MBAH MUCHID MUZADI, NINJA, DAN KIAI MUZAKKI

Jumat, 07 Oktober 2016, Oktober 07, 2016 WIB Last Updated 2021-08-10T23:13:27Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini



Menjadi aktivis? Itulah yang pertama kali saya dengar ketika senior kami menawarkan untuk ikut pelatihan kader dasar atau mapaba atau semacamnya di IPNU Komisariat Imam Bonjol Jember. Sebelumnya, saya hanya dengar IPNU itu organisasi kader di bawah NU sebagaimana yang dijelaskan oleh guru ke NU an saya dan Guru Aswaja sekaligus Pak Bukhori saat belajar di MI dan MTs Nurul Islam. Bagaimana bentuknya dan apa kegiatannya, saya belum tahu karena selama di MTs pun saya yang hidup di desa dan tinggal di pesantren desa tak ikut-ikut acara ini. Beda dengan sekarang, meskipun di desa, adik-adik kelasku sudah pada aktif di IPNU Komisariat Pasirian, yang mana pada zaman saya dulu belum ada aktivisnya karena masih pada belajar dan mondok di bebagai pesantren jawa timur. Kontan saja ajakan itu langsung saya terima dengan hangat dan senang hari. Karena pesan bapak dan keluarga besar saya hanya satu saat mau berangkat sekolah ke jember. Jadilah tetap NU dan jangan terpengaruh dengan ajaran dan keyakinan apapun selain NU. Mungkin saat itu bapak sudah tahu dari pada guru atau info lainnya jika di Jember ada potensi konversi keyakinan jika tak kuat memegang teguh pendirian. Wujud dari pelaksanaan wasiat dan pesan para guru dan orang tua saya itu lalu saya tafsiri dengan aktif di banom NU yang bernama IPNU, sebuah organisasi yang mengumpulkan semua pelajar NU yang sifatnya nasional. Pilihan ini tak butuh banyak pertimbangan dan rasio karena memang begron saya yang orang NU, keluarga NU, lahir dan besar di lingkungan NU serta jebolan pesantren NU. Ditambah lagi saat itu ada suasana ‘tantangan’ yang sengaja di disain oleh ustad muhayyan untuk mendorong anak didiknya aktif di organisasi extra selain di Osis dan asrama MAK. Tantangan yang saya maksud adalah ustadz mendorong teman-teman kami yang memang kebetulan bertalar belakang muhamadiyah atau abu-abu yak berpihak untuk aktif di IRM (Ikatan Remaja Muhammadiyah) karena itulah, anak-anak yang selama ini memang berlatar belakang NU ya menjadi tertantang dan berani menunjukkan eksistensinya. Cerita ‘persaingan’ yang sengaja dibikin ustad muhaayyan untuk membikin suasana siswa MAK ini menjadi dinamis ternyata sudah berlangsung sejak lama dan sejak awal kali berdirinya MAPK dulu. Para senior saya yang masih di jember seperti mas Ahsin yang saat itu masih kuliah S1 meskipun lulusan awal-awal MAPK secara detail menjelaskan cerita ini secara turun temurun. Tujuannya, membentuk sikap dan jiwa kader IPNU dari MAK yang notabene dibawah asuhan ustadz muhayyan untuk tetap sabar dan kuat serta mental baja meskipun ada tekanan atau ancaman soal nilai karena aktif di IPNU. Kami pun tak merasa takut dan khawatir dengan pressure yang ada meskipun juga kadang konon ada ancaman nilai bagi yang aktif di IPNU. Sebab tekad saya saat itu adalah menjalankan amanat bapak menjaga keyakinan dan keimanan ala NU dan ahlussunnah waljamaah. Banyak teman-teman saya yang akhirnya pada aktif di IPNU dan di IRM, namun dalam konteks pergaulan sehari-hari kami tetap rukun dan guyub sebagaimana keluarga. Saya ingat betul, ada mas Zayyin, sang pimpinan yang suka mengajak kami ke kantor NU, ada mas Zaeni yang menjadi ketua dikemudian hari dan saya sekretarisnya setelah dilakukan RAT, ada mas ferdian, Irfan, solahuddin dan banyak lagi yang lainnya. Sementara dari aktivis PRM, ada mas Maman sebagai pemimpinnya, ada mas catur, nadhif, Istnan, Rahmat dan lainnya. Sementara bagi yang tak ikut dan terlibat di kedua organisasi ini, mereka aktif di PII (pelajar islam Indonesia) yang dipimpin oleh mas Ansori. Saya sendiri tak tahu sejarah dan begron gerakan ini awalnya, sehingga saya pun ikut-ikutan merangkap bersama teman-teman lain yang jga aktif di IPNU maupun di IRM. Dan di PII inilah kami kenal tokoh-tokoh seperti eggi sudjana, AM Saefuddin, Gogon Sumargono termasuk selebaran atau buku putih yang menjelakan gerakan islam bawah tanah dan anti Suharto yang saat itu dilarang beredar. Namun, saya tak terlalu dala terlibat di PII karena sembagaimana amanat keluarga, saya jangan sampai jadi murtad dari NU. Bagi yang aktif di IPNU tentu rajin dan sering bermain ke markas IPNU yang lokasinya sekarang di depan kampus baru MAN Jember, yaitu kantor PCNU Jember. Yang di IRM pun juga sering kumpul di kantor IRM dan tokoh muhammadiyah kaliwates, sementara yang aktif di PII sering bolak-balik ke kampus Unej Jember karena markasnya di sana, di jalan Sumatera dan Kalimantan atau jalan jawa. Aktifnya teman-teman MAK-MAPK di bebeapa organisasi extra kampus inilah yang membuat kualitas anak-anak lulusan kawah candradimuka kaliwates menjadi lebih siap saat terjun ke masyarakat di kemudian hari. Baik yang langsung menuju dunia kerja sebagai ustad atau guru maupun yang melanjutkan kuliah di perguruan tinggi. Sebab, sejak masih SMA kita didik untuk tahu dan ngerti peta gerakan organisasi kemasyarakatan di Indonesia dan underbownya. Serta tahu juga gerakan-gerakan bawah tanah yang ingin menegakkan syariat islam. Karena memang saat itu suasana politik nasional masih dalam kendalinya pak Harto dan belum ada partai-partai yang banyak seperti sekarang ini. Belum ada PKB, PAN, PKS dan partai lainnya yang lahir dari rahim reformasi. Di IPNU inilah kami juga punya cerita dan kenangan yang luar biasa, kami punya teman-teman pejuang yang sekarang ndak tahu jadi apa, ada ketua IPNU mas Slamet yang lucu rendah hati. Ada mas Simon yang gayanya top kalau berdebat, ada mas Arifin yang tinggi besar dan suka kasih motiviasi, ada mas Ahsin yang senior kami langsung namun telat kuliah S1 nya karena harus mengabdi menjadi tenaga pengajar dulu setelah lulus MAPK dan ada senor-senor putrid dari Unej jember, seperti mbak iffah, mbak siapa lagi saya lupa, termasuk mbak yang dari malang yang dokter gigi. Sementara di angkatan saya, ada Febri anak banyuwangi, ada ledy, saya lupa namanya, ada Fatimah dan beberapa yang lain. Saya ingat betul 3 anak ini karena 3 inilah yang menjadi pengurus teras IPPNU dan rajin ke kantor serta bersama-sama kami mengelar berbagai macam acara mulai dari pelatihan, diskusi hingga seminar dan semiloka. Kader lain dari kos-kosan juga banyak. Ada atjik yang kebetulan anak lumajang, ada yang berasal dari pesantrennya kiai fauzan, ada juga yang dari pesantrennya miftahul ulum, tapi saya lupa namanya. Saya dan kami anak MAK lebih dekat dengan para pejuang putrid IPNU itu karena sama-sama aktivis di Osis dan Juga IPNU-IPPNU. Selain itu, karena saking arabnya anara kami, seringkali febri dan Fatimah ini mengojloki saya. Saya dijodoh-jodohnkan pacaran dengan Ledy yang juga aktivis IPPNU dan Osis. Temen-temen IPNU saya dari asrama juga demikian, yang paling getol seingat saya saat itu adalah gus zayin, sehingga suasana saat itu menjadi canggung dan kurang enak jika sudah dimainkan soal gojlok-gojlokan itu. Karena faktanya memang saya tak ada minat dan tak tertarik untuk pacaran dan bermain asmara di saat itu. Tujuan saya hanya satu belajar dan belajar serta menempa diri untuk persiapan masa depan yang lebih baik dan cemerlang. Banyak cerita dan kenangan yang muncul saat kami bersama menjadi bagian dari tim dan keluarga selama berproses di IPNU dan IPPNU saat itu. Sebab, di IPNU inilah saya pertama kali kenal kiai muchid muzadi yang saat itu sudah sepuh dan senior pengurus PBNU tetapi mau datang dan rela dengan keterbatasan yang ada menajdi pembicara di acara IPNU komisariat imam bonjol. Dahsyat nggak. Sungguh luar biasa dan masyallah perjuangan beliua, semoga allah menjaganya dan senantiasa member kesehatan kepada beliau. Karena sampai saat ini beliau masih diberi umur panjang. Saya sendiri pun pernah sowan dan berkunjung ke rumah beliau di dekat kampus unej jember saat menjadi pengurus IPNU dulu. Di IPNU ini pula kami juga muai mengenal KNPI, PMII, HMI, IMM, GMNI, PMKRI dan lainnya. Sebab keterlibatan saya di IPNU menjadikan saya sering diajak mas selamet dan mas arifin atau ahsin untuk ikut rapat-rapat dengan aktivis mahasiswa. Khususnya rapat itu makin sering ketika menjelang pemilihan ketua KNPI Jember.Saya bahkan sebagai kader IPNU yang masih bau kencur sering ikut rapat di rumah makan mewah dan tob, salah satunya di rumah makan yang seperti arsitektur padang di jalan antara lumajang jember itu, saya lupa namanya. Ada nama yang saya kenal dan dianggap tob saat rapat-rapat itu karena mungkin dia sebagai playmaker dari suksesi di KNPI tahun 1998an yang juga merupakan kader PMII, namanya sandy. Belaknagn saya juga tahu dia pemain dan orang tob dalam dunia pilkada di jember dan di PB PMII tentunya sebelum sekarang ini dari jember dan jawa timur. Saya juga sering ikut mas slamet turba melihat ancab-ancam atau komisariat IPNU di berbagai daerah di jember. Karena itulah saya jadi tahu jember ‘luar dalam’ akibat aktif di Pramuka dan IPNU ini. Ditambah lagi berteman dengan mas arifin menjadikan saya juga aktif di masjid baitul amin. Khsuusnya saat bulan Ramadan, tak jarang saying dapat makan gratis dan buka gratis serta sahur gratis karena main ke tempat mas arifin yang saat itu menjadi mahasiswa Universitas Islam Jember dan juga merangkap sebagai penggurusmajid baitul amin dan tinggal di gedung sebelah masjid yang di pisah jalan. Masyallah banyak cerita dan kenangan yang tak mungkin saya ungkap satu persatu di sini. Selain itu, dengan aktif di IPNU saya sudah kenal Gus Afthon, Gus Mamak yang setelah berdirinya PKB mereka inilah pengerak PKB di jember, karena mereka adalah durriyah mbah Siddiq, sang empunya jember. Namun karena politik belakangan banyak yang sudah tak aktif lagi di PKB bahkan karena ada kasus tertentu, gus mamak sempat jadi ketua DPRD jember dari PKB akhirnya berkonflik dnegan DPP dan dipecat yang akhirnya sekarang aktif di PPP. Gus Afthon, Gus Yus saya sudah kenal sejak zaman itu. Bahkan untuk gus yus, saya sering dengar pengajiannya dan ikut datang ke pesantren darusholah di tegal boto. Saya juga jadi ngerti dan paham Gus-Gus lain yang tak berpolitik di jember dan aktif di gerakan social NU dan Semaan Alqur’an Mantab pimpinan Gus Miek. Semoga para guru gus-gus tersebut senantiasa dalam rahmat dan lindungan Allah. Gara-gara aktif di IPNU ini pula saya kenal langsung pertama kali dengan sosok yang saya kagumi yang saat itu menjadi sekjen IPNU, mas Abdullah Azwar Anas. Saya ingat betul saat itu tahun masih menunjukkan awal 1998, sebelum tergulingnya Suharto dan puncak reformasi, masih proses pergerakan reformasi yang dilakukan oleh teman-tema mahasiswa di Jakarta dan dikota-kota besar di Indonesia. Saat itu mas anas datang dalam acara silaturahmi IPNU seluruh jawa timur yang digelar di pesantren alqodiri asuhan kiai muzakki. Saya baru kenal dan melihat langsung sosok yang selama ini kami dengar dalam ceritanya saat menjad pengurus komisariat imam bonjol, yang katanya sosok ganteng, cerdas dan hebat dalam pidatonya. Dan benar, ketika saya bertemu langsung dan mendengarkan pidatonya, saya sangat terkesan dan ingin menjadi sosok seperti dia. Karena selain ganteng, pinter dan cerdas juga bagus orasinya, meskipun orangnya kecil mungil. Iku kesan saya dulu ketika masih SMA. Dan subhanllah, setelah sama-sama dewasa dan gede, kami dipertemukan dnegan beliau yang sekarang menjadi bupati banyuwangi saat sama-sama di DPR. Beliau jadi anggota saya menajdi wartawan detik. Kami saling butu, dia butuh dimuat pernyataan dan statemnnya, dan saya butuh sumber berita. Tak jarang kami saling malan bersama dan duduk bersama serta diskusi bersama dengan sosok yang saya kagumi sejak SMA dulu. Ketika ada acara di pesantrennya kiai muzakki saat itu, kami juga punya kenangan manis dan tak akan terlupakan, sebab, pada saat itu menjelang reformasi, memnag ita sedang mengalami turbulaneis politik dan goncangan isu dnegan berbagai macama agenda. Salah satunya soal agenda yang entah siapa yang merancang, tapi bagi kami saat itu ini seperti terjadi begitu saja, ada katanya serangan ninja yang membunuhi para dukun santet dan para kiai. Meskipun isu atau tema yang disebar adalah memburu dukun santet, tapi faktanya para kiai yang menajdi sasaran pembunuhan. Kontan saja operasi ini membuat semua umat islam dan para santri bergerak dn gelisah. Karena itu bagi yang mengalami, pasti merasakan betul suasana saat itu. Kami berjaga siang malam di kediaman kiai agar tak di datangi ninja yang katanya bisa menajdi kucing. Sementara para dukun santet beneran ada yang emamng dibunuh diam-diam ada pula yang dihakimi massa rame-rema. Hokum seperti tak berjalan, dan semua operasi itu ndilalahnya dilakukan di jawa timur khususnya yang paling getol di tapal kuda, mulai dari banyuwangi, jember, bondowoso, situbondo, lumajang, probolinggo, pasuruan dan Madura. Saat dipesantrennya kia muzaakki itu, kami juga ikut gemrudak gemrudk lari paontang panting karena katanya ada ninja di sebalah belakang pesantren, laluada yang bilang di barat pesantren. Sementara ti yang lain menjaga di rumah sang kiai. Begitu juga saat kami tingal diasrama yang memang kebetulan bertetangga dengan pesantren miftahul ulum. Saat kami sedang di depan asrama malam-malam, tiba-tiba juga ada yang teriaka da ninja di pesantren sudah masuk ke kamarnya kiai lewat gentng. Dan kamipun lari, ada yang bawa kayu, celurit pedang dan sebagainya. Sebelum kami masuk, katanya ninjanya sudah pergi melompak ke kebun yang memang saat itu ada tanah kosong di seblah rumah kiai yang ditamani gedang, pohon pisang dan lainnya. Sementara sebelah selatan pesnren masih ada kuburan yang pas di sebelah MAN I Jember. Dan setelah itu ada yang teriak, ninjanya jadi kucing. Dan kami seperti orang gila menyusuri kebun dan memang ada kucing agak besar. Dan kami tangkaplah kucing itu dan lalu kami jiret bagai menjiret manusia. Karena kami yakin, ini manusia ninja yang jadi kucing sudah kami tangkap. Setelah sampai di jalan aspal yang memisahkan asrama kami dengan peantren, kami hajar kucing itu rame-reme dan akhirnya kami bakar, sebab kalau dibakar katanya konon bisa kembali menajdi manusia. Ternyata smpaiakhirnya, tak kembali jadi manusia dan tetap jadi kucing. Sungguh suasana yang tak terkendali dan terkontrol dari emosi amsaa yang diciptakan dari sebuah oprasi pengacaauan warga akibat Suharto mau dilengserkan. Suasana seperti ini terus kami alamai hingga akir-akhir kami sekoah di jember dan selesai tahun 1999 bulan juli setelah Suharto turun. Yang pastikasus ninja ini menajdi pintu masuk anak bau kencur seperti saya mulai memahami peta dan politik nasional yang diterejemhkan oleh orang local. Itulah kenangan indah dan dahsyat yang belum tentu semua orang mengalaminya dan menjiwainya. Selain aktif di IPNU, saya juga tergelincir dalam komunitas para gus dalam dunia bahsul masalail kitab-kitab klasik ala NU. Ini semua tentu karena IPNU. Awalnya kami menggelar acara IPNU di Kantor NU, kami mengundang pembicara yang kebetulan aktivis kelompok ini, ma aziz atau siapa, saya lupa, dia lulusan S2 IAIN arraniry aceh tapi orang jember dan juga dosen di IAIN Jember. Setelah acara itu, kami saling kontak dan sering diajak untuk ikut bahsul masail yang berpindah-pidanh pesantren. Tentu kapasitas saya saat itu bukan pembanding dan pembicara utama, tapi sekedera lihat dan dengarkan saja di komunitas terbatas dan seru itu. Namun, karena saya anak MAK atau MAPK yang dianggap sudah bisa baca kitab, tetap saya dikasih waktu dan jadwal membahas masalah atau bertanya atau mengutarakan pendapat. Dari sinilah saya belajar dan tahu tradisi bahsul masail yang luar biasa jeli dan teliti sebelum beristimbath kepada marojik yanga da. Untuk menutupi kelemahanku yang memang saat itu masih bodoh, meskpiun saya sudah belajar inbu aqil di pesantern walisongo saat di MTs dulu, saya ajak kawanku yang lebih hebat dalam membaca kita dan bahas arab naman ali effendi. Maka denga ali inilah kami serng runtang runtung ikut acara bahsul masalail dan berkeliling ke pesantren2 di jember ikut acara bahsul masail. Termasuk ditambah juga ikut pengajian di habib kaliwates bersama mas ferdian dan mantab seaman quran bersama mas fer dan lainnya. Sungguh kenangan yang luar biasa dan dahsyat dalam proses pembelajaran kami selama di Aliyah ini.

Komentar

Tampilkan

Terkini

Followers

+