MENELISIK RIWAYAT PENDIDIKAN DAN SILSILAH KYAI MUZAKKI

Minggu, 06 November 2016, November 06, 2016 WIB Last Updated 2021-08-10T23:13:22Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini


MENELISIK RIWAYAT PENDIDIKAN DAN SILSILAH KYAI MUZAKKI
Dalam suasana lingkungan keluarga yang harmonis dan agamis seperti yang telah digambarkan di atas, Muzakki dan adiknya tumbuh dewasa. Selain itu, sebagai keluarga yang sangat sadar akan pentingnya pendidikan, KH. Achmad Syaha tidak ingin kedua putranya ketinggalan, maka ketika usia Muzakki menginjak 7 tahun, ia didaftarkan di SDN Kedemangan.
Begitu tamat SD, Muzakki di kirim ke Ponorogo untuk nyantri di Gontor, setelah setahun di Gontor, Muzakki pulang dan Iangsung mendaftarkan diri di Madrasah Tsanawiyah 02 Jember yang saat itu gedungnya masih numpang di PGAN Jember. Setelah tamat, Muzakki lagi-lagi ingin menimba ilmu di pesantren, kali ini yang dipilihnya adalah pesantren Darul Ulum Peterongan-Jombang, baru setahun berguru ke KH. Mus¬tain Romli di Peterongan, Muzakki pulang lagi ke Jember dan Iangsung mondok di pesantren al-Fattah Jember, berguru pada KH. Dhofir Salam sambil sekolah di SP IAIN dan melanjutkan kuliah di IAIN Sunan Ampel Jember.
Di pondok pesantren, Muzakki remaja hanya bermaksud mengambil barokah karenanya ia tidak pernah lama, sebagian besar waktunya justru digunakan untuk berkelana ke sana kemari sowan ke para ulama sepuh, para wali, dan ahli-ahli karomah, ketika di al-Fattah pun, dia bersama KH. Dhofir, justru setiap minggu sowan ke waliyulloh KH. Abd Hamid Pa-suruan Jawa Timur.
Pernah suatu ketika Muzakki terpesona menyaksikan aktivitas dzikir ratusan jamaah tarekat Naqsabandiyah di pesantren Darul Ulum Peterongan, lalu dia minta izin pada abahnya untuk ikut tarekat Naqsabandiyah pimpinan KH. Mustain Romli tersebut, namun niat Muzakki tak kesampaian, abahnya tidak mengijinkannya, ketahuilah anakku kata abahnya, ikut tarekat seperti itu lama untuk mencapai maqom kewalian, ada yang lebih mudah dan cepat, yakni meniru tarekatnya para ulama dan auliya' Madura. Sejak nyantri di Pesantren al-Fattah, Muzakki remaja tidak lagi berkumpul dengan kedua orang tuanya, sebab sejak itu KH. Achmad Syaha bersama istri dan putra bungsunya (Mahsun) hijrah dari Kedawung ke daerah Gebang Poreng, sementara Muzakki tetap tinggal bersama Nyai Hj. Syadali (neneknya) dan KH. Yazid (pamannya) di Kedawung, sejak kepergian KH. Achmad Syaha, musholla peninggalan KH. Syadali diserahkan kepada KH. Yazid. Setelah beberapa tahun memperluas syiar Islam di Gebang Poreng, mereka hijrah lagi dan menetap sampai akhir hayatnya di daerah asalnya Pengarang-Bondowoso. Menurut keterangan Pak Mus, salah seorang teman yang masih tetangga KH. Achmad Syaha di Gebang Poreng, beberapa bulan sebelum KH. Achmad Syaha hijrah ke Bondowoso, beliau sempat bilang ke saya "Mus.. torain yah, mon sengkok tak kerah japo', tapeh ba’na mesteh japo', tang anak (Muzakki) paggik bekal deddih oreng rajeh, se ekabuto ummat deri man dimman" (Pak Mus.. catat ya, kalau saya tidak mungkin nututi, tapi kamu pasti nututi, anak saya (Muzakki) nanti akan jadi tokoh besar yang dibutuhkan umat dari mana-mana).
AIi bin Abi Tholib karramahul wajhah menyebutkan "pemuda yang handal adalah mereka yang berani mengatakan inilah aku, bukan yang mengatakan aku anak fulan cucu si fulan". Pandangan tersebut relevan dengan tuntunan al-Qur’an yang menegaskan bahwa sesungguhnya posisi yang paling mulia di antara manusia di sisi Allah adalah yang paling taqwa di antara mereka. Karena itu kepada anak cucunya, para santrinya dan para jamaahnya, Kyai Muzakki sering memberikan tausiah atau qoul hikmah bahwa"Assyarofu laa binnasab walakin bitta’ab” kemuliaan seseorang itu bukan karena nasabnya, tetapi karena jerih payah usahanya sendiri", maka jangan andalkan nasab dan silsilah tapi andalkanlah dirinya sendiri. Bagi Kyai Muzakki kemulyaan dan eksistensi seseorang bukan ditentukan oleh orang lain, juga bukan karena faktor keturunan, genetik, jabatan, kekayaan atau pelbagai simbol dhahiriyah lainnya, melainkan lebih ditentukan oleh prestasi, kompetensi, track record dan kredibilitas serta ketaqwaan dirinya sendiri kepada Allah swt, dalam konteks inilah kiranya difahami pernyataan yang sering disampaikan Kyai Muzakki "kalah wirid kalah, menang wirid menang".
Namun demikian, bagaimanapun silsilah tetap memiliki makna penting bukan pada pengertiannya yang menunjuk pada "aku anak siapa", melainkan pada esensi dari "aku" yang memancarkan sebuah peran dan manfaat dalam kehidupan nyata, maka istilah "buah itu tidak akan jatuh jauh dari pohonnya" atau "liyakun waladul asadi syiblan laa hirratan" (anak singa seharusnya singa bukan kucing) harus difahami sebagai motivasi yang dapat memacu dirinya untuk berprestasi lebih baik dari nenek moyang mereka sebelumnya.
Penulisan silsilah Kyai Muzakki di sini dimaksudkan untuk melihat bagaimana para luluhurnya memberikan nuansa lingkungan pada beliau sejak dalam kandungan, masa kanak kanak, masa remaja hingga pada masa dewasa, termasuk juga untuk melihat berbagai i'tibar positif yang dapat diteladani oleh generasi berikutnya.
Setiap orang tua pasti mendambakan dzurriyahnya hidup sukses, karena itu berbagai hal dilakukan oleh orang tua untuk mendesain agar para dzurriyahnya kelak dapat mencapai kesuksesan hidup yang gemilang, dalam Islam atensi terhadap nasib anak tidak hanya dimulai pasca kelahiran anak, tetapi jauh sebelumnya, ketika kedua orang tuanya akan menikah orientasi ke arah tersebut sesungguhnya telah dimulai.
Teks-teks suci yang mengajarkan -misalnya- agar seseorang berhati-hati memilih pasangan, karena anak yang lahir darinya akan mewarisi watak, juga ajaran tentang tata cara, akhlaq dan doa-doa yang harus dilakukan suami istri sebelum dan sesudah melakukan hubungan intim, ketika istri hamil, bahkan saat sang bayi lahir, adalah seperangkat bukti betapa orang tua sangat menentukan hitam putih atau sukses tidaknya sang anak dikemudian hari.
Terdapat beberapa kiat yang dilakukan leluhur Kyai Muzakki untuk tujuan diatas, antara lain:
Pertama, memberikan keteladanan yang baik. Kedua, melibatkan anak cucu mereka dalam doa-doa yang spiritual dan inspirasional, seperti halnya nabi Ibrahim as, yang mengikutsertakan keturunannya dalam pelbagai doa-doanya:
Ya Tuhanku jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikam sholat" (Qs. 14 : 40) Ya Tuhanku jadikanlah Negeri ini Negeri yang aman sentosa dan jauhkan aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala berhala (Qs. 14 : 35). Sesungguhnya Aku (Allah) akan menjadikanmu (Ibrahim) Imam bagi seluruh manusia. Ibrahim berkata (dan aku mohon juga) dari keturunanku. ( Qs. 2 : 124).
Ke-tiga, menceritakan kisah-kisah agung pada anak cucu, sebab hakekat manusia adalah mahluk yang gemar bercerita dan hidup berdasarkan cerita yang dipercayainya, para nabi mengajar umatnya dengan berbagai cerita dan perumpamaan, Al-Qur’an sendiri sebagian isinya berbentuk cerita dan kisah.
Para Sufi seperti al-Attar, Rumi dan Sa'di mengajarkan kearifan perennial dengan cerita, para Kyai sepuh dulu senang berdiskusi dengan putra-putrinya atau santrinya dengan pendekatan cerita, tidak saja kisah Islam, tapi juga kisah-kisah dalam injil, kisah dari Cina, India, mitologi Yunani, kisah pewayangan, sampai cerita Crayon Sinchan.
Ke-empat, mendiskusikan berbagai persoalan dan penderitaan dengan perspektif ruhaniyah, yakni memberikan makna terhadap semua kejadian dengan merujuk pada rencana agung ilahi (The divine Grand design), bahwa setiap kejadian yang menimpa manusia adalah implementasi dari kehendak Tuhan, dan setiap kehendak Tuhan pasti yang terbaik, sebab Tuhan sumber kebaikan.
Ke-lima, membawa anak cucu menikmati keindahan alam, dan ke-enam, membawa anak cucu berkunjung ke tempat orang-orang menderita dengan maksud melatih kepekaan emosi spiritual. Serta yang ke-tujuh, melibatkan anak cucu dalam membaca kitab suci dan kegiatan ritual keagamaan lainnya sebagai cara praktis untuk "tune in" anak dari pengalaman fisikal material ke pengalaman spiritual.
Maka sekali lagi penulisan, silsilah Kyai Muzakki ini hanya dimaksudkan untuk melihat dimensi-dimensi seperti di atas, bahwa kemudian dalam penelusuran silsilah Kyai Muzakki ditemukan memiliki titik ordinat dengan masyayih dan habaib yang terus bersambung pada Rasululloh saw, sesungguhnya hanyalah sebuah kebetulan belaka, yang pasti, Kyai Muzakki terbukti nyata memiliki talenta spiritual yang dapat dijadikan acuan oleh banyak orang untuk berkaca diri.
Dari berbagai data, ditemukan bahwa Kyai Muzakki mempunyai silsilah yang bersambung hingga kepada Rasulullah Saw, rinciannya adalah sebagai berikut : Achmad Muzakki syah adalah putra Ny. Juma'ati (Hj. Fatimatuzzahra) binti KH. Syadali bin KH. Moh. Arief bin K. Durrin bin K. Moh. Toyyib bin K. Abd Latief bin KH. Asy'ary bin KH. Moh Adzro'i bin KH. Yusuf bin Sayyid Abd. Rahman (Mbah Sambu) bin Sayyid Moh. Hasyim bin Sayyid Abd. Rahman Basaiban bin Sayyid Abdulloh bin sayyid Umar bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Ahmad bin Sayyid Abu Bakar Basyaiban bin Sayyid Moh. Asadullah bin Sayyid Hasan at-Turabi bin Sayyid Ali bin Sayyid Moh. al-Faqih al-Muqaddam bin Sayyid Ali bin Sayyid Moh. Sahibul Marbat bin Sayyid Ali Qoli Qasam bin Sayyid Alwi bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Alwi bin Sayyid Ubaidillah bin Sayyid Ahmad al-Muhajir bin Sayyid Isa an-Naqib bin Sayyid Moh. an-Naqib bin Sayyid Ali al-Uraidi bin Sayyid Ja'far Shodiq bin Sayyid Moh. al-Baqir bin Sayyid Zainal Abidin bin Husien asy-Syahid, putra Sayyidah Fatimah az-Zahra al-Batul binti baginda nabi besar Muhammad saw.
Komentar

Tampilkan

Terkini

Followers

+