masukkan script iklan disini
PENDEKATAN SUPERVISI KLINIS
Oleh: Fikri Farikhin,M.Pd.I
Oleh: Fikri Farikhin,M.Pd.I
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berbagai permasalahan dalam pembelajaran yang sering di keluhkan masyarakat sperti rendahnya minat guru dalam mengajar, ketidakmampuan guru mengatasi kesulitan menyusun dokumen-dokumen pembelajaran, kesulitan guru melaksanakan tugas mengajar menggunakan keterampilan mengajar yang sesuai tuntunan materi pengajaran, juga adan guru yang ketinggalan dalam informasi pembaharuan dalam bidang pembelajaran, kurangnya koordinasi antar guru.
Munculnya permasalahan pembelajaran tersebut tentu saja disebabkan berbagai hal misalanya pembinaan yang kurang efektif dari supervisor, rendahnya hubungan antarguru dalam melakukan tukar pendapat atau pengalaman mengenai pembelajaran, terlalu sedikit informasi yang dapat di akses oleh gurudan lainlainnya.
Melalui pelaksanakan supervisi pembelajaran yang dilakukan oleh supervisor, maka kondisi nyata dikelas tentang rendahnya mutu layanan belajar dapat dilihat bersama, rendahnya mutu layanan belajar di kelas dapat saja akibat antara lain tata sekolah yang tidak baik, pengawasan sekolah yang kurang, rendahnya kualitas guru yang mengajar, kurangnya fasilitas mengajar, yang semuanya itu terdampak kepada keberhasilan sekolah.
- Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis merumuskan beberapa masalah, yaitu :
1. Artidan makna supervise klinis?
2. Bagimana konsep supervisi dan supervisi Klinis?
3. Bagaimana karakteristik supervisi klinis?
4. Apa tujuan supervisi klinis?
5. Bagiamana teknik dan kriteria supervisi klinis
BAB II
PEMBAHASAN
A. Arti dan makna supervisi klinis
Supervisi klinis sebagai suatu system yang menggambarkan perilaku supervisor yang berhubungan secara langsung dengan guru atau kelompok guru dalam memberikan dukungan, membantu dan melayani guru untuk meningkatkan hasil kerja guru dalam mendidik para siswa.
Snyder dan Anderson (1986) mengatak supervisI klinis adalah suatu teknologi perbaikan pengajaran, tujuan yang di capai, memadukan kebutuhan sekolah dan personal. Sejalan dengan perdapat tersebut Cogan (1980) menengaskan sepervisi adalah upaya yang dirancang secara rasional dan praktis untuk memperbaiki performan guru di kelas, dengan tujuan untuk mengembangkan professional guru dan perbaikan pengajaran.
Cagon (1973) menggambarkan sepervisi klinis sebagai prkaktek dan dasra pemikiran yang rasional dirancang untuk meningkatkan hasil pembelajaran yang dilakukan guru dikelas.
Semangat supervise klinis menurut Acheson dan gall (1987:3)sukardi ungkapkan dalam kata-kata. Supervise klinis adalah suatu proses yang interaktif, berkenaan dengan suatu gaya mengajar gureu yang berbeda.
Cogan menekankan bahwa supervisi klinis adalah upaya bantuan secara langsung yang dibeikan supervisor kepada guru dengan cara melakukan observasi dan analisis hasil observasi guru dalam mengajar agar guru lebih efektif dalam melaksanakan tugas mengajar.prkaktek supervise klinis dilandasi teori spikologi, belajar dan pembelajaran, kepemimpinan, teori motivasi, teori organisasi, teori komunikasi, administrasi dan manajemen.
B. Konsep Supervisi dan Supervisi Klinis
Dalam konsep kuno supervisi disamakan dengan inspeksi dalam artian mencari kesalahan. Sedangkan dalam konsep modern supervisi adalah usaha untuk memperbaiki situasi belajar mengajar sebagai bantuan bagi guru untuk membantu siswa agar lebih baik dalam belajar. Namun kenyataannya di masyarakat, masih banyak orang beranggapan bahwa supervisi pendidikan masih identik dengan pengawasan yang bersifat inspeksi. Akibatnya tingkah laku seperti rasa kaku, ketakutan pada atasan, tidak berani berinisiatif , bersikap menunggu instruksi, dan birokratis lainnya bagi para guru.
Sesungguhnya konsep supervisi pada awalnya adalah adanya kebutuhan sesuatu dalam landasan pengajaran dengan cara membimbing guru, memilih metode mengajar, dan mempersiapkan guru untuk mampu melaksanakan tugasnya dengan kreatifitas yang tinggi.
Secara umum supervisi berarti upaya bantuan kepada guru agar guru dapat membantu para siswa belajar untuk menjadi lebih baik. Supervisi merupakan gabungan dari kata super yang berarti luar biasa, istimewa, atau lebih dari yang lain, sedangkan visi artinya kemampuan untuk melihat persoalan jauh ke depan, dengan demikian supervisi adalah suatu pandangan yang luar biasa yang melihat permasalahan jauh melampaui batas waktu sekarang sampai yang akan datang.
Supervisi sebagai aktivitas yang dirancang untuk memperbaiki pengajaran pada semua jenjang persekolahan, berkaitan dengan perkembangan dan pertumbuhan anak supervisi juga merupakan bantuan dalam perkembangan dari belajar mengajar dengan baik ( Kimbal Willes, 1983), dari sudut manjerial supervisi adalah usaha menstimulir, mengkoordinasi, dan membimbing guru secara terus menerus baik individu maupun kolektif agar memahami secara efektif pelaksanaan aktivitas mengajar dalam rangka pertumbuhan murid secara Kontinyu ( Boardman dalam Syaiful Sagala). Kemudian supervisi pendidikan menkoordinasi, menstimulir, dan mengarahkan perkembangan guru ( Brigs dalam Syaiful Sagala).
Dengan demikian supervisi diberikan kepada guru untuk mendukung keberhasilan belajar siswa, meskipun supervisi sering diterjemahkan sebagai pengawasan namun memiliki arti khusus yaitu “membantu” dan turut serta dalam usaha-usaha perbaikan dan meningkatkan mutu. Kimbal Wiles dalam Saiful Sagala menegaskan bahwa supervisi berusaha untuk memperbaiki situasi-situasi belajar mengajar, menumbuhkan kreatifitas guru, memberi dukungan dan mengikutsertakan guru dalam kegiatan sekolah, sehingga menumbuhkan rasa memiliki bagi guru. Burton mengemukakan bahwa supervisi sebagai usaha bersama untuk mempelajari faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan belajar siswa.
Sejak tahun 1980-an di Indonesia diperkenalkan istilah supervisi klinis atau sering disebut supervisi pengajaran. Cogan mengemukakan bahwa supervisi klinis adalah upaya yang dirancang secara rasional dan praktis untuk memperbaiki performansi guru di kelas, dengan tujuan untuk mengembangkan profesional guru dan perbaikan pengajaran. Unsur penting supervisi klinis mencakup penciptaan iklim supervisi umum yang sehat, sistem supervisi khusus yang saling mendukung disebut “kesejawatan” dan siklus supervisi ini mencakup pertemuan, observasi guru selama bekerja dan analisis pola
Menurut Snyder dan Anderson supervisi klinis dapat diartikan sebagai suatu teknologi perbaikan pengajaran, tujuan yang dicapai dan memadukan kebutuhan sekolah dan pertumbuhan personal. Supervisi klinis merupakan suatu model supervisi untuk menyelesaikan masalah tertentu yang sudah diketahui. Supervisi klinis merupakan sistem bantuan dari dalam kelas yang dirancang untuk memberikan bantuan langsung kepada guru. Dengan supervisi klinis diharapkan jurang yang tajam antara “perilaku nyata” dan “perilaku ideal” para guru dapat diperkecil terutama dalam rangka peningkatan kulaitas dan kemampuan para guru memecahkan berbagai persoalan, karena seringkali para guru menghadapi inovasi-inovasi pendidikan. Supervisi klinis adal suatu proses bimbingan bertujuan membantu pengembangan profesional guru/calon guru, dalam penampilan mengajar berdasarkan observasi dan analisis data secara teliti dan objjektif sebagai pegangan untuk perubahan tingkah laku tersebut.
Dalam prakteknya supervisi klinis mempersyaratkan hubungan intens antara supervisor dan guru ketimbang yang terjadi pada evaluasi tradisional. Supervisi klinis sebagai intervensi yang direncanakan dalam dunia tiruan, karenanya tidak hanya memperhatikan perilaku guru dan anteseden perilaku ini juga berkaitan dengan ketidak utuhan dengan asumsi, kepercayaan, tujuan dan perilaku guru. Supervisor dalam praktek supervisi klinis dapat dilakukan oleh sejawat guru atau kepala sekolah atas dasar kesepakatan bersama baik yang berkaitan dengan teknik pengajaran maupun hal lainnya. Oleh karena itu inti dari supervisi klinis adalah perbaikan pengajaran dengan hubungan yang intens berlanjut dan matang antara supervisor dan guru searah dengan perbaikan praktek profesional guru yang dapat menjamin kualitas pelayanan belajar secara berkelanjutan dan konsisten.
C. Karakteristik Supervisi Klinis
Untuk memandu pelaksanaan supervisi klinis bagi supervisor dan guru diperlukan karakteristik agar arah yang ditempuh sejalan dengan rencana program yang dtentukan sebelumnya, adapun karakteristiknya adalah sebagai berikut :
Karakter supervisi klinis menurut Acheson dan Gall (1987:14) adalah sebagai berikut:
1. Dalam meningkatkan kualitas keterampilan intelektual dan perilaku mengajar guru secara spesifik
2. Supervisi harus bertanggung jawab membantu untuk mengembangkan:
a. Keterampilan menganalisis proses pembelajaran berdasarkan data yang benar dan sistematis
b. Terampil dalam mengujicobakan, mengadaptasi, dan memodifikasi kurikulum
c. Agar semakin terampil menggunakan tehnik-tehnik mengajar , guru harus berlatih berulang-ulang
3. Supervise menekankan apa dan bagaimana guru mengajar untuk meningkatkan kualitaspembelajaran, bukan untuk merubah kepribadian guru.
4. Perencanaan dan analisis berpusat pada pembuatan dan pengujian hipotesis pembelajaran berdasarkan bukti hasil observasi
5. Konferensi berkaitan dengan sejumlah isu-isu penting mengenai pembelajaran,yang relevan bagi guru mendorong untuk berubah
6. Konferensi sebagai umpan balik menitik beratkan pada analisis konstruktif dan penggunaan terhadap pola-pola yang berhasil dari pada menyalahkan pola-pola yang gagal
7. Observasi itu didasarkan pada bukti, bukan pada pertimbangan nilai yang subtansial atau nilai keputusan yang tidak benar
8. Siklus perencanaan, analisis dan pengamatan secara berkelanjutan dan bersifat komulatif
9. Supervise merupakan proses memberi dan menerima yang dinamis dimana supervisor dan guru adalah kolega yang eneliti untuk menemukan pemahaman yang saling mengerti bidang pendidikan
10. Proses supervise pada dasarnya berpusat pada analisis pembelajaran
11. Guru secara individual memiliki kebebasan dan tanggung jawab untuk menganalisis dan menilai isu-isu,meningkatkan kualitas pengajaran dan mengembangkan gaya mengajar personal guru
12. Proses supervise dapat diterima, di analisis dan dikembangkan lebih banyak sama dengan keadaan pengajaran yang dapat dilakukan
13. Seorang supervisor memiliki kebebasan dan tanggung jawab menganalisis kegiatan supervisinya dalam hal yang sama dengan analisis evaluasi guru tentang pembelajarannya
Fungsi Utama Supervisor dalam praktek supervisi klinis adalah mengajarkan keterampilan kepada guru/calon guru antara lain:
1. Mengamati dan memahami proses pengajaran anlitis
2. Menganalisis proses pengajaran secara rasional berdasarkan bukti-bukti pengalaman dalam bentuk data dan informasi yang jelasdan tepat
3. Dalam pengembangan dan percobaan kurikulum, dan evaluasi kurikulum Mengajar dan menggunakan model dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran.
D. Fokus Supervisi Klinis
Pengawas sekolah maupun kepala sekolah yang melaksanakan supervisi klinis perlu memahami secara jelas arah dan fokus supervisi klinis. adapun supervise klinis adalah perbaikan cara guru melaksanakan tugas mengajar menggunakan model dan strategi yang lebih interaktif dapat menjadikan peserta didik pelajar dan bukan mengubah kepribadian guru.sedangkan focus supervise klinis pada masalah mengajar dalam jumlah keterampilan yang tidak terlalu banyak, mempunyai arti vital bagi pendidik berada pada jangkauan intelektual sedangkan dapat diubah jika perlu.
Sarat-Sarat sebagai supervisor dalam praktek supervisi klinis adalah:
- Mempunyai kenyakinan bahwa guru memiliki kemampuan atau potensi untukmemecahkan masalah sendiri dan mengembangkan dirinya
- Berkenyakinan bahwa guru mempunyai kebebasan untuk memilih dan bertindak mencapai tujuan yang diinginkan
- Memiliki kemampuan untuk menanyakan kepada orang lain dan dirinya sendiri tentang asunsi dasar serta kenyakinan atasdirinya
- Mempunyai komitmen dan kemampuan untuk membuat rekan gurunya merasa penting, dihargai, dan maju
- Memiliki kamauan dan kemampuan untuk dapat membina hubungan yang akrab dan hangat dengan semua orang tampa pandang bulu
- Memiliki kemampuan untuk mendengarkan sertakeinginan untuk memanfaatkan pengalaman-pengalaman guru sebagai sumber dan membuatnya berusaha mencapai tujuan
- Memiliki antusiaisme dan kenyakinan atas supervise klinis sebagai proses kegiatan yang terus menerus untuk melanyani pertumbuhan dan perkembangan pribadi serta profesi guru
E. Tujuan Supervisi Klinis
Supervisi klinis mempunyai dua tujuan yaitu tujuan umum dan tujuan secara khusus.
1. Tujuan Umum
Konsep supervisi adalah memberi tekanan pada proses “pembentukan dan pengembangan profesional” dengan maksud memberi respons terhadap pengertian utama serta kebutuhan guru yang berhubungan dengan tugasnya. Pembentukan profesional guru yang bermaksud untuk menunjang pembaharuan pendidikan serta untuk memerangi kemerosotan pendidikan terutama harus dimulai dengan cara mengajar guru dikelas. Dengan perbaikan dan penyempurnaan diharapakan siswa dapat belajar dengan baik sehingga tujuan pendidikan dan pengajaran dapat tercapai secara maksimal.
Mengajar adalah suatu kegiatan yang dapat dikendalikan (controrabeland maganeable) dapat diamati (observable)dan terdiri dari komponen-komponen ketrampilan mengajar yang dapat dilatih secara terbatas (isolater) maka ketiga kegiatan pokok dalam supervisi klinis yaitu pertemuan pendahuluan, observasi guru pada saat bekerja dan peninjauan pola sehingga tujuan umum supervisi klinis adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan mengajar guru dikelas. Dalam hubungan inilah supervisi klinis merupakan kunci untuk meningkatkan kemampuan profesional guru.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus supervisi klinis adalah sebagai berikut :
1. Menyediakan suatu balikan bagi guru secara objektif dari kegiatan yang baru saja mereka lakukan, ini merupakan cermin agar guru dapat melihat apa sebenarnya mereka perbuat saat mengajar, sebab apa yang mereka lakukan mungkinsekali sangat berbeda dengan perkiraan mereka
2. Mendiagnosis, memecahkan dan membantu memecahkan masalah mengajar
3. Membantu guru mengembangkan keterampilan dalam menggunakan strategi-strategi mengajar.
4. Sebagai dasar untuk menilai guru dalam kemajuan pendidikan, promosi jabatan atau pekerjaan mereka
5. Membantu guru mengembangkan sikap positif terhadap pengembangan diri secara terus menerus dalam karier dan profesi mereka secara mandiri
6. Perhatian utama pada kebutuhan guru.
Pada waktu seorang guru mempersiapkan dirinya mengajar, sedang mengajar, maupun sudah mengajar, ada dua hal yang utama menjadi perhatian utama maupun kebutuhan yaitu : kesadaran dan kepercayaan akan dirinya serta keterampilan-keterampilan dasar yang diperlukan dalam mengajar. Kesadaran dan kepercayaan diri dalam mengajar itu muncul dalam pertanyaan sebagai berikut :
1. Dimanakah saya berada?
2. Bagaimanakah tanggapan serta perasaan siswa mengenai diri saya?
3. Seberapa besarkah kemampuan saya?
4. Apakah siswa menemukan yang sebenarnya dia perlukan dalam belajar?
5. Bagaimanakah saya dapat memperbaiki diri saya sebagai guru?
Disadari atau tidak, di dalam mengajar guru memerlukan keterampilan dasar (generic skill) tertentu agar ia dapat mengajar lebih baik dan agar tujuan pelajaran dapat tercapai. Keterampilan-keterampilan dasar tersebut dapata dikelompokkan sebagai berikut :
1. Keterampilan menggunakan variasi dalam mengajar menggunakan stimulus, yang terdiri dari emberi penguatan (reinforcement)
2. Variasi gaya interaksi dan penggunaan alat pandang dengar (variability), menjelaskan (explaining), serta
3. membuka dan menutup pelajaran (introductory procedures and clusure)
Keterampilan melibatkan siswa dalam proses belajar yaitu bertanya dasar dan lanjutan (basic and advanced questioning), memimpin diskusi kelompok kecil (guiding smaal grup discussion), mengajar kelompok kecil (small group teaching),mengajar berdasarkan perbedaan individu (individualizet instruction),mengjar melalui pertemuan siswa (discovery learning), dan membantu mengembangkan kreatifitas siswa (fostering qualitivity).
Seorang supervisor yang baik harus memiliki beberapa syarat yaitu :
1. Mempunyai keyakinan bahwa guru memiliki kemampuan atau potensi untuk memecahkan masalah sendiri dan mengembangkan dirinya.
2. Berkeyakinan bahwa guru mempunyai kebebasan untuk memilih dan bertindak mencapai tujuan yang diinginkan
3. Memiliki kemampuan untuk menanyakan kepada orang laindan dirinya sendiri tentang asumsi dasar serta keyakinan atas dirinya.
4. Mempunyai komitmen dan kemampuan untuk membuat rekan gurunya merasa penting, dihargai dan maju.
5. Memiliki kemauan dan kemampuan untuk dapat membinahubungan yang akrab dan hangat dengan semua orang tanpa pandang bulu.
6. Memiliki kemampuan untuk mendengarkan serta keinginan untuk memanfaatkan pengalaman-penglaman guru sebagai sumber membuatnya berusaha mencapai tujuan.
7. Memiliki antusiaisme dan keyakinan atas supervisi klinis sebgai proses kegiatan yang terus menerus untuk melayani pertumbuhan dan perkembangan pribadi serta profesi guru
8. Mempunyai keterampilan dalam berkomunikasi, mengobservasi dan menganlisis tingkah laku guru mengajar
9. Mempunyai suatu komitmen untuk mengembangkan dirinya sendiri, serta berkeinginan keras untuk terus memperdalam supervisi
F. Kriteria dan Teknik supervisi Klinis
Agar proses supervisi klinis dapat berjalan dengan baik dan lancar perlu kriteria serta teknik tertentu. Kriteria dan teknik pertemuan pendahuluan terdiri dari hal-hal yang perlu dinilai oleh supervisor terhadap guru, penentuan ini adalah mengadakan pertemuan dengan guru dalam suasana yang menyenangkan, tidak mengancam dan menakuti, menentukan bersama segi yang harus diamati selama pelajaran berlangsung dan cara membuat observasi. Jika ada supervisor menanyakan pengalaman penampilan masa lalu untuk melihat segi-segi atau sub keterampilan yang akan diperbaiki atau disempurnakan.
Kriteria dan teknik observasi sebagai fungsi utama supervisi yang berusaha “menangkap” apa yang terjadi selama berlangsung secara lengkap agar supervisor dan guru dapat secara tepat mengingat kembali pelajaran atau bagian daripada pelajaran dengan tujuan mengadakan analisis yang objektif. Ide pokok adalah mencatat apa yang terjadi dan bukan disimpan dengan baik bemanfaat dalam analisis dan komentar kemudian. Hal yang perlu diperhatikan adalah:
1. Kelengkapan catatan. Usaha mencata sebanyak mungkindikatakan taau dilakukan selama pelajaran berlangsung. Hasilnya akan merupakan bukti-bukti bagi guru dan supervisor untuk dikemukakan pada waktu bersama-sama menganalisis apa yang telah terjadi selama pelajaran berlangsung. Semakin spesifik myang digambarkan, semakin berarti ananlisis supervisor. Daripada mengatakan “teknik bertanya anda menghalangi jawaban siswa” maka akan lebih baik apabila supervisor dapat menunjukkan beberapa partanyaan atau pernyataan guru sewaktu mengajar untuk menggambarkan maksud tersebut.
2. Fokus. Tidak mungkin untuk mencatat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas maka supervisor harus memiliki asapek-aspek keterampilan yang akan dicatat. Hal ini sebaiknya dilakukan dengan persetujuan guru sebelumnya yaitu didalam pertemuan pendahuluan. Yang sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya diwujudkan dlaam bentuk semacam kontrak. Misalnya dalam suatu pelajaran tertentu adalah lebih baik untuk memfokuskan observasi tersebut pada reaksi siswa terhadap pernyataan guru atau terhadap penyegaran pertanyaan, dan sebagainya.
3. Menyesuaikan observasi dengan periode perkembangan mengajar guru. Observasi mungkin akan menjadi selektif bila praktek atau latihan mengajar guru berkembang. Fokus observasi ditujukan pada aspek-aspek yang lebih diinginkan guru misalnya jika guru mempunyai kesulitan mengadakan transisi dalam pelajaran maka hal tersebut merupakan sesuatu yang perlu difokuskan dalam observasi
4. Mencatat komentar walaupun proses mencatat harus seobjektif mungkin, supervisor sering ingin mencatat komentra-komentranya agar tidak terlupakan. Cara terbaik untuk melakukan hal ini adalah dengan memisahkan komentar dari catatan tetntang proses pengajaran. Catatan ini ditempatkan pada tipe format observasi atau dengan menggunakan tanda kurung.
5. Pola pengajaran adalah sangat bermanfaat untuk mencatat pola tingkah laku pengajaran tertentu dari guru misalnya unutk memberikan penguatan atau dalam mereaksi terhadap pernyataan siswa untuk dibicarakan dalam pertemuan balikan.
6. Membuat guru tidak gelisah pada permulaan keterampilan mengajar, guru sering menjadi bingung apabila ada orang dibelakang kelas sambil mengamati dan membuat catatan-catatan tentang dirinya. Untuk meredakan atau menghilagkan perasaan gelisah ini maka dalam pertemuan pendahuluan supervisor harus mengatakan secara jelas bahwa yang dicatat hanya hal-hal yang disepakati dan harus ada persetujuan kesepakatan tentang apa yang akan diobservasi atau dicatat.
Kinerja dan teknik balikan serta fungsi balikan dan hubungannya dengan supervisi klinis adalah untuk menolong guru memperhatikan perubahan atau lebih tepat peningkatan dalam tingkah laku mengajarnya. Balikan merupakan suatu informasi kepada guru mempengaruhi siswanya dalam kegiatan belajar mengajar. Untuk mencapai maksud terebut harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Lebih bersifat deskriptif daripada evaluatif. Balikan harus lebih bersifat deskriptif daripada evaluatif karena fungsinya adalah memberi gambar yang terperinci tentang penampilan guru, gambaran terperinci akan membantu guru menyadari kemampuannya tanpa merasa dihakimi, sehingga muncul keinginan untuk meningkatkan kemampuannya. Lagipula dengan menghindari bahasa yang lebih bersifat evaluatif akan terkurangi reaksi atau sikap defensif guru.
2. Memenuhi kebutuhan baik supervisor maupun guru
3. Ditujukan untuk tingkah guru yang dapat dikendalikannya.
4. Isi balikan merupakan permintaaan guru dan bukan yang diadakan oleh supervisi
5. Tepat waktunya, balikan akan bermanfaat apabila diberikan setelah melaksanakan pengajaran
6. Harus terkomunikasikan secara jelas kepada guru.
7. Apabila balikan itu diberikan oleh kelompok maka guru dan supervisor harus mempunyai kesempatan untuk mencocokkannya dengan yang diberikan untuk kelompok untuk menguji ketepatan balikan.
8. Harus dapat menolong guru memperhatikan kelebihan-kelebihannya untuk mengembangkan gaya mengajarnya sendiri. Dalam hal ini perlu diberi penguatan untuk cara mengajar yang efektif tersebut.
9. Hendaknya dimulai dulu dengan menunjukkan keunggulan-keunggulan atau segi-segi yang menimbulkan masalah baginya.
10. Data balikan dalam bnetuk instrument observasi harus disimpan dengan baik oleh supervisor dan merupakan catatan mengenai perkembangan keterampilan mengajar guru. Seperti kartu status pasien bagi seorang dokter yang sewaktu-waktu dapat digunakan bila diperlukan.
Dari sepuluh kriteria tersebut dapat disimpulkan bahwa balikan merupakan suatu cara dan alat untuk memberikan pertolongan kepada guru yang mengalami kesulitan baik aspek pedagogik maupun materi pelajaran. Sarana dalam menetapkan identitas guru, karena secara tidak langsung menjawab pertanyaan “siapa sebenarnya saya ini?”. Peranan utama seorang supervisor adalah menciptakan kerjasama yang memungkinkan pertumbuhan keahlian dan kepribadian orang yang diajaknya bekerjasama. Oleh karena itu supervisor diharapkan mampu melaksanakan fungsi mendiagnosis dan menilai, merencanakan, memberi motivasi, memberi penghargaan dan melaporkan kemajuan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu:
1. Supervisi klinis adalah perbaikan pengajaran dengan hubungan yang intens berlanjut dan matang antara supervisor dan guru searah dengan perbaikan praktek profesional guru yang dapat menjamin kualitas pelayanan belajar secara berkelanjutan dan konsisten.
2. Supervisi klinis memiliki karakteristik atau fokus antara lain, merubah cara mengajar serta didasarkan atas bukti pengamatan.
3. Tujuan sup ervisi klinis meliputi tujuan umum dan khusus
4. Kriteria dan teknik supervisi klinis meliputi pertemuan pendahuluan, observasi guru pada saat bekerja dan peninjauan pola atau teknik balikan
B. Saran - saran
Dalam rangka mencapai tujuan pendidikan, maka berbagai upaya harus dilakukan oleh stakeholder pendidikan. Salah satu upaya yang dimaksud adalah supervisi guru. Supervisi guru bukan hanya dilakukan oleh supervisor tetapi dapat pula dilakukan oleh kepala sekolah maupun teman sejawat dengan melakukan supervisi klinis. Kegiatan supervisi klinis dapat dilaksanakan dengan baik setelah memahami konsep dan langkah-langkah pelaksanaan supervisi klinis.
DAFTAR PUSTAKA
Firdaus, Standar Supervisi Pendidikan pada Madrasah Tsanawiyah,Derpartemen agama, Dirjen Kelembagaan Agama Islam, 2005.
Hadari, Nawawi, Adminstrasi Pendidikan, Jakarta: Gunung Jati, 1983
Rivai. Moch., Adminstrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung: Jammers, 1987
Sagala, Syaiful, Administrasi Pendidikan Kontemporer, ( Cet. Ke-5, Bandung; Alfabeta, 2005).
Sutisna, Oteng, Adminstrasi Pendidikan Dasar Teoritis untuk Praktek Profesional, Bandung:Angkasa, 1983