MERANCANG AL-QODIRI MASA DEPAN [PART 1]

Jumat, 07 September 2018, September 07, 2018 WIB Last Updated 2021-08-10T23:12:17Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini


Oleh : 
Abu Tholib
[Alumnus PP Al-Qodiri 1 Jember & Pendiri dan direktur English Camp of Al-Qodiri Cabang 3]

MERANCANG AL-QODIRI MASA DEPAN [PART 1]
(Sebuah gagasan dari Alumni Al-Qodiri, mudah-mudahan menjadi pijakan dalam memutuskan Kebijakan Al-Qodiri di masa depan)

Masa lalu, masa kini dan masa depan merupakan hal yang mutlak yang akan terjadi. Dan sebaik-baiknya manusia, yakni yang mampu mempersiapkan masa depannya dengan sebaik mungkin. Itu pun sama dengan sebuah instansi, dalam hal ini Pondok Pesantren. Para pemikir dan pemangku kebijakan sebaiknya memiliki pandangan jauh untuk membawa pondok pesantren menjadi garda terdepan dan terbaik dalam mencetak insan-insan yang berkualitas.
            Disini, saya sebagai Alumni Al-Qodiri, mencoba untuk memikirkan Al-Qodiri masa depan. Dalam hal ini saya mengusulkan sistem di pondok pesantren Al-Qodiri seharusnya memiliki prioritas dalam pembangunan manusia. Prioritas apa yang saya usulkan yakni Semua santri mampu menghafal dan mengaplikasikan Manaqib Syah Abdul Qodir Jaelani.
            Hal tersebut seperti di pondok pesantren Sidogiri, lulusannya mampu membaca kitab kuning, dan di ITS ditonjolkan teknologi yang ia hasilkan, dan di Universitas Jember yakni dalam hal pertanian atau tembakau. Sehingga instansi ini memprioritaskan penelitian, pengajaran, dan pengabdian pada masyarakat pada bidang yang ia prioritaskan.
            Dalam hukum Pareto, 80/20. Artinya apa yang kita lakukan 20% menentukan hasil hingga 80%. Dalam hal ini pekerjaan penting dalam sebuah instansi akan menentukan hasil sampai 80%. Dan dalam buku One thing foccus, kita diupayakan untuk memecah 20% menjadi 1% yang harus kita fokuskan. Semakin kita fokus pada satu hal, maka ini akan menjadi momentum dalam mencapai mahakarya manusia.
            Al-Qodiri terkenal di masyarakat luas, karena Baroqah dari Manaqib Syah Abdul Qodir Jaelani, seharusnya menjadi prioritas dalam mencetak santri yang mampu menghafal dan mengaplikasikan Manaqib. Maka prioritas ini, akan menjadi sebuah ke-khasan dari sebuah instansi. Karena jika kita mengingat sebuah instansi, maka kita akan mengingat sebuah lulusannya. Misalnya, jika kita memondokan Al-Qodiri maka nantinya anak kita mampu menghafal dan mengaplikasikan Manaqib syah Abdul Qodir setiap harinya.

Komentar

Tampilkan

Terkini

Followers

+