera telpon ibu di rumah. Lalu ibu kaget malah mengatakan bahwa “looohhh, kok tenan to leee, td malam abamu iki lo mimpi ada burung dara yang sangat indah putih bersih yang di kepalanya ada perhiasannya, apa mungkin ini adalah pertanda.” Itulah kata kata dari ibu, namun sayangnya, ketika ibu mau meneruskann perkataanya , abahku langsung merebut hapenya dan bilang ke aku “leeeee........, kuliah dulu yang dipikirkan. Jodoh itu gampang. Yang penting sekarang fokus dulu belajar. Sudahlah kalo memang jodoh tak akan lari kemana.yang akhirnya aku beri jawaban ke ust tersebuut bahwa aku masih belum boleh memikirkan masalah jodoh. Dan ust tersebut juga menyadari. Cinta memang tak bisa dipaksakan. Jika dipaksakan itu bukan cinta. Tapi pemerkosaan katanya. Dan katanya pula, jawaban itu nanti akan disampaikan ke kiai.
Inilah yang menjadi persoalan besar buatku. Seminggu yang lalu saya dapat sms dari ning sarah. Setelah sekian lama tak ada hubungan apa-apa. Kini dia datang dengan membawa kabar yang mungkin inilah jawaban yang pernah disampaika oleh abahku bahwa “jika memang jodoh tak akan kemana. Pasti dia akan datang dengan sendirinya. Dia bilang padaku bahwa dulu setelah tamat madrasah aliah, dia meneruska kuliah di surabaya. Dan setelah itu meneruskan belajar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Minggu depan tanggal 5 Desember akan mengikuti acara Yudisium pascasarjana.dia memintaku untuk menemaninya. Aku bingung, aku khawatir bahwa dia masih mengharapkanku untuk menjadi kekasihnya, jika memang ia aku mau, karena ia cantik dan menarik. Tapi bagaimana dengan tiga perempuan di jember yang sekarang menunggu keputusanku juga. Aku bingung. Aku pilih yang mana. Ya Allah. Sekian lamanya, apakah ini benar-benar adanya ataukah ini hanya mimpi belaka atau hanya hayalan belaka. Ternyata ini benar-benar hayalan. Sebab dia sekarang udah menikah dengan seorang putra kiai pesantren. Yang sekarang ning sarah ini sudah mempunyai satu putra. Hmmm. Khayalan di mobil ketika kembali dari cafee gumitir.
Gumitir -  kantor pengurus – warung barokah  22 Desember 2015
Komentar

Tampilkan

Terkini

Followers

+