1 MUHARRAM BERSAMA KIAI MUZAKKI SYAH

Minggu, 27 November 2016, November 27, 2016 WIB Last Updated 2021-08-10T23:13:20Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini


                                MALAM SATU MUHARRAM BERSAMA KIAI MUZAKKI
                                                          Oleh: Fikri Farikhin,M.Pd.I



Aku tinggal di English camp, diberi amanah untuk menemani anak-anak English Camp untuk belajar bahasa Inggris sejak 2006 silam. Setelah lima tahun, aku di pindah tugaskan untuk menemani anak-anak tingkat TK dan SD, di Ma’hadul Athfal Al-Qodiri selama kurang lebih satu tahun, tapi masih separuh dari hidupKU, juga masih menemani anak English Camp. Setelah satu tahun berlalu, aku harus kembali ke English camp, sebab my best friend, Mr Jefi Hermawan meminta dengan sangat padaku untuk menemaninya. Dan akhirnya aku pun kembali ke English camp.
Namun takdir berkata lain, setelah sebulan tinggal di English camp, aku di panggil oleh dewan pengurus pesantren yang intinya aku harus pindah lagi dan diberi tugas lebih luas lagi, dan lagi-lagi separuh hidup saya masih diizinkan untuk menemani anak-anak English camp. Tepat tahun 2012 aku pindah ke Dewan Pengurus pesantren. Dalam hati tak ada rasa senang sama sekali. Sebab, sudah pasti di tempat yang baru, nantinya tugas besar sedang menunggu. Dan pastinya kehidupanku untuk menemani anak-anak English camp pasti berkurang dari sebelumnya. Dan memang itulah yang aku rasakan hingga detik ini, tulisan ini dimuat.
Tahun 2013, adalah masa Reformasi kepengurusan pesantren, sehingga diadakanlah pemilihan umum untuk mencari Ketua Pengurus pesantren yang baru. Singkat cerita, yang sebelumnya Tampuk Pemerintahannya di berikan kepada Ust. Abdul Aziz, S.Pd.I, ketika pemilihan umum ini, hasil dari pemilihan ini diambil oleh Ust. Abu Amar, S.Pd.I. Dengan hasil pemilihan ini, hati ku sangat puas, sebab pemilihan ini bukan langsung dipilih oleh pihak-pihak tertentu, namun pemilihan ini dengan melibatkan seluruh santri.
Setelah pemilihan umum usai, Ketua baru mencanangkan program-program yang tujuannya hanya satu, program yang belum ada diadakan, dan yang sudah ada, diperbaiki agar programnya menjadi lebih baik. Dan yang sudah baik, bagaimana bisa lebih baik lagi kualitasnya. Sempat beberapa kali aku bertukar pendapat dengan Pak ketua, tapi bukan tukar pendapatan, hehehe, yaitu tentang program-program yang akan dijalankan. Aku masih ingat, suatu malam aku dan pak ketua ngobrol ngalor-ngidul tentang pesanten hingga jam dua pagi. Masih aku ingat betul itu.
Namun, ternyata takdir berkata lain. Memang benar adanya, Man proposes, God disposes, Manusia hanya bisa merencanakan, tapi tetap tuhanlah yang akan menetukan, begitu juga kami. Pak ketua kami, yang kami anggap akan bisa membawa kami untuk mengembaN amanah dari kiai, ternyata harus berangkat ke Arab Saudi untuk meneruskan studinya. Dan hal itu tak bisa dibatalkan karena suatu sebab. Yang akhirnya beliau harus berangkat. Yang akhirnya muncullah vacuum of power, kekosongan kekuasaan.
Singkat cerita, kami harus punya inisiatif untuk memilih ketua baru dan rasanya tidak mungkin, sebab, kurang lebih tiga bulan sebelumnya kami mengadakan pemilihan umum, apa kata dunia kalo setelah ini melakukan pemilihan lagi. Namun bagaimanapun juga, harus ada ketua. Berdasarkan pendapat Imam Al-Ghazali dalam kitabnya mengatakan, “Lebih baik mempunyai seorang pemimpin yang dzalim selam enam puluh tahun, daripada adanya kekosongan kekuasaan (vacuum of power) selama satu malam”. Yang akhirnya menguatkan kami untuk segera mengambil tindakan. Akhirnya kami mengambil kesimpulan untuk mengadakan rapat dadakan guna membahas pencarian pemimpin yang baru. Namun rapat ini ternyata membawa beban besar ke aku. Sebab akhirnya yang terpilih menjadi ketuanya aku. Ketika itu juga keringat dinginpun bercucuran. Disatu sisi, aku bisa khidmah kepada kiai lebih besar lagi, namun disisi yang lain, jika aku tak bisa amanah, ini adalah celaka yang besar. Aku bagaikan memakan buah simalakama.
Ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur, daripada diratapi namun tetap tak mungkin kembali, lebih baik aku campur bubur ini dengan ayam dan atau daging agar rasanya enak.
Bismillahihrrahmanirrohim. Ya Allah berikanlah kami kemudahan untuk mengemban amanah ini. Aku yakin aku bisa, karena Allah pasti tak akan memberikan ujian pada hambanya/ tugas  pada hambanya melebihi kapasitas dirinya.
Aku pun menghubungi mas dan mbaku yang ada di desaku. Juga aku menghubungi emak dan abah. Dan mereka semua, intinya mengharapkanku untuk mundur dari tampuk kekuasaan ini. Dikarenakan, takutnya aku tak bisa amanah, sebab jika amanah tak dilakukan maka barakah pun hilang. Amanah itu memang berat. Ada yang mengatakan, “amanah itu ibarat keperawanan, sekali hilang, ia takkan bisa kembali lagi”.
Setelah aku haturkan kepada emak, abah , mbak dan masku di desa, semuanya sama pertanyaannya, kurang lebih seperti ini,
                “sampen dadi ketua pengin apa tidak?”
                “tidak” jawabku
                “serius?”
                “ia serius!”
                “begini lo, jadi pemimpin itu bukan untuk bangga-banggaan, atau untuk merasa berkuasa, tapi itu semua adalah amanah. Kullukum ro’in wakullukum mas’ulun ‘an ro’iyyatihi, setiap dari kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpian akan ditanyai tentang kepemimpinannya. Jadi kalo memang sampean itu ada rasa senang karena dipilih, detik ini juga mundurlah, tapi jika memang tida ada dalam lubuk hati rasa senang untuk dipilih, teruskan, karena insyaallah, Allah akan membantu. Begini lee, yang punya pesantren itu kan kiai, jadi...., yang tahu persis keinginan akan dijadikan seperti apa pesantren itu, ya kiai itu sendiri. Jadi sekarang sampean harus segera matur kiai, bilang saja , “Kiai, Apa yang harus saya lakukan untuk pesantren ini, karena sekarang saya yang terpilih menjadi ketuanya.”
Dan akhirnya keesokan harinya, setelah shalat dzuhur, aku ke kiai sendiri dan matur seperti yang ajarkan oleh keluaga saya kamarin. Dan inilah yang sekali lagi aku bangga dan cinta sekali pada beliau. Karena beliau benar-benar arif dan bijaksana. Dawuh beliau luar biasa. Sangat sangat luar biasa. Yang jawaban dari beliau ini benar-benar tak terlintas dalam benaku. Hmmmmm....
Dawuh beliau begini,” yo wes leeee, sesok bengi bar ngisa’ lee yoo, ja’en konco-konco pengurus kabeh rene.” (ya sudah anakku, besok malam setelah isya’ , ajak teman-teman pengurus semua kesini”
                “Inggih kiai” jawabku.
Akhirnya besok malamnya, tepat tanggal 13 oktober 2015, bertepatan dengan malam tahun baru Islam, kami semua dari dewan pengurus ke ndalem kiai setelah Isya’.
Akhirnya kami menunggu kurang lebih satu jam. Aku sudah berfikir negatif, waduhhh, jangan-jangan kami tak kan ditemui. Namun dugaanku meleset. Setalah itu kiai keluar dengan pakaian serba putih dengan minyak wangi yang khas. Dengan jubah putih, tapi dengan sorban hijah bercampur putih dengan ornamen keemasan. “pasti harganya mahal” gumamku.
Beliau langsung duduk dan memanggil kami.
“Ayo semuanya ke depan, sini-sini semuanya”
Inilah isi dari dawuh beliau.
                “dulu ada seorang sahabat nabi datang untuk menerima nasihat, begini ceritanya, Yaa Rasulallah, Ayyul A’mali ahabbu ilallahi? Qoola, alallahu asshalatu ‘ala waqtiha, astsani birrul walidain astsalitsu aljihadu fii sabilillahi, artinya, wahari Rasulullah, apalan apa yang paling dicintai oleh Allah, :
Shalawat tepat pada waktunya,
Berbuat baik kepada kedua orangtua,
Berjuang di jalan Allah.
Dadi pengurus kuwi, ora usah kakeyen peraturan. Santri kuwi maneni lek kon mekgor gawe peraturan tapi kon ra tau menehi contoh seng apik.  Wes ora usah okeh-okeh, shalato berjama’ah, mengko santri mesti nurut neng kon kabeh. Yo wes ngono wae, kiai kate pengajian.”
Dan setelah itu, kiai berdoa kami disuruh kembali ke pengurus.
Dalam perjalan kembali ke kamar, aku menangis, meneteskan air mata. Betapa indah dan sederhana dawuh kiai. Saya kira, nantinya pengurus akan diberikan tugas macam-macam ini dan itu. Tak dinyana. Ternyata hanya sesimpel itu dawuh beliau. Memang hal itu simpel, namun sebenarnya sarat dengan isi.
Begitulah pengalaman kami dengan kiai muzakki ketika malam tahun baru Islam.  Semoga kami tetap bisa memegang dawuh kiai ini dengan baik. Amin. Mohon doanya kepada pembaca sekalian.
Aku bangga bisa menjadi santri beliau, bagaimana dengan anda?

Jember, kantor pengurus, 27 November 2016  
Komentar

Tampilkan

Terkini

Followers

+