SANG MOTIVATOR

Sabtu, 26 November 2016, November 26, 2016 WIB Last Updated 2021-08-10T23:13:20Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini
                                                        SANG MOTIVATOR
                                                               Oleh: Fikri Farikhin,M.Pd.I
 
Beberapa bulan yang lalu, ada dua teman saya dari pengurus putra Al-Qodiri, Cak hamid dan cak alwi, mereka berdua berkeinginan mengembangkan pembelajaran baca kitab di Al-Qodiri dengan metode Amstilati. Keduanya bilang ke saya,
“Mr, kita ingin ke kiai, matur tentang pembelajaran Baca Kitab dengan metode Amstilati ke kiai, intinya kita ingin minta izin. “
Lalu saya jawab, “ya silahkan, saya yakin pasti kiai mendukung, karena itulah pengalaman saya, kiai tidak pernah menolak, jika hal itu ada hubungannnya dengan kemajuan pendidikan pesantren.
Lalu keesokan harinya, mereka berdua pergi matur ke kiai,
“apa cong, matur2!” dawuh kiai.
“Kiai, kami dari pengurus putra, ingin mengembangkan pendidikan baca kitab di Al-Qodiri dengan metode Amstilati, kemarin MTs Al-Qodiri sudah, dan sekarang akan kami berikan materi ini di dua wilayah yang baru, Kiai” kata cak alwi.
Dawuh kiai yang membuat saya terkesan adalah, ternyata kiai tidak hanya mendukung, misalnya seperti ini, “ia cong, bagus itu, saya dukung”. Ternyata dawuh kiai tidak hanya seperti itu,
Beliau dawuh begini, “wahhh, bagus itu, bagus leeee.... teruskan, saya senang sekali. Teruskan semoga barakah. Berapa jumlah santri yang akan diajari kitab Amtsilati ini? Hari ini juga, uangnya saya siapkan untuk beli kitab Amstilati. Saya yang nanggung semuanya. Saya senang kalo ada pengembangan pendidikan di pesantren kita ini.
Dawuh kiai inilah yang ketika saya mendengar cerita ini, saya langsung meneteskan air mata. Betapa kiai benar-benar peduli tentang pendidikan. Selama ini, saya tidak pernah kiai merasa kecil hati tentang perkembangan pendidikan di Al-Qodiri, dan juga beliau selalu mendukung atas program-program yang telah kami rencanakan. Luar biasa kiai. Bahkan hingga ditik ini ,ketika cerita ini saya tulis, saya meneteskan air mata. Betapa bangganya saya mempunyai kiai seperti beliau. Semoga beliau diberikan panjang umur.
Bukan uang yang sedikit yang akan dikeluarkan kiai untuk beli kitab ini, karena kurang lebih delapan puluh santri, dan per satu paket kitab, kurang lebih 150 ribu rupiah. Ini bukan uang yang sedikit. Dan kiai dengan mudahnya mengatakan, berapa uang yang harus saya keluarkan. Akan saya bayar semua. Dawuh beliau. Luar biasa.
Tentang pendidikan beliau tidak pernah eman2 dengan mengeluarkan uang. Bahkan beberapa tahun lalu, seorang guru Amstilati dari Bondowoso, yang telah mengajar Amstilati di pesantren Al-Qodiri, karena melihat hasil dari santri-santri yang telah belajar kitab Amstilati yang memuaskan hati kiai, beliau dawuh pada waktu acara tersebut, “Ustad yang menjari santri-santri Amstilati ini, saya sangat bangga, saya senang dengan hasil yang telah dicapai santri-santri, untuk itu, saya akan ajak beliau Umroh, semua biayanya saya tanggung.”
Semoga kita bisa meniru kiai, minimal kita bisa meniru semangat beliau dalam pendidikan. Semoga manfaat barakah. Amin.
Komentar

Tampilkan

Terkini

Followers

+