SUDAH BERSYUKUR-KAH HARI INI?

Senin, 01 Oktober 2018, Oktober 01, 2018 WIB Last Updated 2021-08-10T23:12:12Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

Oleh : 
Abu Tholib
[Alumnus PP Al-Qodiri 1 Jember & Pendiri dan direktur English Camp of Al-Qodiri Cabang 3]
(Kesan Penulis ketika berpapasan dengan Mahasiswa a-normal)
Sudah bersyukur-kah hari ini? judul ini terinpirasi dari pengalaman penulis ketika berpapasan dengan mahasiswa kurang normal. Pada waktu itu, setelah saya menyelesaikan sholat Magrib berjama’ah di Masjid Al-Hikmah Universitas Jember. Kemudian, saya berjalan sendiri menuju perpustakaan untuk menulis blog. Ketika melewati jalan menuju Rektorat yang cukup gelap. Saya merasa takjub ketika berpapasan dengan mahasiswa kurang normal, karena bagi-ku ia begitu energik dan semangat melangkah-kan kakinya untuk meraih masa depan yang lebih baik meskipun ia memiliki keterbatasan fisik.
            Rasa salut saya sebagai penulis, karena begitu banyak orang-orang yang berfisik normal, namun ia tidak bahagia, ia tak bersyukur atas kesempurnaan fisik yang Allah berikan kepada-nya. Ketika saya mengaitkan kesan saya kepada dia, saya terpikirkan dengan Nick Vujinic, seorang motivator dunia asal Australia yang tak memiliki dua lengan dan dua kaki, namun ia mampu menaklukan dunia. Nick Vujinic sebenarnya merasa frustasi dengan keadaan fsiknya. dan tak pernah terpikirkan untuk mampu menaklukan dunia melalui pesan-pesan semangatnya. Namun, karena ia dibesarkan dalam sebuah lingkungan yang menghargai keterbatasannya, dan sangat peduli kepadanya. Membuat ia menjadi merasa berarti bagi dirinya, yang akhirnya mempengaruhi hubungan ia dengan dunia di luar dirinya.
            Memang, keterbatasan fisik merupakan hal yang menakutkan bagi semua orang yang cacat. Cacat dalam persepsi mereka, tidak bisa melakukan apapun yang ia mau, namun nyatanya banyak orang hebat, sukses memiliki pandangan yang berbeda dalam memamdang keterbatasannya. Ia memandang keterbatasan itu sebagai kelebihannya yang tak dimiliki oleh orang lain.  Seperti yang disampaikan oleh aktor film dunia Arnold Schwarzenegers, Torminator. Ketika ia mempercayai kemampuan dirinya, bahwa ia bisa menjadi pemain besar di film Holyword, ia pun menjadi aktor yang ia inginkan. Ketika waktu itu, begitu banyak orang yang tak mempercayai dirinya, karena ia berlogat jerman. Namun ia membuktikannya bahwa ia berhasil.
            Keterbatasan itu hal yang mutlak yang dimiliki oleh semua manusia, namun yang membedakan antara orang hebat dan orang lemah yani cara menyikapinya. Bagaimana ia menyikapi kelemahan menjadi kelebihan yang tak dimiliki oleh orang lain. Jadi, syukurilah apapun yang kita punya, dengan terus meningkatkan kualitas diri kita.

Komentar

Tampilkan

Terkini

Followers

+