SEKILAS TENTANG ISTIDRAJ

Minggu, 11 September 2016, September 11, 2016 WIB Last Updated 2021-08-10T23:13:40Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini


SEKILAS TENTANG ISTIDRAJ
Oleh: Fikri Farikhin,M.Pd.I

Perbuatan buruk,
Selalu berbuah buruk,
Apa saat ini yang sedang engkau hadapai…?
Tumpukan utang…?
Permasalahan bisnis dan pekerjaan…?
Ancaman keretakan rumah tangga…?
Persoalan keturunan…?
Kehilangan harta benda…?
Kehinaan nama…?
Penyakit…?
Mungkin saat ini engkau menganggap bahwa diri anda sedang terupuruk. Tapi biarlah. Biarkan keterpurukan datang, biarkan ketersudutan datang, biarkan penyakit menyentuh kehidupan anda. Sementara ia datang, persiapkan saja diri sebaik-baiknya agar ketika semuanya berlalu, kita sudah menjadi manusia yang lebih baik yakin akan keberadaan Allah.
Tapi tarikllah sebuah pelajaran hidup yang berharga dari kehidupan yang telah terlewati, kehidupan kita bertutur, “Tempuhlah jalan-jalan kebaikan, dan jangan menempuh jalan keburukan.” Sebab Allah sudah mengingatkan bahwa siapa pun yang tidak menghendaki kesusahan, tidak menginginkan kesulitan di kehidupan dunia ini, hendaknya selalu berbuat baik, dan menjauhi keburukan.
Apapun perbuatan buruk yang kita lakukan, hanya akan mengantarkan kita kepada kenestapaan yang mungkin berkepanjangan, dan apa pun kejahatan yang kita kerjakan, hanya akan mengantarkan kita kepada penyesalan yang mungkin kita ratapi sepanjang sisa hidup.
Renungkanlah wahai hatiku…
Tidak ada satu pun yang bias meloloskan diri dari hokum sebab akibat.
Renungkanlah wahai diriku… Tidaklah satu pun manusia yang bias lolos dari kejaran akibat buruk perbuatan buruk…
Jangan tertawa dulu, untuk siapa saja yang telah mengecewakan Allah dan menari-nari di atas penderitaan orang lain.
Jangan dulu bertepuk dada, untuk anda yang berada di atas angin dan kemudian melupakan sesama.
Boleh saja berteriak kesenangan, ketika mempertontonkan keburukan dan memperlihatkan kemaksiatan.
Tapi jangan menangis, ketika Allah perlihatkan akibat buruk dari kelakuan buruk.
“janganlah kamu kira bahwa orang-orang yang kafir itu dapat melemahkan (Allah dari mengazab mereka) di bumi ini, sedang tempat tinggal mereka (di akhirat) adalah neraka. Dan sungguh amat jeleklah tempat mereka kembali.” (QS. An-Nuur:57)
Camkan sekali lagi hal berikut! Allah tidak akan pernah membiarkan seseorang berlaku sewenang-wenang kemudian ia bias bebas melangkah. Hingga kemudian ia tersudut, tersungkur dan mau kembali memohon ampunan-Nya.
“dan kembalilah kamu kepada tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya.” (QS. Az-Zumar:57)
Terlalu banyak kita saksikan kehancuran seseorang setelah masa keemasannya berlalu.
Banyak kita temukan orang-orang kaya yang nestapa di tengah kekayaannya.
Tidak sedikit kita dengar pejabat-pejabat yang hina di akhir masa jabatannya, atau malah ketika jabatannya masih dalam genggamannya.
Tidak jarang kita menemukan rumah-rumah mewah yang basah dengan air mata kesedihan.
Sering kita melihat kenyataan rapuhnya orang-orang yang kita anggap hebat, kaya, dan sukses… rapuh keadaan ekonominya dengan setumpuk masalah dan utang…
Saudaraku…
Dan engkau juga wahai diriku…
Hidup tidaklah pernah abadi…
Begitu juga dengan kesenangan dan kesusahan,
Tidak penah abadi…
Tidak heran bila di dalam Al-Qur’an kita diperintahkan untuk berjalan di muka bumi ini dan melihat-lihat apa yang menyebabkan kegagalan seseorang memeroleh ketenangan, kebahagiaan, dan rasa aman supaya kita jangan mencicipi kegagalan dan kepahitan, justru di balik kesuksesan dan manisnya dunia yang kita genggam.
Tidaklah usah terlalu jauh, lihatlah diri kita. Apa yang kemudian terjadi setelah kita melakukan sebuah penipuan, misalnya, apakah kita akan bisa tenang…? Bagi yang keseringan, “jawabannya bisa jadi tenang-tenang saja.
Tapi itu bukan jawaban. Itu hanya perasaan nafsu yangsudah dikipasi kipasnya setan. Jawaban yang pasti, tidak bisa. Kita selalu dikejar (atau kelak akan dikejar) persaan berdosa dan oleh akibat dosa itu sendiri. Tanya diri kita, senangkah kita bila melakukan keburukan? Boleh jadi senang, namanya saja nafsu. Tapi semampunya hanya sebentar, sebelum kemudian tersudutkan. Begitu pula dengan perbuatan-perbuatan maksiat yang lain.
“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya. (QS. Al-Muddatstsir:38)
Komentar

Tampilkan

Terkini

Followers

+